Lihat ke Halaman Asli

Desy Pangapuli

Be grateful and cheerful

Masih Adakah Pramuka?

Diperbarui: 15 Agustus 2020   05:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi: https://www.idntimes.com

Pramuka atau Praja Muda Karana, itulah kenanganku. Iya, dulu aku ini Pramuka. Jangan ditanya betapa bangganya aku. Bahkan rasa bangga itu masih terus ada hingga kini, dan penulis tularkan kepada kedua anak penulis. Maaf, izinkan penulis membagi kebanggaan itu. Tepatnya sih mau pamer boleh dong sekali-sekali. Heheh...

Memilih ekstrakulikuler (ekskul) Pramuka sewaktu penulis di jenjang Sekolah Menengah Atas. Ketika itu sih pilihan ekskul Pramuka dianggap seru karena seperti berpetualang. Meski sebagian teman-teman penulis ada juga yang berpendapat Pramuka itu identik dengan organisasi. Ehhmmm.. kurang asyik ketimbang band kata mereka.

Berbangga sedikit, penulis ketika itu menjabat sebagai Bendahara Provinsi loh. Sedangkan tingkat Kepramukaan penulis sudah Bantara, dan Saka Wana Bakti menjadi pilihan penulis. Hehhe..  penasaran apa itu Saka Wana Bakti? Singkatnya, Saka Wana Bakti itu menekankan kepada pengenalan hutan atau lingkungan hidup.

Itu sebabnya penulis sering kali napak tilas, menyebrangi sungai baik dengan perahu ataupun tali yang dibentangkan, dan juga bermandi lumpur. Heheh.. seru khan? Tetapi, dari semua itu apa sih yang didapat dari Pramuka?

Pengakuan jujur penulis, Pramuka mengajarkan banyak hal tentang kemandirian, disiplin, setia kawan dan pastinya rasa kebangsaan terhadap negeri ini.

Ingat banget ketika kami harus membangun kemah bersama, menanak nasi diatas tumpukan kayu dan mandi koboi karena harus mengejar apel pagi. Kesel sudah pasti, tapi itu dulu. Kini semua itu justru menjadi kerinduan. Bukan sekedar rindu saja, tetapi telah mengubah karakter menjadi tangguh.

Lalu kemana Pramuka kini?

Menyedihkannya Pramuka tidak lagi diminati oleh anak-anak zaman now. Jangankan anaknya, orang tuanya pun seperti musuh bebuyutan dengan Pramuka. Meski bukan lagi menjadi ekskul pilihan, Pramuka kini menjadi ekskul wajib.

Tujuannya tidak lain untuk menanamkan rasa bangga bertanah air, dan pastinya kemandirian serta gotong royong. Aslinya sih tidak hanya itu, karena di Pramuka kita juga merasakan kebersamaan. Kita bisa bermain, bernyanyi dan tertawa bersama seperti saudara sendiri saja layaknya.

Mirisnya, teman-teman penulis sendiri keberatan anaknya ikutan Pramuka.  Menurut mereka nggak penting, karena dijemur dan bikin kulit gosong! Apalagi ketika Perjusa (Perkemahan Jumat Sabtu) yang diselenggarakan di sekolah.

Wuih... jangan tanya berisiknya mereka, ketakutan anaknya tidak makan, dan masuk angin karena tidur di lantai sekolah.  Heheh...padahal tidurnya di ruangan kelas, sedangkan penulis dulu tidurnya di dalam kemah yang kalau malam dinginnya nggak bisa diajak kompromi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline