Lihat ke Halaman Asli

Dessy Try Bawono Aji

Kompasianer Pemula

Menguak Misteri Lukisan "Jaran Kepang" karya Soemaryo Hadi

Diperbarui: 19 Februari 2020   15:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokpri

*disclaimer, tulisan ini telah lebih dulu dimuat di thread kaskus pada Mei 2019

Kesenian tradisional kini seolah punah tergerus oleh perkembangan jaman yang sarat teknologi. Generasi millenial sekarang ini cenderung tak lagi  tertarik dengan seni budaya asli bangsa sendiri yang diwariskan nenek moyang. Padahal jika mau sedikit memperhatikan, seni tradisional itu penuh misteri yang asyik buat diselami, tak kalah asyik dengan membaca teori-teori konspirasi atau cerita-cerita misteri yang makin banyak digemari.

Berawal dari perkenalan Ane dengan seorang pelukis maestro di tempat ane, Pati (Jawa Tengah), yang bernama Soemaryo Hadi, atau biasa kami panggil Om Maryo, muncullah keinginan saya untuk coba angkat kembali tema khasanah kesenian lokal. Pelukis yang pernah malang melintang di Jakarta dan kota-kota lain di pulau Jawa hingga Bali ini, kini memilih untuk menghabiskan hari tuanya di kampung halamannya. Tepatnya di Desa Sambiroto, Kecamatan Tayu, salah satu desa di wilayah Kabupaten Pati (Jawa Tengah) bagian ujung paling utara.

Tak jauh berbeda dengan para seniman lukis lain, Om Maryo adalah sosok yang punya karakter khas yang cenderung nyentrik. Baik dari segi cara berpakaian, gaya bicara serta sudut pandang pemikiran. Penampilannya yang cenderung sederhana membuat orang tak akan menyangka dengan hanya sekilas pandang, bahwa ternyata Om Maryo ini memiliki wawasan luas dengan karya-karya lukisnya yang terpajang di beberapa museum gallery beberapa kota besar di Indonesia.

Dalam percakapan yang santai dan akrab, layaknya om dan keponakan sendiri, mengembanglah topik obrolan kami dari hanya kisah pengalaman berkarya hingga kisah cinta masa lalunya yang menarik. Berlanjut hingga topik-topik bernuansa mistis - religius. Khususnya saat obrolan kami sampai di bahasan karya lukisnya.

dokpri

Bermaksud memperkenalkan kembali kearifan budaya lokal, maka dalam dekade terakhir perjalanan karyanya, Om Maryo memutuskan untuk fokus mengangkat Jaran Kepang sebagai sumber inspirasi dalam karya-karya lukisnya yang bernuansa etnik. Berhubung saya tak begitu paham tentang lukisan, khususnya yang abstrak, saya sendiri belum sepenuhnya bisa menikmati lukisan-lukisan yang terbilang cukup mahal itu. Maka, saya ajukan saja pertanyaan-pertanyaan di seputar makna-makna tersirat di balik lukisannya.

Alhasil, keluarlah penjelasan panjang lebar Sang Maestro tentang filosofi jaran kepang yang begitu menarik buat diresapi. Sebagaimana kesenian tradisional di seantero Nusantara lainnya, Jaran Kepang juga merupakan sebuah simbol yang menyimpan banyak makna dan petuah bijak.

Jaran kepang adalah salah satu bentuk seni tradisional yang melegenda di Nusantara, khususnya di Pulau Jawa. Belum ada referensi yang tepat mengenai sejarah asal muasal kesenian ini, banyak spekulasi ditulis oleh para budayawan atas dasar cerita-cerita lokal yang melegenda di masyarakat. Uniknya, kesenian Jaran Kepang itu bisa kita jumpai tersebar di seantero Pulau Jawa, mulai wilayah bagian barat merata hingga ke timur. Meski kini sudah hampir punah ditelan jaman, beberapa seniman tarinya masih bisa kita jumpai asal mau gigih dalam mencarinya.

Sebutan "Jaran Kepang" cenderung lebih dikenal di Jawa Tengah bagian utara. Sedang di Jawa Tengah bagian selatan punya dua sebutan untuk kesenian serupa, yaitu "Jathilan" di daerah Jogja dan sekitarnya serta doger di daerah Cilacap dan sekitarnya.
Sementara di Jawa Barat kesenian ini biasa disebut sebagai "Kuda Lumping". Lain lagi di Jawa Timur yang lebih dikenal sebagai "Jaranan".

Pertunjukan seni Jaran Kepang menampilkan kolaborasi seni musik dan seni tari. Musik yang dimainkan biasanya tidak banyak, hanya memakai 3 -- 4 alat musik tradisional, sederhana namun terdengar hingar bingar. Dalam iringan musik tersebut, para penari beraksi membawa kuda-kudaan yang terbuat dari bahan bambu yang dianyam. Dalam istilah bahasa Jawa, kata "anyam" itu sering pula dibilang "kepang", sebab itulah kesenian ini juga di sebut Jaran Kepang, khususnya di Jawa Tengah bagian utara. "Jaran" berarti kuda, sedang "Kepang" artinya anyaman.

Seni Tari Kuda Lumping--satukanal.com

Para penari yang terdiri atas 4 -- 5 orang memainkan gerak tari yang atraktif, kuda-kudaan yang terbuat dari anyaman bambu itu dijepit dengan kedua paha kaki bak ksatria berkuda yang turun ke medan laga peperangan. Nah, yang menarik dibanding tari-tarian lainnya adalah kondisi beberapa penari yang mengalami keadaan trans atau tidak sadar. Mereka akan menari lebih agresif, tidak merasa kesakitan ketika dicambuk dan bisa secara rakus memakan pecahan-pecahan kaca seolah camilan yang lezat !
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline