Lihat ke Halaman Asli

Ikwan Setiawan

TERVERIFIKASI

Kelahiran Lamongan, 26 Juni 1978. Saat ini aktif melakukan penelitian dan pendampingan seni budaya selain mengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember

Ekodramaturgi: Krisis Ekologis dalam Tatapan Teater

Diperbarui: 24 April 2022   21:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pementasan Planet-Sebuah Lament karya Sutradara Garin Nugroho di teater Taman Ismail Marzuki, Cikini,Jakarta Kamis(16/1/2020).| KOMPAS.com/DIENDRA THIFAL RAHMAH

Apa yang bisa dilakukan penggiat teater dalam menghadapi krisis lingkungan yang berlangsung dalam lingkup regional, nasional, dan global?

Mungkin ada yang beranggapan pertanyaan di atas terlalu bombastis karena harus menghubungkan kreativitas para pelaku teater dengan persoalan lingkungan yang terlalu besar cakupan permasalahan dan dampaknya, termasuk para pelaku di level regional, nasional, dan global yang memperparah kerusakan dan kehancuran ruang hidup bagi manusia dan semua makhluk.

Namun, kalau kita kembali kepada sejarah dan posisi teater dalam ruang dan praktik hidup manusia, kita bisa menemukan keterkaitan yang bersifat timbal-balik antara pertunjukan teater oleh para pelaku dengan krisis ekologis.

POTENSI DAN POSISI TEATER

Secara kritis, Emmanuel (2021) mengingatkan bahwa pertunjukan teater mampu menghadirkan tegangan-tegangan dalam masyarakat melalui kerja artistik yang bisa mengejutkan dan menggerakkan penonton, dalam artian mempengaruhi cara berpikir mereka. 

Pertunjukan Burning Vision karya Maria Clements. Dok. ent-nts.ca

Selain itu, pertunjukan teater juga menghadirkan refleksi kritis dan mempertimbangkan-kembali bermacam masalah sosial dan lingkungan, khususnya terkait bagaimana manusia berhubungan dan bertanggung jawab terhadap permasalahan itu.

Aspek visualitas yang dikonstruksi oleh kehadiran tubuh-tubuh aktor dan properti di atas panggung merupakan kekuatan luar biasa dari pertunjukan teater. Tubuh para aktor memungkinkan bangunan kesadaran terkait permasalahan yang berkembang. Maka dari itu, imajinasi sutradara dan para aktor menjadi kekuatan penting dalam membangun logika pertunjukan yang bisa mempengaruhi persepsi publik penonton.

Theresa May, salah satu pelaku dan peneliti teater di AS, dalam bukunya, Earth Matters on Stage: Ecology and Environment in American Theatre (2021), berkeyakinan bahwa teater memiliki potensi besar untuk membantu memperbaiki hubungan yang rusak dengan lingkungan dan untuk menginspirasi tindakan yang bertanggung jawab secara ekologis.

Tulisan ini merupakan review konseptual terhadap pemikiran May terkait ekodramaturgi, sebuah konsep yang ia namai berdasarkan seruan etis tentang teater dan masalah lingkungan serta tumbuhnya kesadaran kritis dan kreatif untuk memproduksi pertunjukan teater yang berpotensi menggerakkan publik untuk memperhatikan krisis ekologis yang menjadi ancaman umat manusia, bukan hanya di Amerika Serikat dan Eropa, tetapi di seluruh dunia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline