Lihat ke Halaman Asli

Deddy Husein Suryanto

TERVERIFIKASI

Content Writer

Stefano "Teco" Cugurra Sukses Meraih Back to Back Juara Liga 1

Diperbarui: 3 Desember 2019   16:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Stefano | detik.com

Tentunya judul ini bukan untuk menggambarkan keberhasilan Bali United juara Liga 1 2019 hanya karena Teco. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa kehadiran Teco di Bali United terlihat menyempurnakan proyek Bali United untuk dapat berprestasi.

Setelah musim 2017 gagal juara, Bali United berupaya keras untuk membangun pondasi tim. Meski, mereka sempat digoncang dengan situasi tak harmonis di internalnya saat musim 2018 akan berakhir. Hal ini dapat dilihat dari hengkangnya Widodo C. Putro dari Stadion I Wayan Dipta sebagai pelatih.

Hengkangnya pelatih yang kini mengarsiteki permainan Persita Tangerang itu, membuat Bali United mengalami degradasi permainan. Inilah yang membuat suporter Bali United memprotes kebijakan tim manajemen Bali United.

Seolah tak ingin mengulangi hal yang sama, tim manajemen pun terlihat berbenah. Dimulai dari keberhasilan mereka menggaet Teco untuk melatih Lilipaly dkk. Kehadirannya pun dibarengi dengan keberadaan pemain baru yang memiliki kapasitas untuk membawa Bali United bermain bagus.

Salah satunya adalah Paulo Sergio. Kehadiran pemain asal Portugal itu membuat Bali United semakin mapan di lini tengah. Mereka tidak lagi hanya mengandalkan Stefano Lilipaly, Irfan Bachdim, dan Fadil Sausu untuk mengkreasi serangan, melainkan lebih banyak bertumpu pada kapasitas utama Sergio dalam melayani Ilija Spasojevic dan Melvin Platje.

Keberadaan Wiliam Pacheco dan Gunawan Dwi Cahyo juga membuat lini belakang Bali United semakin ideal. Kehadiran keduanya membuat Bali United memiliki banyak opsi untuk slot bek tengah. Sehingga, dengan jadwal padat, Teco tahu siapa yang dapat melindungi Wawan Hendrawan di depan kotak penalti.

Perbaikan di musim ini juga tidak hanya dalam teknis, namun juga non-teknis. Yaitu, pengelolaan mental dan misi dalam mengarungi musim 2019. Mereka tahu bahwa menjadi juara Piala Indonesia 2018 adalah pekerjaan sulit. Sehingga, mereka tidak terlalu "galau" ketika gagal melaju ke final.

Hal ini ada kaitannya dengan misi mereka untuk fokus ke Liga 1 dan langkah ini perlahan nan pasti mulai terlihat hasilnya. Meski, media massa lebih banyak mengekspos peluang juaranya TIRA-Persikabo, Bali United tetap tenang dan fokus.

Mereka memang tidak memiliki torehan semenarik TIRA-Persikabo di separuh awal musim. Namun, justru pada akhirnya mereka mampu memutarbalikkan keadaan. Hal ini dimulai dari keberhasilan Laskar Tri Datu memberikan kekalahan pertama bagi TIRA-Persikabo.

Uniknya, kekalahan itu membuat tim asuhan Rahmad Darmawan menjadi limbung. Hal ini dapat dibuktikan dengan perjalanan di paruh kedua yang tak bersahabat bagi Osas Saha dkk. Mereka kini bahkan berada di papan bawah.

Keadaan itu membuat klub yang bermarkas di Stadion Pakansari itu memilih berpisah dengan Rahmad Darmawan sebelum musim berakhir. Sedangkan Bali United semakin mapan di puncak klasemen. Karena, mereka "hanya" bersaing dengan klub-klub yang bangkit dari tidurnya, seperti Persipura dan Borneo FC.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline