Lihat ke Halaman Asli

Irpanudin .

TERVERIFIKASI

suka menulis apa saja

Pembangunan Pasang-Bongkar yang Bikin Bocor Anggaran

Diperbarui: 6 Juni 2019   21:03

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

gambar: tribunnews.com

Beberapa tahun lalu, galian di jalan merupakan hal yang biasa kita saksikan sepanjang tahun.

Bulan pertama dan kedua jalanan macet dengan pengumuman "mohon maaf ada pekerjaan pipa PDAM". Bulan ketiga proses penutupan.

Setelah ditutup, bulan keempat jalan digali lagi. Kali ini alasannya pemasangan kabel telkom.

Baru saja di bulan kelima ditutup, bulan keenam sudah dibongkar lagi untuk perbaikan saluran air. Akhir tahun pun sama, jalanan dibongkar dengan alasan perbaikan trotoar, yang ironisnya tidak pernah ada trotoar yang baik.

Meskipun sudah agak berkurang, potret pembangunan Indonesia rupanya belum bisa beranjak dari bongkar pasang.

Lihat saja Jakarta. Di era gubernur Basuki beberapa waktu silam jembatan penyeberangan dibangun di sekeliling Jakarta. Tujuannya baik, agar pejalan kaki dan pengguna mobil tidak saling berpapasan sehingga mengurangi kemacetan. Baik macet orang mau pun macet kendaraan.

Tidak lama setelah pilkada usai, rupanya gubernur baru punya konsep yang berbeda. Dengan alasan estetika, tanpa menunggu lama jembatan penyeberangan orang itu dibongkar. Tujuannya juga baik, karena estetika, JPO menghalangi pemandangan ke tugu selamat datang.

Tapi alangkah melelahkan, jika gaya bongkar pasang dipertahankan.

Barangkali Jakarta berlimpah dana APBD sehingga kebingungan harus mengalokasikan uang di bidang apa. Tidak merasa sayang membuang uang untuk bongkar pasang. Daerah lain tidak demikian, membangun jalan pun sulit bukan kepalang.

Terserah apakah pelican cross, zebra cross, jembatan penyeberangan orang, sky pedestrian, atau pun penyeberangan bawah tanah yang dipakai, sebagai warga biasa kita hanya mengharap sebuah pembangunan yang tidak asal jadi.  Dalam hal apa pun, bukan JPO semata.

Perencanaan yang matang, tepat guna, dan melibatkan ahli-ahli, dengan mempertimbangkan tujuan jangka panjang. Kalau pun sudah jadi, tetapkan usia pakainya. Baru boleh dibongkar setelah usia 7 tahun misalnya. Hormati juga pendahulu mereka yang memiliki konsep baiknya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline