Lihat ke Halaman Asli

Hendrikus Dasrimin

TERVERIFIKASI

Scribo ergo sum (aku menulis maka aku ada)

Filsafat Waktu dan Pergantian Tahun

Diperbarui: 29 Desember 2022   05:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi rotasi waktu (Dokpri)

Agustinus membagi waktu menjadi dua macam, yakni waktu subyektif dan waktu obyektif. Waktu subyektif merupakan waktu yang dirasakan manusia di dalam batinnya. Sedangkan, waktu obyektif merupakan periodesasi waktu seperti yang tertera di dalam jam dan kalender.

Waktu subyektif dan waktu obyektif memiliki logika yang berbeda. Satu jam menunggu teman yang tak kunjung datang dan satu jam berada bersama kekasih, tentu memiliki rasa yang amat berbeda. Secara obyektif, keduanya memiliki durasi waktu yang sama, yakni satu jam. Namun, secara subyektif, keduanya sangat berbeda. Yang satu pasti menyebalkan, sedangkan yang lain pasti mengasyikan.

Walaupun demikian, dalam perlembangan selanjutnya, pandangan tentang waktu subyektif kemudian disingkirkan. Yang ada hanyalah pandangan tentang waktu obyektif. Waktu dipandang sebagai bagian nyata dari alam yang bisa diukur.

Pandangan ini dikritik oleh Immanuel Kant. Filsuf asal Jerman ini berpendapat bahwa waktu merupakan bagian dari akal budi manusia. Ia tidak berada di alam nyata, tetapi di dalam pikiran manusia. Oleh karena itu, waktu dapat membantu manusia sampai pada pengetahuan tentang dunia.

Bagi Kant, waktu memiliki kaitan erat dengan ruang, yang merupakan bagian dari pikiran manusia. Gagasan inilah yang kemudian dikembangkan oleh Albert Einstein, yang pada akhirnya muncul konsep ruang-waktu. Einstein yang mengembangkan pemikiran Kant, melihat keterkaitan antara ruang dan waktu, tetapi Filsafat Timur justru melihat keterkaitan antara aku dan waktu.

Sementara itu, pandangan Barat melihat ada perbedaan atara masa lalu, kini dan masa depan, walaupun ketiganya memiliki hubungan satu sama lain. Apabila masa lalu, sudah lewat maka ia tidak akan pernah bisa kembali lagi. Hal ini kemudian muncul slogan, waktu adalah uang. Artinya, menghabiskan waktu dengan hal yang tidak produktif, sama halnya dengan membuang uang.

Pandangan tentang waktu seperti ini, bergerak lurus: masa lalu-masi kini-masa depan. Namun ada pula pendapat yang berbeda. Mereka memiliki pandangan bahwa waktu itu bukan bergerak lurus, melainkan sebagai sebuah lingkaran. Waktu dalam pola lurus berarti masa lalu tidak akan kembali lagi. Sedangkan waktu sebagai lingkaran berarti segala sesuatu akan berulang dan membentuk pola yang tetap.

Terhadap dua tradisi pemilkiran tersebut (waktu yang bergerak lurus dan waktu yang berputar seperti lingkaran), Martin Heidegger kemudian berpendapat bahwa waktu merupakan horison hidup manusia. Filsuf asal Jerman ini berpandangan bahwa manusia berada dalam kenyataan dan selalu hidup dalam masa lalu, masa kini dan masa depan, yang terjadi secara bersamaan.

Ketiga masa ini selalu hidup dalam diri kita. Misalnya, ketika kita berpikir, kita secara otomatis akan berpikir dalam kategori waktu yang berbeda. Konsep pemikiran Heidegger ini kemudian dikenal dengan temporalitas.

Pemikiran ini dipengaruhi oleh pemahaman Heidegger tentang manusia sebagai Dasein (yang berada-di-sana). Menurutnya, di mana pun seorang manusia berada, ia akan sadar akan apa yang pernah dialami (masa lalu), sedang dialami (masa kini) dan akan dialami (masa depan).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline