Lihat ke Halaman Asli

Darmawan bin Daskim

Seorang petualang mutasi

Bukan Lagi Semur Daging

Diperbarui: 24 Mei 2021   10:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sayur asem buatan istri

"Permisi Pak, makannya pilih daging atau ayam?" tanya pramugari tiga puluh menit setelah lepas landas dari bandar udara Dominique Eduard Osok, Sorong, Papua Barat. "Daging," jawab saya mantap.

Tak lama setelah mendarat di bandar udara Sultan Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan dan melapor di bagian transit, terdengar panggilan boarding untuk flight tujuan bandar udara Soekarno Hatta, Tangerang di Jakarta.

Tiga puluh menit setelah lepas landas, kembali pramugari bertanya, "Permisi Pak, makannya pilih daging atau ayam?" Saya jawab sama, "Daging."

Karena mendapatkan tiket terbang Sorong -- Jakarta melalui transit Makassar, jatah makan pun jadi dua kali. Beda halnya bila Sorong -- Jakarta direct tanpa transit, jatah makan hanya satu kali karena hanya satu kali flight.

Sayangnya, penerbangan Fakfak, Papua Barat -- Sorong yang hanya ditempuh 50 menit tidak mendapat jatah makan, jadi tidak sampai hat-trick makan daging di pesawat, hehehe.

Dua kali menjawab pilihan menu makan daging tentunya bukan tanpa alasan. Selama tinggal di Fakfak kurang lebih tiga tahun karena tour of duty jarang sekali menemukan masakan daging sapi. Seringnya masakan daging rusa yang biasa kami jumpai seminggu sekali sebagai menu makan siang di kantor. Sebungkus nasi padang lauk rendang seharga Rp50.000,00 seminggu sekali di akhir pekan sebagai pelepas kangen kami akan daging sapi.

Bagi penyuka masakan ikan laut, Fakfak bisa menjadi 'surga'. Berbagai macam ikan laut seperti kakap, bubara, dan kerapu sering kami beli di pasar ikan setempat untuk dibakar malam harinya bersama rekan sejawat di kantor.

Laut Fakfak, Papua Barat/dokpri

Hampir senada dengan pertanyaan pramugari, beberapa hari menjelang kedatangan saya ke rumah, istri pun bertanya, "Papah nanti mau Mamah masakin semur daging, kan?" Tanpa ragu,"Iya dong."

Hasrat puas menikmati semur daging buatan istri, terbang Fakfak -- Sorong -- Jakarta selama 5 jam pun dijalani dengan gairah tinggi. Berbalik 180 derajat saat akan terbang rute sebaliknya. Sepatu yang ringan dipakai jalan pagi bersama istri, di hari keberangkatan menjadi sangat berat untuk dilangkahkan.

"Para penumpang yang terhormat, selamat datang di bandar udara Dominique Eduard Osok, Sorong. Terdapat perbedaan waktu 2 jam lebih awal dari Jakarta. Terima kasih telah memilih terbang bersama kami. Sampai jumpa di penerbangan kami selanjutnya," suara pramugari yang lembut menyadarkan untuk kembali ke dunia nyata.

Kesulitan merasakan daging sapi tidak saya jumpai di tour of duty berikutnya. Sebungkus nasi padang lauk rendang seharga Rp25.000,00 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan sangat mudah ditemukan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline