Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Zulfadli

TERVERIFIKASI

Catatan Ringan

Menjajal Perjalanan Darat dan Laut Bali ke Surabaya

Diperbarui: 19 Oktober 2023   08:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

(dokumen pribadi)

Satu hari setelah ajang MotoGP Mandalika, Lombok, NTB, Pada Senin 21 Maret 2022, Vera dan saya sudah harus terbang ke Bali, sesuai tiket yang sudah dipesan jauh sebelumnya. Padahal bisa saja kami tetap stay menikmati Lombok beberapa hari ke depan. 

Di Bandara Praya pada Senin siang itu penuh oleh penumpang efek perhelatan MotoGP yang menjadi pusat perhatian publik balapan global. Saya bertemu dengan beberapa kru tim yang juga hendak meninggalkan Lombok dan bersiap untuk balapan selanjutnya, MotoGP serie Argentina.

Kami belum punya tiket kepulangan. Sepekan sebelum dan sesudah ajang MotoGP, tiket pesawat dari dan menuju Lombok maupun Bali meroket berkali lipat. Tiket Bali ke Makassar sulit didapat, kalau pun tersedia harganya sudah hampir 2 juta, dari harga normal 700 ribu. Sebagai bandingan harga tiket keberangkatan dari Makassar-Bali-Lombok kami beruntung dapat seharga 1 juta rupiah.

Kami tiba Bandara Ngurah Rai menjelang sore dilanjutkan ke hotel di kawasan Seminyak untuk berisirahat, memulihkan stamina dari perjalanan balapan kemarin yang melelahkan. Rencana awal kami di Bali dua malam, kemudian melanjutkan ke Jogja. Sayang tiket penerbangan dari Bali tujuan Jogja juga masih sulit didapat dengan harga terjangkau, sudah mencapai harga 1,8 juta rupiah.

Setelah berdikusi, akhirnya kami sepakat memutuskan meninggalkan Bali lebih cepat, pada Selasa sore menuju Surabaya dengan travel dan melanjutkan perjalanan ke Jogja dengan kereta api. Direncanakan tiba di Jogja pada Rabu siang. Ya hanya satu malam saja di Bali untuk sekadar istirahat dan melaundry beberapa lembar pakaian.

Kami menggunakan jasa agen travel Bali Purnama 99, dijemput pada pukul 17.15 di suttle Pizza Hut Sunset Point Seminyak, setelah kami makan siang dan ngopi. Dibawa terlebih dahulu ke kantor pusat travel di Jalan HOS Cokroaminoto, Ubung, Denpasar, untuk bergabung dengan penumpang lain sekaligus mengangkut barang kiriman pelanggan.

Di kantor Bali Purnama, kami bertemu owner Arief Purwan. Ia bercerita bagaimana mulai merintis bisnis ini dan sangat terpukul saat pandemi. Arief juga mengklaim travelnya merupakan satu-satunya yang dimiliki pengusaha muslim di Bali.

Perjalanan dimulai pada pukul 19.15 dengan armada model Elf berpenumpang 14 seat, di mana hanya satu yang kosong pada malam itu. Tiket Bali Purnama seharga 230 ribu rupiah, sudah termasuk snack donat, air mineral, tiket penyeberangan, dan voucher makan lewat tengah malam di Banyuwangi, setelah menyeberang.

Dari Denpasar yang ramai menyusuri daratan pulau Bali seperti Tabanan, Nagara, dan Jembrana, untuk menyeberang menggunakan kapal Feri di Gilimanuk. Ini pengalaman kedua saya, sedangkan bagi Vera pengalaman pertama mencoba perjalanan darat dan menyeberang dari Bali ke Pulau Jawa.

(dokumen pribadi)

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline