Lihat ke Halaman Asli

Kris Fallo

Penulis Buku Jalan Pulang, Penerbit Gerbang Media, 2020

Aplikasi Program "Merdeka Belajar", Belajar Tidak Harus di Kelas dan Ilmu Tidak Hanya dari Guru Saja

Diperbarui: 20 Mei 2021   10:19

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

foto.dok.pribadi/Belajar di Luar Kelas, menjadi salah satu ciri khas TBM Knanuk Diak Kmanek, Kelurahan Lidak, Kecamatan Atambua Selatan Belu/NTT

Salah satu program kebijakan baru Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI, Sekarang Kemendikbud-Ristek), yang dicanangkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan-Riset dan Teknologi,  Kabinet Indonesia Maju, Nadiem Anwar Makarim adalah Merdeka Belajar.

Program merdeka belajar bagi saya merupakan satu lompatan positif dan sudah seharusnya dimulai. Sangatlah positif untuk zaman kita sekarang. Saya yakin ke depan output kita akan semakin baik dan pendidikan di negeri ini akan semakin maju.

Dunia sudah berubah karena itu, reformasi dalam dunia pendidikan sudah seharusnya. Kita tidak bisa terus bertahan dengan pola lama berhadapan dengan kenyataan perkembangan teknologi. Dunia sudah dikuasai oleh teknologi karena itu, update sistem pendidikan sangat esensial.

foto.dok.pribadi/literasi baca tulis di alam terbuka TBM KDK, Lidak, Atambua Selatan

Tahun 90an ketika saya masih di bangku sekolah, sistem pembelajaran terpusat di kelas. Sekolah merupakan satu--satunya tempat untuk menuntut ilmu. Tidak hanya itu saja, guru menjadi satu--satunya sumber ilmu. Jadi belajar merupakan proses transfer ilmu dari guru kepada siswa.

Kita sadar bahwa model pendidikan seperti ini terasa kakuh, beku dan tidak menggembirakan. Belum lagi guru menerapkan filosofi zaman kuno, "Di ujung rotan ada emas." Siswa benar--benar tidak berdaya. Tidak ada pilihan lain selain menerima dan melaksanakan model pendidikan semacam ini.

Betapa kita menyadari beban pendidikan zaman dulu. Benar bahwa di ujung rotan ada emas, tetapi benar juga bahwa tanpa rotan pun, (pendidikan yang manusiawi) anak--anak juga bisa berhasil.

Atas nama Hak Azasi Manusia, (HAM) maka, tidak ada lagi sistem di ujung rotan ada emas. Buktinya ada sekolah yang menerapkan sistem "Sekolah Ramah Anak" dan berhasil. Jadi kesimpulannya mendidik tidak harus dengan rotan, tergantung cara dan kreativitas guru.

Esensi Program Merdeka Belajar

Perlu diketahui bahwa esensi dari Kemerdekaan Belajar yang dicanangkan Nadiem adalah, supaya siswa bahagia, mandiri, tidak ditekan, berkarakter, dalam menuntut ilmu. Menerapkan sistem pendidikan yang manusiawi.

Jadi, sistem pengajaran juga mulai berubah dari yang awalnya bernuansa di dalam kelas sekarang bisa juga menjadi di luar kelas.

Nuansa pembelajaran akan lebih nyaman, karena murid dapat berdiskusi lebih dengan guru, belajar dengan outing class, dan tidak hanya mendengarkan penjelasan guru, tetapi lebih membentuk karakter peserta didik yang berani, mandiri, cerdik dalam bergaul, beradab, sopan, berkompetensi, dan tidak hanya mengandalkan sistem ranking.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline