Lihat ke Halaman Asli

cipto lelono

TERVERIFIKASI

Sudah Pensiun Sebagai Guru

Mengapa Manajemen Partisipatoris Perlu Dilakukan dalam Menyusun Visi dan Misi Sekolah?

Diperbarui: 26 Maret 2022   02:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi diskusi guru.| Sumber: Dokumentasi Tanoto Foundation via Kompas.com

Salah satu peran satuan pendidikan dalam konsep Kurikulum Merdeka adalah menyusun visi dan misi sekolah. Visi dan misi sekolah adalah cermin kondisi dan arah lembaga tersebut. Sebab visi dan misi mejadi pijakan utama mewujudkan cita-cita ideal yang ingin dicapai. 

Mengingat visi dan misi adalah hal yang prinsip, maka penyusunan visi dan misi harus adaptif dengan tantangan yang dihadapi. Selain itu juga harus didasarkan pada kondisi riil yang ada di masing-masing satuan pendidikan. Apabila tidak, maka visi dan misi yang ada hanya bersifat formalitas dan slogan semata.

Oleh sebab itu kiranya perlu diterapkan manajemen yang efektif guna menyusun visi dan misi sekolah yang realistik dan visioner. Langkah opsional yang bisa dilakukan adalah manajemen "partisipatoris". 

Konsep dasar manajemen partisipatoris adalah melibatkan semua komponen yang ada di sekolah secara sungguh-sungguh. Asumsi yang harus dibangun bahwa sekolah adalah "rumah bersama" semua komponen yang ada di sekolah. Sehingga peran sertanya sangat dibutuhkan guna merancang dan menjalankan visi dan misi sekolah. 

Realitanya, visi dan misi sekolah tidak semua disusun berdasar prosedur yang semestinya. Sehingga ditemukan misi tidak relvan dengan visi yang disusun. Bahkan sterdapat rumusan misi yang tidak ada sangkut pautnya dengan visi yang sudah dirumuskan.

Di lapangan juga ditemukan visi dan misi sekolah disusun secara latah mengikuti konsep sekolah lain. Padahal kondisi masing-masing sekolah tidak sama, baik dari segi sarana prasarana maupun kesiapan sumber daya manusia yang ada.

Sumber:https://www.nesabamedia.com

Selain itu visi dan misi semestinya disusun sesuai tantangan riil yang dihadapi. Realitanya masih ditemukan sekolah menyusun visi dan misi sekadar memenuhi kebutuhan administratif. 

Langkah partispatoris ditinggalkan dengan dalih memerlukan waktu lama dan berbelit-belit. Padahal tantangan yang dihadapi sekolah makin kompleks sehingga memerlukan kerja tim, bukan sekadar perwakilan.

Seperti diketahui Abad 21 telah memberikan tantangan tersendiri bagi dunia pendidikan. Abad 21 yang ditandai proses digitalisasi telah memengaruhi berbagai sektor dan bidang kehidupan masyarakat (khususnya di lembaga pendidikan). 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline