Lihat ke Halaman Asli

charles dm

TERVERIFIKASI

charlesemanueldm@gmail.com

Pengalaman Covid-19 dan 3 Siasat Menumbuhkan Harmoni Bertetangga

Diperbarui: 2 November 2022   15:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi relasi bertetangga| Dok Shutterstock via Kompas.com

Lebih dari separuh hidup saya dihabiskan tidak di kota kelahiran dan tidak di antara sanak keluarga. Saya harus berpindah-pindah karena alasan pendidikan dan pekerjaan.

Dalam perjalanan panjang itu, banyak peristiwa terjadi. Banyak hal berkesan yang masih membekas. Salah satunya tentang betapa berartinya tetangga dan hidup bertetangga.

Tetangga dalam arti sederhana adalah dia yang hidup di dekat kita. Baik karena faktor tempat tinggal, pekerjaan, juga pendidikan. Kita menyebut tetangga rumah, rekan kerja, hingga kawan sekolah atau kampus.

Pada kesempatan ini saya coba mengkhususkan diri pada sebutan tetangga yang paling umum yakni mengacu pada tetangga rumah.

Saya menyadari betapa penting tetangga dan berwarnanya dinamika bertetangga dalam kaca mata seorang perantau. Kurang dan lebih pengalaman bersama orang-orang di sisi kiri dan kanan tempat tinggal (rumah atau kos), tidak dapat menafikan ungkapan tetangga adalah keluarga terdekat.

Terkadang dalam pengalaman dan arti yang lebih ekstrem, mengutip salah satu pernyataan, kita bisa sampai pada pernyataan ini. Lebih baik tetangga yang dekat ketimbang saudara yang jauh.

Saat terjepit masalah mendadak seperti sakit, kebanjiran, mati listrik, hingga kemalingan, tetangga adalah penyelamat. Mereka adalah dewa penolong yang datang tepat waktu dan tepat pada waktunya. Sebelum bantuan datang dari sanak saudara yang berada di tempat yang jauh, tetangga dekat itu lebih dahulu mengulurkan bantuan.

Satu peristiwa yang hemat saya tidak seorang pun bisa membantah betapa bersyukurnya kita hidup bertetangga adalah saat Covid-19 menerjang. Saat ada dalam atau satu keluarga terpapar virus yang bermula dari Wuhan, China itu, tetangga lain adalah penolong pertama dan utama.

Kita boleh meratap dan mengeluh pada sanak keluarga yang tidak berada di dekat kita. Namun, yang lebih lekas memberi pertolongan adalah tetangga di kiri, kanan, depan, atau belakang rumah.

Sebelum keluarga sedarah datang dan memberi bantuan, keluarga terdekat yang tidak memiliki pertalian darah itu sudah lebih bertindak, entah memberi obat, vitamin, hingga makanan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline