Lihat ke Halaman Asli

charles dm

TERVERIFIKASI

charlesemanueldm@gmail.com

Yaqut Cholil Qoumas, Kado Natal dan Tahun Baru

Diperbarui: 24 Desember 2020   18:41

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Yaqut Cholil Qoumas (tengah)/kemenag.go.id

Natal telah tiba. Tahun Baru sudah di depan mata. Dua momen penting di akhir tahun yang kerap dirayakan dengan dan melalui banyak cara.

Di tengah situasi tak menentu, saat pandemi Covid-19 masih menerjang, apakah Natal dan Tahun Baru kali ini masih pantas dirayakan?

Saya teringat pesan Natal yang menyentuh dari Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. Pesan itu ia kirim kurang dari 24 jam setelah dilantik Presiden Joko Widodo, menggantikan Fachrul Razi.

Kepada segenap umat Kristiani di Indonesia, ia tidak hanya mengirim ucapan selamat merayakan peristiwa iman, kelahiran Yesus Kristus. Ia juga mengingatkan untuk memaknai momen tersebut dalam kesederhanaan. Ia tidak mengajurkan untuk berperilaku konsumtif dan pemborosan.

Hemat saya, pesan tersebut sangat bermakna dan kontekstual. Dalam situasi sulit saat ini, tidak semua momen penting perlu dirayakan secara berlebihan. Sebagaimana Yesus lahir dalam kesederhanaan di sebuah kandang domba di Betlehem, begitu pula umat Kristiani menjalani panggilannya.

"Peringatan Natal pada hakikatnya adalah momentum bagi Umat Kristiani untuk meningkatkan kesadaran bahwa anugerah keselamatan telah Tuhan berikan bagi umat manusia. Hal ini perlu direfleksikan melalui perbuatan-perbuatan kebaikan, kesederhanaan, perhatian terhadap kaum lemah dan cinta kasih bagi sesama," bebernya.

Umat Kristiani pasti sangat paham bagaimaan merayakan Natal secara tepat. Esensi Natal tentu tidak terletak pada aspek seremonial. Bagaimana Natal direfleksikan sebagai kesempatan untuk memperbaharui dan meningkatkan kualitas iman serta penghayatan yang semakin baik dalam hidup bersama. Itulah yang utama.

Kado Natal dan Tahun Baru

Lantas, apakah kado Natal dan Tahun Baru masih perlu disiapkan? Masih pantaskah kita menanti bingkisan dan kartu ucapan selamat? Layakkah kita memasang pohon natal dengan lampu warna-warni? Masih paskah kita menyalakan kembang api untuk menyambut datangnya tahun baru? Perlukah kita bersukacita dengan berbagi makanan?

Menurut saya, kebiasaan tersebut masih pantas kita buat. Berbagi kado, bingkisan, makanan, kartu ucapan, hingga ucapan selamat dalam berbagai rupa, bukan sesuatu yang terlarang. Begitu juga bukan sebuah kewajiban untuk menjalaninya bila kondisi tidak memungkinkan. Sekadar berkabar, berbagi pesan di sosial media, tentu sudah lebih dari cukup.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline