Lihat ke Halaman Asli

charles dm

TERVERIFIKASI

charlesemanueldm@gmail.com

Mengurai Soal Akut Sampah Plastik, Saatnya Kita Berpindah Paradigma

Diperbarui: 27 Maret 2019   14:18

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sampah yang menumpuk di pesisir Desa Tambaklorok, Semarang, Jawa Tengah/foto dari ANTARA FOTO/Aji Styawan

Sampah, terutama sampah plastik adalah satu dari sejumlah hal yang sedang aktual di tanah air. Meski tidak selalu ramai dibicarakan, apalagi dijadikan fokus perhatian bersama, ikhwal sampah plastik adalah soal yang selalu mengemuka dan belum juga terselesaikan.

Padahal, disadari atau tidak, sampah plastik adalah persoalan krusial yang tengah kita hadapai. Oleh sebagian kalangan, persoalan tersebut sesungguhnya telah mencapai level akut. Sambil berkaca diri dan merenungi laku hidup sehari-hari, kita bisa melihat sejumlah data dan fakta yang terekam dalam angka.

Dalam salah satu kesempatan lawatan ke Manado, Sulawesi Utara, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut B Panjaitan, mengatakan Indonesia menempati peringkat kedua dalam hal pembuangan sampah plastik ke laut.

Pernyataan tersebut berangkat dari data yang dibeberkan Jenna Jambeck, profesor lingkungan dari University of Georgia, Amerika Serikat. Luhut mengatakan kontribusi sampah kita ke laut mencapai 187,2 juta ton. Angka tersebut sedikit lebih kecil dari China yang berada di posisi teratas dengan 262,9 juta ton sampah plastik. 

Bila diperinci, saban tahun sekitar 2,13 juta ton sampah plastik yang kita hasilkan dibuang begitu saja. Sebanyak 44 persen dari total sampah plastik itu kemudian mencemari lingkungan. Hal ini dikemukakan oleh Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Dr. Enri Damanhuri.

Sumber: KLHK/WWF/Grafis: Tim MI

Situasi ini tidak lepas dari tingginya konsumsi plastik masyarakat Indonesia. Rerata dalam setahun setip penduduk Indonesia mengonsumsi 15 kilogram (kg) sampah. Bukan rahasia lagi, plastik masih menjadi primadona untuk menangkup setiap kebutuhan. Sifanya yang ringan, kuat, dan awet membuatnya selalu menjadi pilihan. Jamak ditemukan botol, sandal, tas, keranjang, ember, gelas, hingga kemasan makanan yang terbuat dari plastik. 

Sayangnya, tingginya penggunaan plastik tidak dibarengi dengan kesadaran penggunaan plastik dan sampah plastik. Sampah masih dilihat sebagai barang sisa yang tidak bernilai guna. Alih-alih dimanfaatkan, sampah kemudian dibuang begitu saja, lebih miris lagi, tidak pada tempatnya.

Masih mengutip Prof. Dr. Enri Damanhuri, dari total sampah plastik nasional, baru 36 persen yang dapat diambil dan dikumpulkan oleh Dinas Kebersihan dan Dinas Lingkungan Hidup dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Selanjutnya, baru 20 persen yang masuk ke dalam sistem informal seperti bank-bank sampah untuk didaur ulang (recycle).

Andaisaja sampah-sampah plastik itu bisa dimanfaatkan dengan baik nilai ekonominya sangat tinggi. Bila ditotal angkanya bisa mencapai Rp 2,2 triliun. Angka tersebut disebut oleh Zainal Abidin dari Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri ITB.  

Angka fantastis itu sesungguhnya berangkat dari perhitungan sederhana. Mengandaikan harga sampah plastik seperti botol minuman Rp 600 per kilogram, lantas dikalikan jumlah penduduk sebanyak 250 juta dengan tingkat konsumsi masing-masing individu 15 Kg.

Kita tentu tidak ingin nama Indonesia terus berada di papan atas klasemen penyumbang sampah plastik terbanyak. Selain bukan sesuatu yang patut dibanggakan, mengurangi penggunaan dan pemanfaatan secara bijak sampah plastik adalah isu-isu penting yang dituntut pelaksanaannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline