Lihat ke Halaman Asli

Self Diagnose, Bahayakah?

Diperbarui: 30 September 2021   21:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Semakin hari, semakin banyak masyarakat kita yang mulai sadar dan paham akan pentingnya menjaga kesehatan mental. Dengan adanya kemudahan dalam mengakses internet, kita jadi bisa mengetahui lebih banyak informasi mengenai kesehatan mental. Contohnya, seperti bagaimana gejala gangguan mental, apa penyebabnya, dan bagaimana cara mengatasinya. Tentu hal ini akan sangat membantu masyarakat yang membutuhkan edukasi mengenai kesehatan mental. Namun, hal ini juga menyebabkan banyak terjadinya self diagnose yang dilakukan oleh masyarakat.

Apa itu self diagnose

Self diagnose adalah upaya yang dilakukan seseorang untuk mendiagnosis diri sendiri mengenai penyakit apa yang sedang dialami berdasarkan informasi yang didapatkannya secara mandiri.

Lalu, apakah self diagnose itu berbahaya?

Sebenarnya ketika seseorang melakukan self diagnose, itu berarti ia sadar akan sesuatu yang terjadi pada kesehatan mentalnya. Ini menjadi langkah awal yang baik sebagai bentuk antisipasi terhadap gangguan kesehatan mental. Self diagnose sendiri akan menjadi berbahaya ketika seseorang mulai berasumsi seolah-olah telah mengetahui dengan pasti penyakit apa yang sedang  dialami tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut kepada ahlinya, seperti psikolog dan psikiater.

Apa saja dampak dari self diagnose?

  • Salah mendiagnosa 

Saat melakukan self diagnose, besar kemungkinan akan terjadi kesalahan dalam mendiagnosa. Ini bisa terjadi karena ada beberapa gangguan mental yang memiliki gejala serupa. Misalnya, saat seseorang mengalami mood swings, Ia kemudian mendiagnosa dirinya menderita bipolar disorder. Padahal, mood swings juga merupakan gejala dari gangguan kesehatan mental yang berbeda, seperti gangguan kepribadian ambang, atau depresi berat.


  • Salah melakukan penanganan

Ketika kita sudah salah dalam mendiagnosa gangguan mental yang dialami, maka akan berimbas kepada cara penanganan yang salah. Metode penanganan yang salah tidak akan memberikan perubahan yang berarti. Bahkan, ini bisa memperparah gangguan mental yang dialami. Contohnya, ketika kondisi gangguan mental yang seharusnya perlu menggunakan obat, tapi justru hanya ditangani dengan metode terapi saja.


  • Memperparah gangguan mental

Penting untuk diketahui bahwa melakukan self diagnose bisa membuat kita mengalami kepanikan dan kekhawatiran yang berlebihan. Tidak menutup kemungkinan hal ini justru akan memperparah gangguan mental, dan menimbulkan masalah lain seperti gangguan kecemasan.

  • Membuat penyakit sesungguhnya terabaikan

Ketika melakukan self diagnose, kita tidak benar-benar tahu gangguan mental apa yang sedang kita alami. Bisa saja kita merasa yakin sedang menderita anxiety disorder, padahal gangguan mental yang sedang dialami adalah depresi mayor.

Semua dampak dari melakukan self diagnose ini bisa diminimalisir dengan beberapa cara, seperti :

  • Melakukan pemeriksaan ke psikolog atau psikiater

Hal ini merupakan langkah pertama yang paling tepat dilakukan setelah kita melakukan self diagnose. Dengan bantuan para ahli, kita akan tahu  pasti tentang kondisi kesehatan mental, dan bagaimana cara penanganan yang tepat tanpa perlu merasa khawatir.

  • Berkomunikasi dengan orang-orang terdekat

Cobalah untuk bercerita dengan teman, keluarga, dan sanak saudara. Jangan merasa malu untuk memberitahu gejala yang dicurigai merupakan gangguan mental. Bisa saja teman kita ternyata merasakan gejala yang sama, dan ini bukan merupakan pertanda gangguan mental yang serius.

  • Mempelajari lebih lanjut mengenai gejala yang dialami

Saat kalian melakukan self diagnose kesehatan mental, cobalah untuk menggali informasi sebanyak mungkin. Jangan hanya terpaku dengan satu artikel di internet, tetapi carilah jurnal yang dapat mendukung proses diagnosa.

Chandrika Kirani B.

NIM : 202110230311591

Daftar Pustaka :

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline