Lihat ke Halaman Asli

Indonesia Maju Versus Indonesia Adil Makmur

Diperbarui: 10 April 2019   05:52

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Cerita Pemilih. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG

Tulisan ini tadinya saya mau beri judul "kenapa  Jokowi tidak memenuhi janji kampanyenya?" Sehubungan dengan janji kampanye saya buka dengan pernyataan begini, "jika janji kampanye itu tidak sesuai dengan arah pembangunan yang dituju, maka janji tersebut hanya sekedar retorika untuk menarik simpati supaya dipilih oleh rakyat".

Saya rubah judulnya karena saya berupaya untuk memahami arah pembangunan yang dirancangkan oleh  Jokowi maupun  Prabowo ke depannya, Menurut saya tagar Indonesia Maju yang diungkapkan oleh  Jokowi dan tagar Indonesia Adil Makmur yang digaungkan oleh  Prabowo mewakili arah pembangunan yang ingin dicapai oleh keduanya. 

Sehingga dengan memahami arah pembangunan yang dituju, kita dapat menilai mana janji yang hanya sekedar pemanis untuk menarik simpati rakyat dan mana janji yang merupakan arah kebijakan pembangunan yang dituju untuk bangsa ini.

Kenapa tadinya tulisan ini saya mau beri judul "kenapa  Jokowi tidak memenuhi janji kampanyenya" Karena ide tulisan ini muncul dari adanya pertanyaan, "bagaimana kalau  Prabowo yang terpilih tidak memenuhi janji kampanyenya?" 

Terdapat dua sisi yang ingin dicapai dari pertanyaan tersebut yaitu: pertama untuk memberikan statement bahwa  Prabowo juga berkemungkinan tidak memenuhi janji kampanye yang diungkapkannya. Statement ini muncul dengan adanya persepsi bahwa politisi itu tidak bisa dipercaya sehingga janji kampanye belum tentu diwujudkan jika sang politisi itu sudah terpilih.

Poin kedua yang saya tangkap dari pertanyaan "bagaimana jika nanti  Prabowo tidak memenuhi janjinya" dalam rangka memberikan legitimasi bahwa suatu kewajaran apabila  Jokowi tidak mampu memenuhi janjinya yang diungkapkan sebelum beliau terpilih pada Pilpres 2014 lalu. 

Pada sisi ini saya melihat ada pembangunan persepsi bahwa perwujudan janji kampanye itu bukan satu hal yang bisa diraih secara gampang. Bagi kubu 01 memandang bahwa untuk mewujudkan janji tersebut membutuhkan proses yang panjang sehingga membutuhkan waktu. Jadi mereka beranggapan bahwa sekarang ini  Jokowi bukan tidak memenuhi janjinya, tetapi janji yang beliau ungkapkan 4,5 tahun lalu belum tercapai, dalam arti kita menuju ke arah itu.

Pada intinya, poin dari pertanyaan "bagaimana jika  Prabowo terpilih, beliau tidak memenuhi janjinya" ditujukan untuk menunjukkan bahwa Prabowo seorang politisi yang tidak bisa dipercaya janji-janjinya, dan pada sisi lain untuk menunjukkan bahwa  Jokowi itu tidak ingkar janji, tapi sekedar janjinya belum tercapai.

Evaluasi terhadap arah kebijakan pembangunan  Jokowi sangat mudah karena beliau telah melaksanakan kebijakan tersebut selama 4,5 tahun ini. Berbeda dengan  Prabowo yang masih berputar pada penyampaian visi dan misi yang diungkap dalam berbagai debat, dialog, kampanye terbuka dan lain sebagainya. Tetapi sebenarnya walaupun hanya melalui debat, dialog dan kampanye saja kita sudah bisa mengetahui ke arah mana bangsa ini diarahkan oleh Pemerintahan  Jokowi selama ini, dan ke arah mana akan diarahkan jika  Prabowo menjadi Presiden nantinya.

Ada satu janji yang diungkapkan oleh Prabowo yang secara langsung menyentuh kehidupan rakyat kebanyakan, yang juga dulu pernah dijanjikan oleh Jokowi yaitu janjinya untuk menurunkan tarif dasar listrik. Selama hampir lima tahun ini, harga tarif dasar listrik sudah meningkat lima kali lipat jika dibandingkan sebelum Jokowi terpilih menjabat sebagai Presiden. Kenaikan tarif dasar listrik ini dipicu karena ditariknya subsidi oleh Pemerintah.

Kenapa saya menyoroti masalah tarif dasar listrik sebagai satu contoh yang berhubungan dengan janji kampanye yang digaungkan oleh pihak 02? Karena justru mengenai tarif dasar listrik ini sendiri menjadi salah satu janji kampanye yang diungkapkan oleh  Jokowi sebelum beliau terpilih menjadi Presiden. Dengan kenyataan itu bisa digambarkan bahwa  Prabowo masih dalam konteks berjanji dalam arti beliau memang dalam kapasitas belum mendapatu ruang untuk memenuhi janjinya, sedangkan  Jokowi sudah dalam kondisi tidak memenuhi janjinya tersebut. Mohon maaf, tidak bermaksud kasar, tetapi dalam kenyataannya  Jokowi memang sudah melanggar janji kampanye yang pernah diungkapkan sebelum beliau diangkat menjadi Presiden waktu itu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline