Lihat ke Halaman Asli

Budi Susilo

TERVERIFIKASI

Bukan Guru

Dukun Pembaca Pikiran

Diperbarui: 27 Oktober 2021   21:22

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi ritual dukun oleh Ann_Milovidova dari pixabay.com

Bangkit dari kematian menggetarkan, Tarjo menjadi sakti. Mampu membaca pikiran orang lain! Pemahaman itu diketahuinya saat berada di kantor pada suatu pagi.

Rumah kosong yang difungsikan sebagai kantor. Ah, bukan kantor dalam arti sesungguhnya yang dilengkapi perangkat kerja seperti meja biro atau setengahnya, komputer meja, mesin penyejuk udara, ruang direksi, tempat kerja staf, bilik tunggu tamu.

Lebih tepat disebut sebagai Klinik Ilmu Dukun (KID). Sebuah wadah alternatif bagi mereka yang lelah mencari jalan keluar, yaitu jasa layanan konsultasi dan pengobatan atas persoalan-persoalan yang tidak dapat diatasi oleh pengetahuan modern.

Tempat berkumpulnya para dukun! Ada ahli santet, peramal dengan berbagai medium, tukang tenung, jago pelet, empu alat pusaka. Segala macam gangguan gaib, termaktub di dalam buku wajib perdukunan dan tertuang pada stiker ditempel di pintu angkot, mereka sanggup mengatasi.

Kecuali Tarjo. Kemalasan membuatnya lambat menguasai ilmu-ilmu perdukunan.

Begini. Selain bakat diwariskan, ilmu perdukunan dapat dipelajari dalam batas-batas tertentu. Lakon, proses belajar melelahkan, melemahkan yang betul-betul harus ditekuni. Teman-teman dukun demikian berbakat melakoni ritual-ritual panjang sehingga mereka mencapai kesaktian masing-masing.

Kecuali Tarjo, tentu saja.

Pada malam-malam teman-temannya bertapa, bersunyi-sunyi penuh konsentrasi, ia tertidur pulas. Alhasil, dalam kepalanya tumbuh mimpi, bukan ilmu perdukunan.

Namun suatu ketika, entah apa yang merasuki pikiran, Tarjo menikmati kesunyian luar biasa saat bersemadi di tepi kali tempuran: dua sungai besar dari timur dan selatan bertemu pada suatu daerah terpencil di Gadog. Tumbukan dua aliran deras mengguruh, berbuih-buih membentur batu-batu di sepanjang deraian, membahana demikian keras sepanjang masa.

Pemusatan pikiran paripurna menutup bolongan songo (sembilan lubang tubuh). Tiada terdengar suara. Sebuah bisikan halus membawanya ke alam transendental. Dingin, tapi tidak dingin. Putih, tapi tidak putih. Teramat damai. Kedamaian yang belum pernah dirasakannya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline