Lihat ke Halaman Asli

Ruang Berbagi

TERVERIFIKASI

🌱

Jadi Anak Bawang Kala Magang, Ini Tiga Sikap Penting yang Wajib Dimiliki

Diperbarui: 28 April 2021   22:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi tiga sikap penting kala magang - Photo by Mimi Thian on Unsplash

Meskipun saya bukan seorang pekerja profesional di bidang usaha pencari profit, bukan berarti saya tak pernah menjalani masa magang. Justru proses pendidikan saya di "lembaga" keagamaan nonprofit menuntut proses magang yang cukup panjang. 

Tak main-main, saya bahkan magang hampir setahun di Kalimantan Utara. Jauh dari keluarga. Sulit sinyal. Berkawan jangkerik dan derasnya hujan Kalimantan. 

Pengalaman ini membuat saya menyadari pentingnya tiga sikap sebagai "anak bawang" kala magang. Tiga sikap ini akan sangat membantu dalam menapaki karier profesional. Apa saja tiga sikap penting kala magang sebagai "anak bawang"?

Pertama, tahan menderita pada masa-masa awal magang

Masa awal magang kiranya menjadi saat tersulit dalam masa magang. Apa pun jenis perusahaan dan karakter mitra kerja dan majikan kita. 

Masa-masa awal magang menjadi ujian sesungguhnya bagi kita yang baru lulus sekolah dan kuliah. Ada beberapa faktor yang membuat masa awal magang terasa berat:

1. Adaptasi situasi dunia kerja: di sekolah dan kampus, kita terbiasa bergaul dengan orang-orang sebaya. Lain halnya di dunia kerja, kita harus bergaul dengan insan ragam usia. Ada pula target kerja yang terukur. Kita menjadi bagian kecil dari sistem yang besar. Yang kita lakukan mempengaruhi keseluruhan sistem. 

2. Perpisahan dengan keluarga: lazimnya magang dilakukan jauh dari keluarga dan tempat asal. Secara psikologis, ini sangat menantang. Rasa rindu mengganggu. Ketika ada kesulitan dengan rekan kerja, inginnya kita "pulang ke rumah orangtua" saja.

3. Kenyataan kerja tak sesuai harapan: rupanya perusahaan atau tempat kerja kita tak seindah yang kita bayangkan. Ada konflik dan intrik. Kerja melelahkan. Atasan menekan. Rasanya ingin segera mengakhiri masa magang.

Masih banyak lagi faktor yang membuat masa awal magang terasa berat. Untuk mengatasinya, satu-satunya cara adalah dengan tahan penderitaan. Inilah Adversity Quotient (AQ) atau kecerdasan dalam kesukaran. 

Istilah Adversity Quotient diciptakan Paul Stoltz pada 1997 dalam Adversity Quotient: Turning Obstacles Into Opportunities. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline