Lihat ke Halaman Asli

Bambang Setyawan

TERVERIFIKASI

Bekerja sebagai buruh serabutan yang hidup bersahaja di Kota Salatiga

Janda Pejuang Ini, Bertahun-tahun Hidup di Kandang

Diperbarui: 7 Maret 2017   00:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Begini rumah merangkap kandang mbah Kesi (foto: dok pri)

Kendati almarhum Setyo Ramelan dulunya ikut berjuang agar Republik ini merdeka, namun, istrinya, Sukesi (75) warga Bendosari RT 01 RW 05, Kumpulrejo, Argomulyo, Kota Salatiga ternyata hidupnya sangat sengsara. Janda renta tersebut selama bertahun-tahun hidup di rumah reyot merangkap kandang.

Kabar tentang Sukesi yang biasa disapa mbah Kesi ini, sebenarnya saya dapatkan Rabu (5/10) malam. Baru Kamis (6/10) sore saya sempat melacaknya. Tak begitu sulit menemukan rumahnya, sebab, dari jalan raya Salatiga-Kopeng hanya berjarak 20 meter. Memasuki halaman rumahnya, terlihat bagian kuda-kudanya sudah melengkung tinggal menunggu ambruk.

Di bagian genting terlihat lobang lumayan besar yang membebaskan air hujan langsung menerobos ke dalamnya. Sementara di belakang, mungkin dulunya untuk dapur, atapnya telah ambrol. Dinding-dinding yang terbuat dari papan sudah lapuk dimakan usia sehingga anjing mau pun ayam piaraannya bebas keluar masuk. Tak berapa lama, keluarlah seorang perempuan renta yang memperkenalkan dirinya sebagai mbah Kesi.

Mbah Kesi di depan rumahnya (foto: dok pri)

“Suami saya dulu pejuang dan menerima tunjangan sebagai veteran. Tetapi tahun 2008 meninggal akibat bunuh diri karena tak tahan mengalami tekanan hidup,” ungkapnya membuka perbincangan.

Usai ditinggal suaminya, kehidupan mbah Kesi semakin terpuruk. Sebab, semasa hidupnya Setyo Ramelan menggadaikan SK pensiunnya dan tidak ikut asuransi. Uang pensiun yang di tahun 2008 sebesar Rp 400 ribu, tiap bulan dipotong angsuran Rp 330 ribu. Otomatis, nenek ini hanya hidup dengan anggaran Rp 70 ribu perbulan.

“Karena sisa pensiun tak mencukupi, ya pilihannya tidak ada lagi selain utang ke bank thitil (kredit harian) tanpa agunan,” kata mbah Kesi sembari menambahkan untuk pinjaman Rp 100 ribu, ia harus mengangsur sebesar Rp 13.000 kali 10 angsuran.

Tulisan yang merupakan tanda kandang ini rumahnya (foto: dok pri)

Lebih Mirip Kandang

Menurut mba Kesi, dulunya almarhum suaminya pernah memungut seorang anak yang diberi nama Uprih Setyaningsih. Namun, memasuki usia dewasa, sang anak kembali ke orang tuanya sehingga mengakibatkan dirinya hidup sebatang kara. “Sekarang Uprih sudah berkeluarga, tapi tidak tahu hidup di mana,” tuturnya.

Karena berbincang di halaman rumah kurang nyaman, pura-puranya saya disuruh masuk. Begitu kaki memasuki rumah reyot ini, aroma khas langsung menyergap lubang hidung. Antara bau kotoran ayam, pesing, apek dan lembab menyatu sehingga semakin lengkap melesak ke dada. Ruangan berukuran sekitar 4x6 meter penuh barang-barang tidak terpakai. Sementara di lantai tanah, terlihat kotoran ayam ada di mana-mana.

“Memang rumah ini sudah berubah fungsi pak. Sekarang fungsinya sebagai kandang anjing dan ayam,” jelasnya sembari menunjuk kamar kumuh tempat ia beristirahat.

Sensasi aroma di dalam rumahnya wow (foto: dok pri)

Saat kamar pribadinya dilongok, ya Allah... terlihat kasur yang warnanya hitam kecokelatan akibat saking kotornya. Sementara di atas kasur, anjing piaraannya tengah bersantai. Menurutnya, saban malam ia tidur bersama binatang piaraannya dan telah dijalaninya bertahun- tahun. Sungguh, sangat memelas. Bagaimana mungkin di Kota Salatiga masih ada orang yang tidur di kandang? Kalau tak menyaksikan sendiri, sulit dipercaya.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline