Lihat ke Halaman Asli

Baban Sarbana

Social Entrepreneur

Muallaf dari Los Angeles

Diperbarui: 25 Juni 2015   02:46

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

134275024681817842

Ini catatan jelang Ramadhan, ketika saya mengunjungi sebuah mesjid di Los Angeles. Mesjid Umar bin Khattab namanya letaknya di dekat University of Southern California, Los Angeles. Sebelum mengunjungi Natural History Museum of Los Angeles agak terkejut saya ketika melihat ada Mesjid kecil. Do’a saya terkabul, ingin sholat Jum’at di Los Angeles. Saat itu jam 13.30, saya pikir sholat Jum’at sudah usai. Saya lihat ada seorang Ibu yang diikuti anaknya masih remaja; berkulit hitam dan mengenakan pakaian muslim, berlari ke arah mesjid. Saya bertanya kepada mereka: “shalat Jum’at sudah selesai?” Jawab anaknya: “baru mau mulai”. Segera saya ke dalam, mencari tempat wudhu dan langsung menuju ke ruang sholat Jum’at. Tidak luas mesjidnya, beberapa shaf masih kosong. Sebelum masuk, ada 2 security yang menjaga, meminta saya untuk meletakkan tas dan sepatu. Terus terang saja, saya masih kebayang-bayang kalau di masjid Jakarta, ninggalin barang begitu saja, keamanan kemungkinan tak terjamin. Saya simpan tas dan tripod dan masuk dengan menenteng kamera, yang kemudian saya syukuri keputusan itu. Alhamdulillah, bisa shalat Jum’at di masjid yang bernama Mesjid Umar bin Khattab itu. Mendengar adzan di negara adidaya Amerika Serikat tentu rasanya berbeda, apalagi mendengarkan khutbahnya tentang keutamaan Ramadhan. Sepertinya baru saat ini saya tak mengantuk ketika shalat Jum’at. Hehehe. Usai shalat Jum’at, saya melihat sekeliling, ternyata di Mesjid Umar bin Khattab itu, wanitanya juga ikut shalat Jum’at, di shaf belakang. Dari pakaian dan warna kulitnya, kelihatan sekali kalau muslim di Los Angeles itu berasal dari berbagai etnis dan berbagai negara.

13427499711685239837

Marboth, sepertinya, pengurus masjid memberikan ulasan terhadap khutbah Imam masjid. Agak berbeda dengan Indonesia yang begitu usai Jum’atan, berdo’a dan langsung bubar; ternyata ada closing speech, penekanan dari khutbah yang disampaikan. Saya berkenalan dengan seorang muslim dari Turki; langsung saja saya sebut: “Hakan Sukur”; pesepak bola paling terkenal dari Turki yang mencetak gol tercepat sepanjang sejarah Piala Dunia. Pria muslim Turki itu senang sekali dan menanyakan asal saya: “Indonesia”, saya berharap dia menyebut ‘Bambang Pamungkas’, tapi sepertinya sulit ya; hehehe. Pria Turki itu malah menyebut satu nama: “Oh, saya tahu Indonesia, Amitha Bachan?” katanya yakin sekali. Saya jawab, “bukan, itu India, saya dari Indonesia” sambil berpikir, siapa pula artis/bintang film Indonesia yang kira-kira punya branding internasional. Tidak ada ternyata. Marboth masjid Umar bin Khattab pun menyampaikan bahwa ada seorang wanita yang menjadi mualaf, baru masuk Islam dan akan dibimbing untuk membaca syahadat. Indah banget. Mengharukan.

13427500302098483005

Saya segera maju dan mengambil gambar momen yang bersejarah tersebut, paling tidak bagi muslimah mualaf tersebut. Ternyata tak cuma saya yang mengambil gambar, banyak juga yang lain. Usai membaca syahadat dalam kondisi terbata-bata dan dianggap sah, kemudian marboth masjid mengumumkan kepada para wanita yang ada di shaf belakang untuk memberikan pelukan bersahabat sebagai keluarga baru.

13427500651012432163

Saya hampir meneteskan air mata ketika mengabadikan  kejadian tersebut; wanita lintas bangsa yang memeluk hangat seorang wanita muslimah muallaf, diiringi dengan ucapan Marboth Mesjid: “Semoga saja, apa yang kita alami ini adalah bagian dari alasan bagi Allah untuk memasukkan kita semuah ke dalam surga yang mulia”. Semoga di surga nanti juga ada ruang untuk fotografer yang mengabadikan momen tersebut. Tambahan do’a dari saya. Keluar dari masjid, saya melihat banyak dari jama’ah masjid yang menyumbangkan dana di kencleng masjid. Kenclengnya tidak diberi roda seperti di masjid Indonesia, tapi diletakkan di depan masjid, dan bentuknya pun seperti safety box. Di dekat kencleng, ada jadwal Ramadhan dan bulletin yang isinya lokasi masjid di California. Informasi yang sangat berguna.

13427501921944057688

Ketika saya turun, saya melihat ada seorang wanita berusia lanjut yang membawa plang nama dari kardus dan meminta donasi, di sebelahnya ada pria yang menggelar bermacam dagangan akesoris muslim, seperti tasbih, sajadah, minyak wangi, dan berbagai barang lainnya. Mirip-mirip di Indonesia lah, cuma jumlahnya tidak banyak.   Beberapa jamaah memberikan donasi, dan melakukan tawar menawar dengan pria penjual aksesoris muslim tersebut.

13427501531591404403

Ketika saya mengambil gambar, seorang pria, mahasiswa sepertinya, menghampiri saya: “Indonesia?” saya menjawab: “ya.. pastinya”, saking gembiranya. Saya pun berkenalan dengan Mas Damantoro, mahasiswa asal UGM yang sedang mengambil kuliah S2, juruan Public Policy di University of Southern California (USC). Wah beruntung sekali ketemu dengan orang Indonesia. Saya bisa bertanya-tanya dan satu lagi, ternyata Mas Darmanto yang baik hati itu mau membantu saya untuk mengambil gambar/foto. Alhamdulillah, tadinya pake tripod, sekarang ada yang mau bantu. Saya pun kembali ke depan masjid dan berfoto bersama muslim disana. Berkulit hitam, beranting, dan berjubah.

1342750343404088736

Dari Mas Damantoro pula saya mendapatkan informasi bahwa salah satu security di Mesjid Umar bin Khattab adalah Mas Heru, yang asal Jakarta. Wow, lumayan juga, jauh-jauh dari Indonesia, jadi security masjid di Los Angeles. Alhamdulillah, perjalanan di Los Angeles rasanya lebih lengkap, setelah bisa shalat Jum'at dan menyaksikan salah satu peristiwa bersejarah bagi akhwat yang masuk Islam di Mesjid Umar bin Khattab, Los Angeles.



BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline