Lihat ke Halaman Asli

Aurelius Haseng

AKU yang Aku tahu

Bakau yang Mati dan Kesepian

Diperbarui: 15 Februari 2021   12:30

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Senja dengan Laut yang Surut/dokpri

Senja hari ini berbeda dari kemarin. Rona-rona merah yang biasanya menghiasi ufuk barat, juga melatari gugusan pulau, kalah dengan gerombolan awan hitam. Angin yang mengobarkan nyiur-nyiur di sepanjang pantai, menari ria menyambut hembusan itu. Sementara itu, penisi dan ketinting yang masih melaju dengan sisa-sisa berbuih putih di belakangnya terburu-buru mendahului datangnya gelap. Bunyi mesin-mesin itu dikerahkan dengan maksimal.  

Lukisan alam itu mengantar aku kembali ke 20-an tahun lalu. Usia masih bertulang rawan. Ayah mengajak aku mancing di pinggir kali dekat muara. Duduk di atas akar-akar bakau yang kokoh,  melatih dengan sabar kendalikan pancingan.

Di situ pepohonan bakau bertumbuh subur dan menjadi rumah bagi ikan-ikan. Lele, gabus, belanak, punti, dan kakap menjadi target utama pancingan. Kadang pula, kepiting terpikat untuk ditangkap. Tak akan kosong jika pulang.

Teringat selalu pesan ayah saat itu. Ayah bilang: "jangan tebang bakau ini. Ini rumah bagi ikan, sarang bagi unggas. Bakau pun beri udara bersih dan menahan deburan ombak." Tanpa banyak tahu, aku ia kan saja katanya.

Mengenyam SD, setelah ditumpahkan beberapa pelajaran, aku paham, ayah tidak berbohong: bakau adalah rumah bagi sumber makanan warga. Bakau hasilkan apa yang tidak diberikan kebun dan hutan.

Hari-hari tertentu, ketika tidak berkebun, saat laut surut, mata ku berulang kali dibujuk oleh rombongan ibu-ibu yang menjinjing keranjang anyaman bambu atau daun pandan. Dari tengah suara keramaian mereka muncul panggilan khas: "mai ge ha de, mai ngo pese. [1]" Ibu-ibu yang masih dalam rumah menyahut, "gereng cekoen di ha. [2]"

Awalnya aku ikuti saja rombongan itu dengan teman-teman, tanpa membawa keranjang. Di bakau, baru aku sadari, mereka mencari keluka (kerang darah), ikan bandeng, ikan gabus, kepiting pada lubang-lubang kayu. Sambil belajar, tak ketinggalan, aku dan anak-anak kecil lainnya berebutan menangkap udang yang bermain-main di genangan air rawa-rawa bakau.

Masa-masa itu, meskipun tanpa uang, warga sepuasnya menikmati hasil-hasil laut. Anak yang merengek minta ikan, ia hanya diberikan pancingan dan di arahkan ke bakau.

Saat bulan hendak mati, ketika dangkalan laut surut dan mengering, ayah juga mengajari aku menombak ikan dengan kencai_sejenis tombak dengan tiga mata. Saat surut, lautan seperti berubah menjadi daratan. Pada daratan itu, terdapat kubangan-kubangan air yang berdiam ikan, kepiting, atau gurita yang terperangkap. 

Atau, jika tidak mencari ikan, siput-siput laut akan menjadi target. Semuanya halal untuk dimakan_kecuali sejenis ikan_orang kampung menamainya powa atau ikan buntal. "Sekali-kali jangan tergoda, berbahaya nak. Itu maut," kata ayah berulang-ulang ketika melaut.  

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline