Lihat ke Halaman Asli

Pesan Kiai Sya'roni dalam Menyambut Ramadan

Diperbarui: 15 Mei 2018   14:20

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

(@nahdlatululama)

Terkait persiapan mengarungi bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah dan ampunan, kurang afdhal rasanya bila tidak merujuk kepada ulama yang alim dan juga bijak dalam penyampain.

Pada malam Kamis kemarin (9/5) Kiai Sya'roni Ahmadi, salah seorang ulama yang disegani di Kota Kudus menutup pengajian tafsirnya. Pasalnya, di bulan Ramadhan, pengajian tersebut akan diliburkan, dan baru akan dilanjtkan kembali di bulan Syawwal.

Dalam penutupan pengajian rutin tersebut Kiai yang juga mustasyar PBNU ini menyinggung terkait berbagai macam sikap ketika Bulan Ramadhan tiba. Ada yang gembira, biasa saja, bahkan ada yang  sedih.

Orang yang bergembira merupakan orang yang tau dan sadar bahwa, bulan ini merupakan bulan penuh ampunan dan keberkahan. Lantaran jika diibaratkan ladang, merupakan ladang yang sangat subur. Sungguh rugi orang yang tak mau menanaminya. Satu kebaikan saja, paling sedikit dilipatkan 70 kali pahalanya.

Ada orang yang biasa saja dalam menyikapi bulan suci Ramadhan, pasalnya kurang tahu dan kurang paham terkait keutaman bulan tersebut. Tetapi ada juga yang bersedih, lantaran tidak bisa makan di siang hari.

Sebagai seorang muslim yang taat, sudah seharusnya bersikap yang pertama, yaitu merasa gembira karena hadirnya bulan yang mulia. Bukan sikap yang kedua apalagi yang ketiga.

Nah, sebagai bentuk rasa gembira menyambut bulan suci ini sudah barang tentu harus mempersiapkan segala sesuatunya, supaya mendapatkan berkah yang maksimal.

Pertama yang harus kita persiapkan adalah memperlajari ilmu fiqh terkait bulan Ramadhan. Kita harus paham betul aturan main puasa di bulan Ramadhan, apa saja yang diperbolehkan dan apa saja yang dilarang. Tentunya enggak banget bukan bila menjalani ibadah puasa tapi tidak paham apa saja yang membatalkan dan apa saja yg menjadi kewajiban. 

Hal ini mungkin terkesan sepele padahal penting banget loh, pasalnya diakui atau tidak kita terlampau sering kebingungan menjawab pertanyaan sepele seputar puasa ramadhan. Semisal, batal tidaknya menelan ludah sendiri dan diinvus. Padahal, hal ini sudah sering dibahas di dalam ilmu fiqih. Namun, karena malas mempelajarinya akhirnya menjawab ngawur dan tanpa dasar. 

Walhasil, membaca kitab maupun buku yang berkaitan dengan bulan puasa menjadi hal wajib untuk dilakukan. Carilah yg diakui kredibilitasnya, jangan asal dari google. 

Selain mempelajari tata cara berpuasa, tidak ada salahnya mempelajari keutamaan-keutamaan di bulan Ramadhan. Semisal terkait apa saja yang disunnahkan di bulan Ramadhan dan seberapa besar pahala amal di bulan Ramadhan jika dibandingkan dengan bulan lainnya? Kenapa bulan ini begitu mulia? Dan seterusnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline