Lihat ke Halaman Asli

Ariyani Na

TERVERIFIKASI

ibu rumah tangga

Pulau Kelor, Pulau Pemakaman yang Indah dan Bersih

Diperbarui: 1 Agustus 2017   18:29

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Pulau Kelor - Kepulauan Seribu, Jakarta (dokumen pribadi)

Sejak masih berstatus mahasiswi hingga menjadi ibu rumah tangga, ada beberapa pulau di Kepulauan Seribu, Jakarta,  yang sudah saya kunjungi, antara lain Pulau Rambut, Pulau Untung Jawa, Pulau Bidadari, Pulau Tidung, Pulau Laki  dan beberapa pulau lain yang saya sudah lupa namanya.

Karena beberapa kali berkunjung dan menemukan kondisi yang hampir mirip di pulau-pulau tersebut, yaitu bermasalah dengan sampah dan air yang tidak jernih, maka saat kembali diajak berlibur ke Kepulauan Seribu saya tidak terlalu bersemangat. Namun, apa yang saya pikirkan tentang pulau di Kepulauan Seribu yang indah tapi banyak sampah tidak saya jumpai saat berkunjung ke Pulau Kelor pada hari Minggu lalu, 23 Juli 2017.

 Dengan menggunakan kapal cepat, sebelum ke Pulau Kelor, dari Ancol kami menuju Pulau Bidadari untuk makan siang dan beristirahat. Seperti yang saya pikirkan sebelumnya, Pantai Pulau Bidadari yang merupakan sebuah resort tetap tidak terlepas dari banyaknya sampah yang terbawa air laut, dan  hal ini mengurangi keindahan dan kenyamanan pengunjung ke pulau tersebut.

Dokumen Pribadi

Setelah beristirahat dan makan siang, dengan menggunakan perahu kayu, kami menuju Pulau Kelor. Pulau Kelor yang luasnya hanya 2 hektar ini sudah terlihat saat kami masih berada di Pulau Bidadari dan hanya 10 menit perjalanan kami tiba disana. Kondisi yang berbeda dari pulau-pulau lain yang ada di Kepulauan Seribu sudah tampak saat perahu mulai mendekati Pulau Kelor, air yang jernih, pantai yang bersih dan rapi tampak terawat.

Tiket masuk untuk ke pulau ini tidak termasuk dengan harga sewa perahu untuk mengunjungi tiga pulau, jadi saat hendak turun, pemandu dari pulau Bidadari bertanya terlebih dahulu kepada kami apakah kami akan turun atau tidak, bila iya, maka kami harus membeli tiket terlebih dahulu.

Pendopo di Pulau Kelor (dokumen Pribadi)

Obyek utama di pulau ini adalah sebuah bangunan yang terbuat dari batu merah dan sudah runtuh, nama bangunan tersebut adalah Benteng Martello atau benteng bundar. Informasi mengenai Benteng Martello ini saya jumpai di museum yang ada di pulau Onrust.

Benteng Martello ini berbentuk bundar dan tinggi, merupakan bangunan peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1850 sebagai bagian dari sistem pertahanan laut kota Batavia dan sekaligus menjadi menara pengintai. Sejarah Benteng Martello bermula dari Martella Point di kawasan Corsica, Laut Tengah, dan dibangun di beberapa tempat, sehingga tidak heran bila kita akan menemukan bentuk bangunan yang sama di negara lain.

Di pulau ini, bagi penggemar fotografi dan yang suka difoto, benteng bata merah yang sudah runtuh serta reruntuhannya dapat menjadi obyek yang menarik untuk diambil gambarnya. Selain itu, pinggir pantai yang juga terdapat batu-batu sisa reruntuhan dengan air yang jernih menjadi tempat yang menarik untuk jadi obyek atau tempat berfoto.

Air yang jernih bebas sampah (dokumen pribadi)

Setelah meninggalkan Pulau Kelor, kami menuju pulau Onrust, dan kondisi Pulau Onrust ini sangat berbeda dengan Pulau Kelor, karena airnya tidak sejernih Pulau Kelor dan tidak ada obyek untuk dijadikan tempat berfoto, disana terdapat bangunan yang menjadi museum peninggalan masa penjajahan Belanda.

Menjadi pertanyaan menarik mengapa Pulau Kelor yang bersejarah, indah dan bersih ini tidak seterkenal pulau Untung Jawa, Pulau Tidung atau Pulau Bidadari?

Sejarah Pulau Kelor (dokumen pribadi)

Jawabannya mungkin karena pulau ini kecil, tidak ada tempat menginap atau mungkin takut karena sudah mengetahui sejarah pulau ini?
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline