Lihat ke Halaman Asli

Sense and Reflection [FILSAFAT BELUM MATI]

Diperbarui: 23 Juni 2015   23:55

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

13968924722041936824

Tabe. Tabe, Tabe, Permisi lee

"Rasa dan Tindakan"

Ada beberapa pengalaman personal penulis yang kemungkinan besar menjadi latar dari pada tulisan ringkas ini.

Satu, penulis akui bahwa kini diri-nya baru 6 semester mengikuti kelas Filsafat di STAIN (kini IAIN) Palu, dahulu nama sekolah itu agak sedikit berwibawa dimana label Datokarama (pendakwah islam pertama yang datang di Sulawesi Tengah) menjadi ciri khas sekolah berjubel Islam ditanah Kaili, namun silih digantikan tanpa lagi memberikan penghargaan bagi tokoh yang ternyata telah 15th menjadi cikal bakal dari alih statuta beralih ke lembaga berskala Institute. penulis pula kini salah seorang mahasiswa jurusan Aqidah Filsafat (AF) di tempat tersebut..

langsung saja mungkin, satu hal yang terbayang dalam benak penulis perihal silabi, kalau tidak bisa dikatakan jadwal mata pelajaran perkuliahan kasian, yang harus ditempuh oleh setiap mahasiswa S-1. Dalam silabus terdapat matakuliah-matakuliah seperti 'Filsafat Jerman', 'Filsafat Barat', 'Filsafat Timur', 'Filsafat India', 'Filsafat Cina', dan tak ketinggalan 'Filsafat Islam'. satu keanehan dalam silabus itu. tdak ada lee 'Filsafat Indonesia'?

Kedua, saat penulis menjelajahi dunia maya, semenjak bersekolah di sekolah berjubel Islam tanah kaili tsb, penulis beberapa kali browsing artikel-artikel filsafat yang ada di Internet. dari situ, penulis lagi-lagi menemukan artikel-artikel yang sekali lagi menjadi ciri khas dalam pembelajaran filsafat  tiap tahunnya. Dimana, banyak menyinggung 'Filsafat Kontinental', 'Filsafat Cina', 'Filsafat India', atau dalam kata lain buah pemikiran filosof-filosof asing (luar daerah), tapi tak satupun ada artikel tentang 'Filsafat Indonesia", hanya beberapa jurnal singkat, opini kecil yang masih perlu dipertanyakan adanya. bukan tidak aneh aneh kan..

Diantara keanehan itu, penulis sempat mengulang kembali pengalaman personal penulis dari sewaktu bersekolah disatu almamater di daerah provinsi sulawesi tengah, kala itu penulis masih pio-pio (dalam dialek pergaulan orang sulawesi, predikat ini ditafsirkan dalam rumpun usia remaja atau setara usia anak SMA 15-17th). kala itu dalam sebuah kelas biologi. jujur penulis kala itu sangat didiskreditkan dalam proses pembelajaran, mungkin akibat akan sebab awal masuk sekolah berstandar internasional pada waktu itu di provinsi sulawesi tengah (tahun 2008) sudah bertindak sedikit onar.. namun, alhamdulillah kini Sekolah Menengah Atas tsb, kehilangan kastanya terhitung kurang lebih 3-4 th atas dasar keputusan MK (Mahkamah Konstitusi) tentang penghapusan sekolah Nasional bertaraf Internasional.. sukur bukan pas tahun angkatan penulis..hihihiiihi

lebih lanjut, ada bagian yang paling menarik yang dibeberkan oleh guru program studi tersebut yakni anatomi otak manusia dalam perjumpaan perdananya dengan penulis kala itu. Dimana, menurut bapak dengan kumis tebal dan postur tubuh sedikit bongsor, berkata ; Otak manusia terbagi dalam dua bagian, yakni kanan dan kiri. Otak kanan berkaitan dengan kreatifitas, pengenalan wajah dan bentuk 3-dimensi, aktifitas kesenian dan musik, perenungan, imajinasi, dan pengertian global, sedangkan otak kiri berkaitan dengan perhitungan angka, produksi kata-kata, pemecahan masalah, penalaran, dan pengumpulan pengetahuan, kalau tidak salah. dan satu bagian lagi berupa otak kotor, spontan teman-teman saya dalam ruangan 6 x 9 M2 tertawa diujung bait sang mentor.

Selanjutnya, keanehan atau mistisisme itu serasa meningkat dalam 3 tahun terakhir hingga kini berganti tahun (2014), adrenalin itupun, penulis kembangkan menjadi pertanyaan: "jika saja setiap manusia secara anatomis memiliki otak, baik kanan ataupun kiri, maupun bagian tertentu yang dapat mewujudkan bagian atau sistem baru dalam kepalanya, yakni otak kotor dan dengan otak itu manusia mampu berpikir secara mendalam tentang apa yang bergerak, berjuang bahkan bertindak di depan, di belakang, di atas, di bawah, serta di sekelilingnya, mengapakah ide-ide besar, gagasan-gagasan besar, pikiran-pikiran jenial dari manusia Indonesia masa tidak terdengar, terlihat, bahkan cenderung tak popular, dan tak terkenal dalam literatur berstandar internasional?

Dalam perspektif lain, Indonesia kini mulai berumur 70th, sementara (katanya) nusantara mulai dikenal sekitar 3 M, diwakili kerajaan kutai kartanegara. Filsafat indonesia hanya menjadi konsumsi wacana yang kurang dipatriotkan, kurang diprioritaskan hingga Mati suri dibawah bayangan atau dominasi orang-orang dengan postur tubuh besar, cipit, kuat, gagah bahkan hitam... yang menjadi karakteristik para pemikir-pemikir besar skala Dunia??

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline