Lihat ke Halaman Asli

Siska Dewi

TERVERIFIKASI

Count your blessings and be grateful

Kisah Nyata: Free-Range Parenting, Pola Asuh yang Memberdayakan Anak

Diperbarui: 17 Mei 2022   09:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi free-range parenting (sumber foto: freeimages.com)

"Apa istilah untuk pola asuh yang berlawanan dengan pola asuh helikopter?" Sebuah pesan masuk ke WA saya setelah saya membagikan artikel ini di grup WA keluarga besar. Pesan tersebut berasal dari abang sepupu saya. Sebut saja namanya Edfren.

Edfren adalah anak dari tante saya. Kami melewatkan masa kecil di rumah yang sama, di kota kecil Bagan Siapi-api. Sejak usia 3 tahun, Edfren dititipkan kepada nenek kami. Keluarganya tinggal di Sinaboi, sebuah desa nelayan yang berjarak 16,5 km dari Bagan Siapi-api. 

Saat dititipkan kepada nenek, Edfren sudah punya dua orang adik. Mungkin, dia dititipkan kepada nenek lantaran tante memerlukan bantuan untuk mengurus tiga anak balita.

"Waktu kecil, kita tinggal bersama. Tetapi, kisah hidup kita ternyata berbeda. Apa istilah untuk pola asuh yang berlawanan dengan pola asuh helikopter?" Edfren kembali bertanya.

Saya berjanji akan mencari referensi tentang pola asuh yang dimaksudnya, sekaligus meminta izin untuk menganggit artikel tentang pengalamannya. Edfren mengizinkan. Akhirnya, saya menemukan istilah yang dicarinya: "Free-Range Parenting".

Apa Itu Free-Range Parenting?

Dilansir dari washingtonparent.com, free-range parenting telah menjadi pembicaraan selama kurang lebih satu dekade terakhir, meskipun konsep tersebut bukanlah hal baru. Pada tahun 1946, Dr. Benjamin Spock, seorang dokter spesialis anak yang berpengaruh di Amerika, mempromosikan prinsip-prinsip yang mirip free-range parenting dalam "Common Sense Book of Baby and Child," salah satu buku terlaris di abad ke-20.

Spock mendesak orang tua untuk melakukan hal-hal berikut:

* Memercayai insting sendiri

* Membiarkan anak-anak menjadi anak-anak

* Bersikap fleksibel

* Membiarkan anak-anak gagal dan mencoba lagi

Menurut goodhousekeeping.com, gerakan free-range parenting dimulai pada tahun 2008, ketika Lenore Skenazy, seorang kolumnis New York Sun, menulis sebuah artikel tentang bagaimana ia membiarkan putranya yang berusia 9 tahun pulang ke rumah naik kereta bawah tanah, sendirian.

Secara umum, free-range parenting dipandang sebagai kebalikan dari helicopter parenting. "Free-range parenting menekankan pada kemandirian anak dengan pengawasan orang tua yang bijak," kata Dr. Kyle Pruett, M.D., Profesor Klinis Psikiatri Anak di Yale School of Medicine. "Anak diberi kesempatan mengeksplorasi hingga mereka menemukan batasan secara alami."

Jadi, orang tua yang menerapkan free-range parenting mungkin membiarkan anak-anak bermain di luar sendirian, pulang pergi sekolah tanpa pendamping, dan menyelesaikan sendiri masalah yang muncul.

Menurut Dr. Pruett, manfaat free-range parenting antara lain: memberdayakan anak sehingga mampu menyelesaikan masalah, meningkatkan kreativitas, membangun kepercayaan diri, dan memiliki resiliensi yang tinggi.

Merefleksikan Pengalaman Masa Kecil dan Masa Remaja Edfren

"Ibuku buta huruf," Edfren memulai ceritanya. Sambil tertawa dia melanjutkan, "Saat kita umur 3 tahun, juga belum ada gerakan free-range parenting."

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline