Lihat ke Halaman Asli

Menikmati Cuti-cuti Terakhir di Malaysia

Diperbarui: 24 Juni 2015   23:14

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Karier. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Tulisan ini merupakan lanjutan tulisan sebelumnya. Bagi yang punya sentimen berlebihan terhadap Malaysia, saya rasa tidak usah melanjutkan membaca tulisan ini. Dan tulisan ini juga bukan berarti menyanjung negeri Jiran ini secara berlebihan. Mari gunakan logika, karena saya hanya menceritakan pengalaman selama berlibur ke Kuala Lumpur. Hal yang bagus dari mereka layak kita pelajari, terutama dari segi tata kota dan transportasi. Untuk wisata alam dan makanan, saya masih lebih menyukai negeri sendiri.

Hari terakhir di Kuala Lumpur

Menjajal Transportasi Lokal

Oke, 30 September 2012, merupakan hari terakhir saya berlibur di Kuala Lumpur. Sekitar pukul 7 kurang 5 menit waktu setempat, saya menerima 'morning call' yang mengingatkan tur akan segera dimulai. Dan semua peserta diharapkan turun ke lobi. Oya, di sini mataharinya telat muncul. Ketika saya membuka jendela kamar hotel pada pukul 6 pagi waktu setempat, situasi diluar masih gelap layaknya masih subuh.

Setelah semua peserta tur turun ke lobi, kami pun menuju restoran yang tidak jauh dari Hotel. Kali ini, kami sarapan di sebuah rumah makan sederhana 'Safreen'. Entah ini rumah makan melayu atau bukan, karena semua pelayannya orang India. Menu yang disajikan juga beragam. Yang unik, saya mencoba sebuah makanan, nama makanannya juga saya tidak tahu, karena ketika saya menanyakan kepada pelayan, mereka sepertinya tidak fasih berbahasa Inggris ataupun melayu. Bentuknya bulat dan agak keras seperti combro, tapi besar seperti pergedel. Terbuat dari kentang yang dihaluskan dan jagung. Rasanya lumayan, karena terlalu banyak bumbu dan tidak kena ke lidah saya. Tapi, not bad lah, setiap mampir ke suatu tempat, kita harus mencicipi semua makanannya bukan? Hehehee

Setelah menghabiskan sarapan, kami diberikan kebebasan ingin pergi kemana (tidak terikat itennary). Saya dan beberapa rekan memutuskan untuk pergi ke pusat kota dan ingin menjajal mall di sini. Kami pun berjalan kaki menuju stasiun monorail. Kami ingin menuju Bukit Bintang. Dari peta yang ada di stasiun, kami berada di IMBI. Untuk menuju Bukit Bintang kami cukup mengeluarkan uang RM1,2. Entah karena unitnya terbatas, monorail ini tibanya juga lama. Hmm.. Seperti menunggu bus Transjakarta di depan kantor. Selama menunggu, ya foto-foto saja dulu, sambil berharap dalam hati, semoga pembangunan monorail di Jakarta segera terwujud, jadi saya tidak hanya melihat tiang pancang di sepanjang jalan Rasuna Said saja. Ayo dong Gubernur terpilih segera lanjutkan proyek yang terkatung-katung ini.

Sekitar 15 menit, monorail pun tiba, kami langsung masuk ke dalam. Ada kejadian lucu di sini, sebenarnya malu juga sih menceritakannya. Ternyata tujuan kita itu ke Bukit Nanas bukan ke Bukit Bintang. Dan untuk harganya ternyata beda, jadi terpaksa turun di Bukit Bintang, baru bisa melanjutkan ke Bukit Nanas. Dan kami dengan sangat percaya diri, tetap berada di dalam monorail, sampai akhirnya diberitahukan oleh seorang penumpang. Ya, akhirnya kami pun keluar dari monorail. Dan memutuskan untuk berjalan kaki menuju pusat kota (wisata menyehatkan)

Sekitar 10 menit berjalan kaki, kami pun tiba di Pavillion Mall. Dari tampilan luar, bisa dibilang mallnya biasa saja (mungkin karena saya melihat Jakarta sudah terlalu banyak diserbu mall-mal besar ya). Di mall ini kami hanya numpang lewat lantaran kami datang sebelum jam buka. Lalu, kami meneruskan berjalan kaki menuju KLCC Suria Mall, jarak tempuhnya 10 menit juga jika berjalan santai ya. Berada di samping KLCC Suria ini seperti berada di Taman Koleksinya Institut Pertanian Bogor, pemandangan hijau sepanjang mata memandang, jadi ingat Botani Square hehee. Di depan mall ada kolam air mancur. Di belakangnya ada menara petronas dan menara Kuala Lumpur yang sepintas mirip dengan menara TVRI. Menurut mr. Soldier (sopir jemputan), pemandangannya bagus kala malam hari. Lebih bagus lagi jika naik ke Petronas, hmmm, sayang saya terikat dengan itennary.

KLCC Suria Mall ini tergolong besar, dibuka sekitar tahun 1999. Di sini saya tidak berbelanja, entah ya, mungkin karena saya bukan pecinta mall. Jadi ke sini hanya mampir untuk membeli cokelat Bairleys. Oya, tandas awam di sini terbagi dua, ada yang gratis dan ada yang berbayar (2 ringgit). Bicara tandas awam, entah ini hanya pengalaman saya, atau yang lain juga mengalami hal yang sama. Saya dan teman-teman susah menemukan tandas awam yang bersih di sini. Termasuk di bandara.

Oke, kembali ke KLCC, mall ini tergolong mall premier di sini. Lokasi strategis dan nyaman karena ada taman dan kolam air mancur. Hanya saja cuacanya terik saat saya ke sana. Dari KLCC ini kami kembali ke Hotel, karena pukul 13.00 waktu setempat harus tiba di hotel. Kami minta arahan dari satpam mall. Untuk memahami ucapannya, kami musti mencernanya baik-baik. Satpam bilang 'Kalau ingin ke Bukit Bintang naik bas sahaja, percuma, di bas ada tanda green'. Hmm, ternyata yang dimaksud adalah naik bus gratis saja ke Bukit Bintang, yang ada tanda hijau di depan bis. Bisnya berwarna centil, pink. Di depan mall, sudah banyak bus gratis yang ngetem. Kosong pula. Sepanjang perjalanan, saya terus berpikir, bagaimana caranya, Malaysia bisa menyediakan bus gratis? Apa tidak rugi? Informasi yang saya dapatkan sih, free bas ini juga baru diluncurkan dalam rangka menyambut kemerdekaan Malaysia yang ke 55. Beruntung sekali warga Kuala Lumpur ini ya. Sudah gratis, bisa WIFI pula. Untuk rute-rutenya mungkin bisa googling ya.

Well, sebenarnya saya tidak begitu ingat free bas ini mengantarkan kami ke daerah mana (begini nih kalau jalan-jalan gak bawa peta). Tapi kalau dari daerahnya sih, Sungei Wang. Dari sini kami memutuskan berjalan kaki lho ke hotel. Ini irit atau ingin sehat ya? :)). Sebenarnya ada beberapa orang yang ingin naik monorail, tapi lebih banyak yang ingin berjalan kaki sambil menelusuri jalan-jalan tikus di sini dan mampir ke kedai serba aneka (semacam toserba).

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline