Lihat ke Halaman Asli

Perbudakan Barbados, Bentuk Rasisme dan Deskriminasi Pemerintahan Inggris Zaman Dahulu

Diperbarui: 17 September 2022   18:51

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bentuk perbudakan masa lalu (bbc.co.uk)

Raja Charles III baru saja resmi naik tahta Kerajaan Inggris selepas kepergian sang ibu, Ratu Elizabeth II, Kamis (08/09/22) bertempat di Kastil Balmoral Skotlandia.

Ratu Elizabeth II meninggal di usia 96 tahun. Sang ratu tercatat sudah 70 tahun memerintah Kerajaan Inggris, dan sekaligus menjadi yang terlama sepanjang sejarah berdirinya kerajaan.

King Charles III selaku pemimpin baru Kerajaan Inggris akan ditemani oleh sang istri, Camilla yang menjadi pemaisuri. Charles sendiri dilantik menjadi raja ketika menginjak usia 73 tahun, dan menjadi raja tertua sepanjang sejarah berdirinya kerajaan.

Anggota Kerajaan Inggris terkenal akan keramahannya terhadap masyarakat Inggris, namun tahukah kalian bahwa pada zaman dahulu Pemerintahan dan Kerajaan Inggris terkenal akan kekejaman dan diskriminasinya, khususnya tindak rasisme warna kulit.

Dimana orang-orang Eropa berkulit putih dianggap lebih superior dibanding orang-orang berkulit hitam. Inggris dulu sangat memperhatikan hal tersebut.

Perbudakan di Barbados
Bicara soal tindak kekejaman dan rasisme yang dilakukan Inggris zaman dahulu, maka kasus perbudakan di Barbados adalah yang paling mengerikan.

Semua berawal ketika orang Inggris pertama mendaratkan kaki di Barbados pada tahun 1625. Mulanya kedatangan Inggris hanya ingin melihat bagaimana keadaan di Barbados ini.

Ilustrasi perbudakan di Barbados (news.okezone.com)

Seiring berjalannya waktu, perlahan orang-orang Inggris mulai berdatangan dan membentuk koloni. Disini saudagar-saudagar Inggris mulai mengembangkan pertanian dan perkebunan di lahan kosong yang masih cukup luas.

Tanaman yang dibudidayakan adalah tembakau, kapas, dan jahe. Hasil panennya kemudian dibawa ke Inggris untuk dijual. Mereka pun memperoleh keuntungan yang sangat besar dari perdagangan hasil pertanian dan perkebunan di Barbados.

Seperti yang kita ketahui bahwa pada periode 1600-1800an negara-negara Eropa berbondong-bondong mencari wilayah dengan sumber daya alam yang melimpah, 3G (Gold, Glory, dan Gospel).

Sepanjang tahun 1655, Inggris berhasil membawa pulang 7.787 ton gula dari tanah Barbados. Namun siapa yang membudidayakan pertanian dan perkebunan ini, jelas bukan orang-orang Inggris, melainkan budak.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline