Lihat ke Halaman Asli

Siapa yang Bisa Dipercaya Kalau Pembunuhnya Ternyata Polisi?

Diperbarui: 8 Agustus 2022   20:37

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber gambar : azmirror.com

Sudah hampir 30 hari kasus Brigadir J yang tengah menuai banyak perhatian dari segala elemen masyarakat. Berbagai spekulasi mencuat tentang apa fakta sebenarnya dibalik kasus yang berbelit-belit ini, keresahan yang menunggu titik terang dari kasus ini juga yang membuat saya menuliskan pandangan pribadi tentang kasus ini. 

Entah kenapa, saya yang bahkan seseorang yang sangat jarang untuk peduli tentang apa yang terjadi di negeri ini, turut memantau. 

Kasus yang sebenarnya sangat mudah untuk ditelusuri, terkesan menjadi kasus yang paling sulit dipecahkan bahkan oleh penyidik sekalipun. Saya merasa kalau ada sesuatu dibalik ini, dan tidak seperti yang kita ketahui sekarang.

Kalau kata pepatah, 'Kebenaran berada pada bibir-bibir manusia yang sudah mati'.

Brigadir J, meninggal dunia di kediaman Kadiv Propam. Keanehan bermula ketika kasus ini baru diungkap ke publik tiga hari setelah kejadian. Dengan alasan yang sangat 'bodoh' untuk seorang penegak hukum mengeluarkannya ke khalayak ramai. 

Berlanjut dari keterangan yang mengatakan bahwa terjadi baku tembak antar sesama polisi, Bharada E dan Brigadir J, Brigadir J melepaskan 7 tembakan, tidak ada yang mengenai Bharada E. Sementara, Bharada E melepaskan tembakan sebanyak lima kali, berhasil tepat sasaran semuanya. Tidak masuk akal.

 Saat publik terutama keluarga Brigadir J ingin mengetahui kebenarannya, polisi mengeluarkan statement mengatakan CCTV di lingkungan komplek rumah Kadiv Propam mati. Ini memperkuat keanehan yang terjadi dibalik peristiwa ini.

Bagaimana bisa CCTV yang berada di kompleks perumahan dinas kepolisian ini dibiarkan mati begitu saja? Atau sengaja dimatikan?

Tidak adanya upacara penghormatan saat pemakaman Brigadir J, membuat keluarga kecewa dan menuntut dilakukan autopsi ulang. Dan, saat tulisan ini ditulis, pengacara keluarga Brigadir J mengatakan ada lubang di belakang kepala yang ketika dilihat tembus hingga ke hidung. 

Saat petugas autopsi mengecek bagian kepalanya, otaknya tidak ada, dan ditemukan otaknya berada di sekitar dada/perut. Selain itu, ditemukan banyak luka yang diidentifikasi bukan berasal dari senjata api. Katanya baku tembak?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline