Lihat ke Halaman Asli

Amidi

TERVERIFIKASI

bidang Ekonomi

Potensi Ekonomi Umat Pasca Ramadan

Diperbarui: 7 Mei 2022   07:49

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kisah Untuk Ramadan. Sumber ilustrasi: PAXELS

Tak terasa selama sebulan kita bergumul dengan Ramadan. Kini, Ramadan telah pergi yang ditandai dengan perayaan Hari Raya Idul Fitrih. Banyak sudah kenangan dan perolehan yang kita dapatkan. Dari sisi keagamaan, adanya perubahan nilai  keimanan (keimanan meningkat), adanya kegairahan beribadah, dan setrusnya. Dari sisi sosial, timbul semangat untuk berbagi, filantrofi sangat menonjol, tenggang rasa sesama umat kurang beruntung meningkat dan setrusnya. Dari sisi ekonomi, pasar menjadi semarak, dan pedagang berlomba-lomba memburu rupiah, karena memang umat sedang diberikan rahmat yang banyak oleh Allah sepanjang Ramadan tersebut.

Dari sisi ekonomi, semua pedagang atau pelaku ekonomi pun ikut senang dengan datangnya bulan Ramadan, karena mereka mempunyai kesempatan untuk meraup rupiah sejak mulai masuknya bulan Ramadan sampai tibanya Hari Raya Idul Fitrih. Pasar disiagakan sampai larut malam, ada Mall yang buka dari pagi sampai  larut malam, adanya pasar dadakan baik di tempat-tempat keramaian maupaun di kampung-kampung, singkat kata, semua memburu rupiah, terlepas dari adanya unsur mengabaikan rasa kemanusiaan - karena harga-harga pada naik bahkan kenaikannya sudah diluar batas - karena adanya tindakan ekonomi yang menyimpang (barang kadaluarsa, barang diberi pewarna berbahaya bagi kesehatan, dan lain-lian), sekali lagi, bahwa kesemua itu dilakukan mereka demi memburu rupiah.

Pasca Ramadan, kondisi di atas, mulai sirna. Seakan-akan suatu kondisi yang luar biasa tersebut berbalik arah seratus delapan puluh derajat. Pedagang atau pelaku usaha yang melakukan aktivitas bisnis dadakan sudah keluar dari pasar alias "tidak berjualan lagi", pasar-pasar yang digelar dimana-mana tersebut sudah tidak ada lagi, tinggal pasar yang permanen saja.  Singkat kata, Pedagang atau pelaku usaha sudah mulai melakukan aktivitas bisnisnya biasa-biasa saja bahkan satu minggu pasca Hari Raya Idul Fitrih, masih ada toko belum buka, biasanya pasar baru normal setelah dua minggu kemudian.

Mengapa demikian? Mengapa masyarakat atau konsumen sudah tidak bergairah lagi? Kalau sepanjang Ramadan konsumen berbelanja cendrung emosional, saat ini konsumen mulai "tiarap". Pedagang atau pelaku usaha, seakan-akan kehilangan momen yang sangat berharga tersebut? Apa yang harus kita lakukan dalam sebelas bulan kedepan (sebelum datangya Ramdan berikutnya).

Potensi Ekonomi Umat Pasca Ramadhon.

Sebetulnya, bila kita pandai mengelola dan mensyukuri Rahmat Allah yang dianugrahkan-Nya sepanjang bulan Ramdhon tersebut, baik umat atau konsumen maupun pedagang atau pelaku usaha, bisa saja kita mempertahankan kondisi pasar yang bergairah tersebut. Terlebih bila kita dapat memanfaatkan potensi pasar dan kekuatan ekonomi umat tersebut.  Sebagai contoh saja, dengan gairah "berbagi" dalam bentuk zakat,infaq dan sodaqoh tersebut saja, maka akan ada multiplier effect untuk mendorong ekonomi umat dan menciptakan  kegairahan pasar. Bayangkan,  potensi zakat, infaq dan sodaqoh  di Indonesia  sebesar ratusan  triliun rupiah lebih tersebut  belum terwujud atau belum jadi kenyataan (riil). Betapa luar biasanya ekonomi umat, terutama ekonomi kaum mustadafin yang menerima zakat tersebut.. Namun, sayang,  potensi itu baru terwujud sekitar 20 sampai 30 persen saja.

Artinya masih banyak umat Islam yang belum menunaikan kewajibannya untuk mengeluarkan zakat, infaq dan sodaqoh tersebut. Lain hal nya dengan pajak, atau kewajiban umat terhadap negara. Relatif kecil umat yang tidak membayar pajak, mengapa? Karena mereka takut dengan konsekwensi hukumnya. Mengapa terhadap kewajiban agama (zakat, infaq dan sodaqoh) umat masih enggan? Karena konsekwensi hukumnya (azab) Allah belum dipahami secara utuh. Mereka masih mengabaikan keberkahan harta kekayaan, mereka masih mengabaikan multiplier effect atas kegiatan ekonomi zakat, infaq dan sodaqoh. 

Apabila tradisi mengeluarkan/membayar/menunaikan zakat, infaq dan sodaqoh pada bulam Ramadan tersebut terus dipertahankan sepanjang bulan, betapa besar potensi ekonomi umat yang dapat tergali. Contoh sederhana saja, celengan (kotak amal) yang diedarkan dimasjid dengan ukuran kapasitas 100 jamaah, setiap malam saja terkumpul rata-rata Rp. 1.000.000,-  atau satu bulan akan diperoleh sekitar Rp. 30.000.000,- suatu potensi yang luar biasa,bukan?

Begitu juga dengan tradisi mudik yang merupakan tradisi tahunan tersebut. Walaupun pun macet, tetap saja mudik kita jalankan. Secara ekonomi, macet dalam perjalanan mudik tersebut menghilangkan  biaya yang tidak kecil, terutama bagi umat yang mudik ke luar provinsi. Macet bukan hanya menghabiskan minyak kendaraan, tetapi menyita pikiran, emosi dan waktu. Bila dikalkulasikan dengan uang/biaya, maka akan timbul biaya yang luar biasa. Bayangkan, hanya untuk menunggu masuk kapal penyeberangan ke pulau Jawa saja membutuhkan waktu 10 jam lebih, belum macet untuk antre mennunggu masuk pintu gerbang tol dan macet dalam perjalanan lainnya.

Perbaiki Tradisi Demi Keberkahan.

Memang rasanya sulit mengubah tradisi yang sudah menahun tersebut, namun, saya rasa umat masih ada peluang untuk memperbaiki tradisi yang menyimpang, tradisi yang cendrung menyesatkan tersebut. Misalnya; ada suatu daerah pada saat lebaran (hari raya idul fitrih) setiap rumah harus menyediakan daging sapi, jika tidak ada semacam hukuman adat atau hukuman sosial (baca: terkucilkan). Misalnya ada semacam pameo, jika tidak baju baru, kue yang beragam, lebaram kurang hikmad (kurang seret) dan masih banyak lagi tradisi yang menyimpang tersebut.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline