Lihat ke Halaman Asli

Amak Syariffudin

Hanya Sekedar Opini Belaka.

Tahun Baru yang Muram

Diperbarui: 29 Desember 2020   10:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

(KOMPAS.COM/ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Meski seolah dipaksa-paksakan menjadikan memperingati datangnya  Tahun Baru 2021 agar cukup meriah, antara lain hiasan lampu-lampu dimana-mana, namun dalam realitanya situasi dan suasananya tetap menyedihkan. Muram. Semua sektor dalam kehidupan berpolitik, sosial, ekonomi dan budaya bagi kalangan pemerintahan dan masyarakat tidak ada yang "gemebyar". Justru "byar-pet". Menyala dan padam.  Kondisi macam itulah dalam menutup tahun 2020 dan membuka tahun 2021 diseluruh negara didunia.

Apabila orang-orang yang selalu memeriahkan datangnya Tahun Baru berikut harapannya agar di tahun mendatang itu kehidupannya menjadi lebih cerah, damai dan sejahtera, harapan untuk menghadapi tahun 2021 sekarang sama . 

Namun teriring rasa pesimis, apakah benar tahun depan kondisi kehidupan politik, sosial, ekonomi dan budaya menjadi lebih baik. Ke semuanya karena kecutnya hati memperhatikan berkembangnya pandemi maut covid-19 sampai dengan tutup tahun 2020. Itu juga justru terjadi diseluruh dunia. Meskipun hampir semua negara mencari obat (vaksin) penyembuh covid-19. 

Harapan bagi penganut agama Islam berpegang pada sabda Tuhan YME, bahwa "Tuhan menjatuhkan penyakit  (yang hebat) kepada manusia, namun manusia akan bisa menemukan obat penyembuhnya." Jadi kembali pada sikap dan upaya manusia sendiri (tentu mereka yang berpengetahuan dibidangnya) untuk dapat menciptakan jenis obat yang manjur penyembuh/penangkal virus itu.

Dari awan gelap pembawa maut covid-19 yang mengambang diatas kehidupan manusia itu, juga tidak lepas dari kepedulian yang tinggi dari para pemegang kekuasaan pemerintahan masing-masing didunia.

Bagi pemerintahan kita, Presiden Jokowi yang harus melakukan "bongkar-pasang" Kabinetnya dengan menggantikan Menteri dan wakilnya yang dianggap kurang sigap menghadapi situasi dan kondisi sekarang, tidak lekang memperingatkan para Kepala Daerah di seluruh Indonesia agar aktif berusaha untuk menghindarkan dan menindas covid-19 serta membangkitkan kembali unsur sosial, ekonomi, budaya yang terpuuruk akibat pandemi itu. Meskipun sampai saat ini, beberapa daerah masih dikalahkan oleh setan covid-19. 

Fasilitas ruang perawatan rumah-rumah sakit milik pemerintah dan swasta dengan cepat menjadi penuh. Kekurangan tenaga kesehatan menjadi keluhan utama para penyelenggara rawatan kesehatan.  Yang memprihatinkan, justru lahan pemakaman bagi penderita covid-19 yang meninggal dari hari ke hari menciut. Dan pemerintah daerah setempat harus mencari lahan-lahan baru untuk dijadikan makam.  

Jadi, dalam tahun 2021 sebagaimana diharapkan oleh setiap orang yang memperingati pergantian hari dari 31 Desember menjadi 1 Januari, adalah setiap manusia didunia ini menjadi tertawa gembira karena adanya harapan baru yang menggembirakan. Namun dalam realita kondisi sekarang, cukup dengan bibir yang tersenyum saja dikarenakan merasakan ada sesuatu yang dapat memberikan harapan. 

Kiranya senyuman itu cukup menggambarkan sikap positivisme kita untuk menghadapi kehidupan yang cerah dengan kemampuan meninggalkan situasi muram tahun yang telah kita lewati. Tidak berlebihan, bahwa  antaralain yang berupa kebijakan Pemerintah menetapkan pemberian vaksin anti covid-19 secara gratis sejak awal tahun 2021 dalam upaya mengalahkan pandemi itu dan membuat kembali cerahnya kehidupan kita. 

Kiranya tidak berlebihan bila saya pun sambil tersenyum ikut mengucapkan Selamat Tahun Baru 2021.




BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline