Lihat ke Halaman Asli

Ali Musri Syam

Belajar Menulis

Puisi: Percakapan Malam

Diperbarui: 7 Juni 2021   21:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Puisi Percakapan Malam (Dokpri @ams99_By.Text On Photo)

Percakapan Malam

Ketika malam sibuk mengurus dirinya
Hangat cuaca menggoda jendela membuka daunnya
Tak ada percakapan sebelumnya
Lalu tiba-tiba selembar daun jati mencium tanah

Seketika dahan bertanya kepada ranting
; Mengapa kau tak menopang?
Belum saatnya mangkat
Ia masih sangat belia

Daun yang masih ranum
Tertelungkup menindih rumput-rumput
Di antara mereka ada yang mengeluh
Bagaimana jika udara diam dan hujan tak meluruh?

Episode malam menunggu takdirnya
(Pohon berujar); jika angin berhembus, hujan mengadar
Semakin banyak daun-daun rontok
Kalian (rumput-rumput) semakin terpojok

Rumput menjawab; berdoa kami yang terbaik
Cukupkan malam ini hingga pagi
Embun-embun yang ramah
Hingga mentari muncul memanah

Bagi rumput adalah sumber makan
Bagi pohon tak kehilangan daun-daun
Bagi selembar daun memantaskan diri menjadi humus
Bagi tanah menjadi anugerah
; Semua menuai bakal manfaatnya

Balikpapan, 07.06.2021
Ali Musri Syam Puang Antong

*Baca Juga Puisi Lainnya:

Puisi Sebelumnya: Ketika Zaman tak Mengenal Tuannya

https://www.kompasiana.com/alimusrisyam/60bcd4768ede48380b4a5362/ketika-zaman-tak-mampu-mengenal-tuannya

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline