Lihat ke Halaman Asli

Alfian Syaifudin Fadli

Desainer, Mahasiswa

Fakta Unik PT Freeport, Perusahaan asing yang Menguasai Harta Karun Tanah Papua yang Harus Kamu Ketahui

Diperbarui: 16 Mei 2022   12:53

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Daerah tambang Freeport di Papua. Gambar diambil dari liputan6

Halo sahabat kompasiana...
Negeri kita ini memang masih tergolong negara berkembang, namun soal sumber daya alam Indonesia sangat dipandang dunia. Sumber daya alam terbesar di dunia dipegang oleh Brazil dan Indonesia berada di posisi kedua. Bahkan di sektor tambang Indonesia punya peringkat di atas, berada di Kabupaten Timika Papua.


PT Freeport memegang kendali mengelola tambang ini, yang sudah terafiliasi dengan Freeport McMoran. Cerita lama yang terus diperbincangan yaitu soal bagi persen Freeport dalam menangani kekayaan Indonesia yang terus menjadi rebutan. Berikut fakta unik PT Freeport yang menguasai harta karun Tanah Papua yang harus kamu ketahui.


Freeport adalah salah satu perusahaan tambang terbesar dunia
Salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia, PT Freeport Indonesia atau PTFI berdiri sejak April 1967. Mulai mengelola kekayaan Indonesia yang terletak di Mimika Papua. Freeport Indonesia bagian dari BUMN sektor pertambangan yakni Mining Industry Indonesia dan sahamnya dimiliki PT Indonesia Asahan aluminium atau Inalum serta Freeport-McMoran.

Freeport-mcmoran ini salah satu produsen emas terbesar di dunia asal Amerika yang memiliki jajaran anak perusahaan, termasuk PT Freeport Indonesia. Tambang di Papua bernama Tambang Grasberg. Bayangkan saja kapasitas produksi tembus angka 238 ribu ton perhari.


Puncak eksplorasi cadangan tembaga dan emas terjadi pada 2001
Eksplorasi cadangan tembaga dan emas mencapai puncaknya tahun 2001, bahkan lebih dari 140 triliun investasi telah dibenamkan di pertambangan ini. Setelah Presiden Soekarno lengser, PT Freeport mulai mengeruk isi perut gunung emas Papua. Sejak itulah Freeport seolah Jadi hal yang selalu menjadi pembahasan turun-temurun setiap peralihan pemerintahan. Siapapun presiden Indonesia yang terpilih sepertinya tak berdaya menghadapi soal tambang terbesar, yang jelas-jelas berada di Indonesia.


Menurut data PT Freeport Indonesia, cadangan tambang yang tengah digarap PT Freeport Indonesia mencapai 2,27 miliar ton bijih. Terdiri dari 1,02 % tembaga, 0,83 gram per ton emas, dan 4,32 gram per ton perak. Sedangkan berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dari cadangan ini produksinya bisa mencapai 109,5 juta ton bijih per tahun, dengan usia tambang 23,5 tahun.


Jadi bukan hanya memproduksi emas, perak, dan tembaga saja, Freeport pun memproduksi molybdenum dan rhenium, sebuah hasil samping dari proses biji tembaga. Begitu melimpah hasil yang didapatkan dari kekayaan Indonesia.


Freeport memiliki jumlah pekerja yang fantastis
Sebagai tambang dengan sistem kontrol satu titik ini mampu mengawasi area tambang seluas 10 ribu hektar dengan wilayah pendukung 202 ribu hektar. Tentu saja memerlukan pekerja yang tidak sedikit yakni mencapai 12 ribu orang.


Puluhan tahun sudah freeport mengeruk emas dan mineral lainnya di bumi Papua, sayangnya hasil tambang justru tidak diolah dalam negeri melainkan diekspor dalam bentuk konsentrat. Indonesia yang memiliki banyak sumber daya alam tidak sebanding dengan hasil kepemilikan yang diperolehnya sehingga negara tidak terlalu diuntungkan dalam hal ini.


Mengakali penerimaan yang seharusnya masuk ke negara pemerintahan akan melarang ekspor mineral mentah. Dibuatlah Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan mineral dan batubara yang mewajibkan perusahaan tambang untuk membangun smelter yakni pengolahan bahan mentah tambang menjadi bahan jadi.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline