Lihat ke Halaman Asli

Alex Japalatu

TERVERIFIKASI

Jurnalis

Saya, Radio dan Kenangan-kenangan

Diperbarui: 5 Desember 2022   15:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Radio menjadi salah satu benda elektronik yang berperan dalam globalisasi. (freepik.com/ visnezh)

Saya meliput ke Biak di Papua pada Agustus 2020. Tepat pukul 10.00 WIT setiap hari, lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dari corong RRI Pro 1 Biak. Saya merasa heroik sekali. Biak yang selalu panas cuacanya, bikin darah Indonesia saya menggelegak. Kita tetap satu Indonesia, kawan!

Ada tiga hal yang saya lakukan ketika datang ke sebuah daerah yang baru yakni: berkunjung ke pasar tradisional, berkeliling naik angkot atau ojek, dan mendengarkan radio. Sebab menurut saya, selain ringan di kantong dan  mudah dilakukan, melalui tiga hal ini saya bisa memperoleh gambaran  tentang sebuah daerah.

Dan radio? Sekarang mudah diakses lewat android, murah dan menjadi hiburan gratis. Praktis tak ada uang keluar.

Kalau saya ke Sumba, apalagi di Sumba Timur, saya pasti mendengarkan Radio Max FM. Saya suka lagu-lagunya. Dus, pas juga kenal pendiri dan pemiliknya, Bung Heinrich Dengi. 

Sampai sekarang saya masih sering mendengarkan Radio Max FM melalui Radio streaming. Terutama ketika Bapak Frans W. Hebi (80) mengasuh rubrik budaya. Dia seperti kamus berjalan saja. Tahu tentang banyak hal. Saya pikir mendengarkan radio melalui internet bisa menjadi pilihan, sehingga radio bisa terus mengudara.

Radio masih dipakai oleh PBB untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian (Sumber: news.un.org)

Dalam obrolan saya dengan Bung Heinrich, siaran radionya masuk sampai ke pelosok-pelosok yang sangat jauh di Sumba. Pesan pembangunan dari pemerintah kerap disiarkan melalui radionya. Soal vaksin, hama belalang, desa wisata, tenun ikat, pertanian organik, bencana longsor dan sebagainya. Apalagi sekarang dikemas secara lebih apik. Dalam bentuk podcast. Yang bisa disiarkan kembali.

Radio transistor seperti ini yang pernah kami miliki (Sumber: Panasonic.com)

Radio sungguh melekat dalam ingatan saya. Susah dihapus lagi. Karena masa kecil hingga remaja kami (saya dan kakak-adik) pada era 1980-an di Sumba hanya diisi oleh radio. 

Pengalaman ini kemudian dikuatkan ketika saya kuliah di Yogyakarta. Kota Pelajar ini, ketika itu, penuh dengan radio. Tinggal pilih saja. Mau lagu apa, kuis apa. Cerita silat? Lagu-lagu Iwan Fals yang diputar nonstop dari radio di atas bukit sana? Semua ada. Dan juga warganya sangat gemar mendengarkan radio. Terutama siaran-siaran wayang. Beberapa teman saya bahkan bisa "menyambung" uang bulanan yang tak lancar datangnya dengan mengikuti beragam kuis di radio.

Dan ketika masuk ke Jakarta, saya kemudian mengasuh sebuah acara di Radio Pelita Kasih (RPK) di Cawang, Jakarta Timur dalam program "Momen Inspirasi". 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline