Lihat ke Halaman Asli

Aldila Dense

Make It Happen

Adaptasi Disiplin Ilmu Komunikasi di Masa New Normal

Diperbarui: 8 November 2020   22:05

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Pixabay

Pada 1 Juni 2020 lalu, penerapan new normal sudah dilakukan. Masyarakat Indonesia tetap beraktivitas dengan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah seperti menggunakan masker, selalu cuci tangan, dan jaga jarak. Seluruh industri di masa new normal kembali aktif setelah vakum selama 3 bulan.  Aktivitas berusaha dijalankan senormal mungkin dengan kondisi new normal saat ini.

Kebutuhan berkomunikasi interpersonal tetap dilakukan walaupun ada jarak yang memisahkan. Komunikasi tatap muka digantikan dengan komunikasi melalui layar smartphone dan komputer.  Contoh case study yang bisa diangkat adalah di industri pendidikan, dari tingkatan sekolah dasar sampai perkuliahan menggunakan sistem sekolah online atau daring. Di dunia pekerjaan aktivitas meeting dan brainstorming dilakukan dengan media Google Meet dan Zoom. Aktivitas entertainment dan forum pun dibantu dengan streaming dan webinar.

Keadaan new normal membuat manusia tidak punya pilihan untuk beradaptasi dengan berkomunikasi melalui layar. Dengan tujuan utama pencapaian dari target yang sudah direncanakan bisa tercapai. Adaptasi ini tentunya tidak mudah. Komunikan dan komunikator harus struggle dalam menyampaikan pesan dan menerima pesan dengan banyak gangguan, seperti koneksi internet yang kurang stabil dan kurangnya kuota internet. Menurut data dari Hubspot, 20% kendala pada komunikasi dari layar adalah kurangnya komunikasi dan kolaborasi, 20% adalah kesendirian, 18% kendala pada internet, dan 12% gangguan dari rumah.

Sumber: Hubspot

Jika melihat sisi positifnya, komunikator dituntut untuk menjadi lebih kreatif dalam menyampaikan pesannya. Secara otomatis skill komunikasi pada komunikator di masa new normal ini menjadi lebih ter-upgrade lagi dari sebelumnya.

Social media pun juga mempunyai imbas yang significant di masa new normal. Social media juga tidak hanya untuk digunakan oleh individu tetapi juga dimanfaatkan oleh brand.

Bisa dikatakan berkomunikasi di social media bukan kebutuhan individu di masa new normal ini, tetapi telah menjadi kebutuhan brand untuk terus berhubungan dengan konsumennya.

Dari survei Japat pada semester ke 2 di 2020, 84% kebutuhan dari Instagram adalah untuk berkomunikasi, 77% untuk eksistensi diri, 71% untuk mencari informasi, dan 52% untuk brand engagement. Terbatasnya kegiatan tatap muka di masa new normal telah meningkat untuk membangun  personal branding di digital baik individu maupun brand.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline