Lihat ke Halaman Asli

Aksara Sulastri

Freelance Writer Cerpenis

Cerpen: Jrakah, Tugu Gerobak Nasi Goreng

Diperbarui: 23 November 2022   22:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gambar diambil dari Tribun Jateng

Seseorang yang turun dari angkot, bernama Talban. Usianya sudah 40 tahun, beliau datang untuk mengunjungi sahabatnya. Jrakah menyambut dengan membawakan sepiring nasi goreng, spesial dia buat sendiri.

"Warungmu kini semakin ramai, Jra. Selamat atas keberhasilannya. Kau sudah sukses sekarang," Talban memberi pujian.

Jrakah menjawab dengan sungkan, "Ini hanya warung kecil. Belum seberapa dibandingkan sahabatku yang sukses di tanah rantau."

Talban tertawa.

Jelas Warung ini sangat luas, dengan pagar bambu disertai hiasan lampu-lampu yang membuat menarik para pelanggannya. 

Kesuksesan yang seperti apa? Yang diartikan sahabatnya itu. Talban sudah gagal. Usaha yang dirintis susah-susah telah bangkrut. 

Talban terdiam, Jrakah bisa merasakan kegundahan hatinya. 

"Mumpung masih anget nasi gorengnya, dimakan dulu, Ban." Jrakah mempersilahkan tamu spesial untuk menikmati suguhan nasi goreng dan teh hangat. Baru kali pertama mereka berjumpa kembali. 

"Rasanya masih sama, lezat seperti dulu. Kau membuat resep nasi goreng ini lebih menggoda."

Ada telur mata sapi di atasnya. Talban ingat waktu semasa remaja mereka sama-sama membuatnya. Dengan nasi putih yang digoreng dengan aneka bumbu dari bahan rempah-rempah seperti kemiri, bawang merah, bawang putih, merica, penyedap rasa dan terasi serta sambal.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline