Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Akmal Latang

Melihat hidup ini dari perspektif sendiri, bukan mata orang lain

Terapkan Hukum Semi-Otoriter, Rezim Jokowi Miskin Hati

Diperbarui: 8 Februari 2019   13:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Raport Merah Penegakan Hukum Jokowi / idntimes.co.id

Berkali-kali rakyat Indonesia dipertontonkan sebuah kepemimpinan otoriter oleh rezim, entah karena sadar kapalnya akan tenggelam atau karena dipaksa selamatkan bandit yang memegang tanduk banteng, akhirnya banteng dipaksa seruduk kiri kanan.


Elektabilitas penguasa yang mangkrak menjadi pemicu kekacauan negeri demokrasi yang berubah menjadi semi-otoriter ini, akibatnya berjatuhan korban yang memperjuangkan kebenaran dengan caranya sendiri.

Mereka yang menyuarakan kebenaran dan mereka yang menuntut kebatilan malah dihukum, mereka yang memperjuangkan rakyat kecil agar hidup sejahtera, mereka yang sama sekali tidak merugikan siapapun, namun mereka pula yang dibungkam, mereka yang dihukum tanpa alasan yang masuk akal.

Negeri ini dijajah selama ratusan tahun, teriakan pejuang, teriakan santri dan teriakan kaum intelektual-lah yang membuat negeri ini merdeka, namun kemerdekaan seutuhnya belum dirasakan oleh masyarakat kebanyakan, kekuasaan membuat mereka buta akan penderitaan yang diakibatkan ketidakadilan di negeri ini.

Saat atmosfer kemerdekaan mulai dirasakan dengan adanya teriakan pejuang, hukum dijadikan alat penguasa untuk berbuat otoriter, membungkam siapapun yang tidak sejalan dengan pemikirannya, apakah ini kerajaan? Bukan, ini negara demokrasi, negeri ini dibangun bukan berdasarkan harta dan tahta, tapi pemikiran tentang hak asasi dan keadilan bermasyarakat.

Buni Yani dan Ahmad Dhani menjadi salah satu pejuang yang berhasil dibungkam oleh penguasa karena teriakan mereka ditakuti oleh para cukong berandal yang masih bertengger di menara istana, teriakan mereka ditakutkan akan membuat masyarakat sadar akan ketidakadilan para penguasa.

Teriakan Ahmad Dhani memang keras menghantam para pendukung penista agama, namun semua itu adalah ekspresi kekesalan kepada mereka yang menistakan kepercayaan seseorang, bukankah pancasila sebagai dasar negara menyatakan ketuhanan yang maha esa pada sila pertamanya? Artinya pancasila menjamin hak warga negara memeluk agamanya masing-masing tanpa adanya penistaan diantaranya?

Mereka yang menistakan agama orang lain di negeri ini jelas adalah kejahatan berat, mereka telah melukai puluhan bahkan ratusan hati di negeri beradab ini, lalu apakah salah jika mereka dihukum? apakah salah jika mereka dibenci? Memang mereka adalah manusia, tapi bukan berarti mereka berhak menistakan agama orang lain seenaknya.

Lalu ketika ada seorang yang berani meneriakkan perlawanan terhadap mereka yang mendukung kelakuan biadab ini, malah dihukum dan dibungkam tanpa ada alasan yang masuk akal, bukankah tidak ada yang mengaku menjadi korban, lalu siapa yang dirugikan?

Yang dirugikan adalah penguasa, karena tokoh yang melantunkan teriakan kebenaran tersebut adalah karakter yang tidak sejalan dengan penguasa, dia selalu melakukan kritik terhadap penguasa, kritikannya selalu menjadi bahan perbincangan masyarakat banyak, kritikannya membela yang benar dan menghantam yang salah, karakter ini yang ingin dimusnahkan oleh penguasa.

Yang mengherankan adalah setiap fakta dan data yang diperlihatkan oleh para pejuang ini malah dituduh hoax, segala data ahli yang tidak sejalan dengan kemauan penguasa adalah dusta dimata mereka, penderitaan rakyat yang dihasilkan oleh keserakahan mereka pun disangkalnya, entah rezim ini tidak punya mata atau tidak punya hati?

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline