Lihat ke Halaman Asli

Akbar Pitopang

TERVERIFIKASI

Berbagi Bukan Menggurui

Wajarkah "Long Distance Parenting" Jadi Solusi Pola Asuh Anak Indonesia?

Diperbarui: 11 Agustus 2022   06:08

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi orangtua menitipkan anak dengan keluarga di kampung sebagai Long Distance Parenting (Sumber: istockphoto.com)

Idealnya, kegiatan proses pengasuhan memang melibatkan interaksi yang intens secara langsung antara orangtua dan anak. Namun, dalam situasi tertentu, pengasuhan jarak jauh alias long distance parenting terpaksa harus dilakukan.

Pola asuh jarak jauh ini terjadi lantaran orangtua mesti bekerja jauh di luar kota atau luar negeri. Meski pada beberapa waktu yang ditentukan dapat kembali berjumpa, tetapi proses interaksi antara orangtua dan anak sering dilakukan secara virtual via video call.

Kali ini, penulis akan berbagi pengalaman terkait bagaimana kami sebagai orangtua memilih strategi parenting untuk pola pengasuhan buah hati.

Penulis sendiri adalah termasuk seorang perantau. Sejak SMP, penulis sudah hidup jauh dari keluarga di kampung dan terus berlanjut hingga kini setelah menikah pun penulis masih terus menetap di perantauan.

Entah mengapa hal ini harus terjadi. Tapi, jalan hidup ternyata berkata lain. Hujan emas di negeri orang mungkin sudah menjadi sebuah pilihan hidup bagi penulis yang telah digariskan oleh Tuhan untuk mengundi nasib dan peruntungan di negeri orang.

Pasca menikah pada Juli 2018, penulis langsung hijrah ke Pekanbaru.

Kebetulan istri bekerja sebagai seorang tenaga kesehatan di salah rumah sakit swasta disana. 

Akhirnya setelah dengan pertimbangan yang matang dan terencana akhirnya penulis lah yang memilih untuk resign dan memutuskan untuk hijrah.

Kami hidup di perantauan ini hanya berdua saja dimana tidak ada di antara anggota keluarga kami yang juga merantau di kota yang sama.

November 2019, putra pertama kami lahir ke dunia ini. Tanpa bersikap ria, alhamdulillah anak kami dapat tumbuh menjadi anak yang sehat, pintar, dan aktif.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline