Lihat ke Halaman Asli

Ahmed Tsar Blenzinky

TERVERIFIKASI

Blogger | Content Creator | Sagitarius

Langgam Caping Gunung

Diperbarui: 4 April 2017   17:57

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Photobucket

Setiap mendengarkan langgam caping gunung, bulu kuduk saya merinding terkadang malah air mata meleleh dari sarangnya. Perasaan saya terbawa oleh makna filosofis lagu campur sari ini. Lagu ini bercerita tentang kerinduan orang desa terhadap belaian jasa orang kota. Maksudnya, wahai orang-orang kota tengoklah kampungmu, berikanlah kesejahteraan terhadap penghuninya.

Langgam yang diciptakan oleh Gesang ini, liriknya sederhana namun penuh metafor. Misalnya kata caping gunung itu sendiri. Caping gunung adalah pelindung kepala berbentuk seperti gunung. Topi ini terbuat dari anyaman bambu. Aksesoris ini biasanya digunakan oleh orang desa untuk beraktivitas guna melindungi kepala dari sengatan matahari. Akan tetapi fungsi dari caping gunung tidak hanya untuk beraktivitas melainkan juga bisa digunakan untuk menyamar.

Metafor caping gunung sebagai penyamaran inilah yang didendangkan lagu caping gunung. Berikut terjemahan bebas narasi lirik lagu tradisional bahasa Jawa Mataraman ini

Wahai orang-orang kota, ingatkah engkau pada zaman perang kemerdekaan. Pada saat engkau menggungsi ke desa karena kotamu diluluhlantakkan oleh penjajah. Engkau jadikan desa kami tempat berlindung dan engkau sendiri menyamar sebagai penduduk desa. Sebagai penduduk desa, engkau sama seperti kami yang tiap hari makan nasi jagung dan memakai caping gunung. Hingga pada saatnya engkau semua kembali untuk merebut kotamu dan memproklamirkan kemerdekaan. Saat ini di zaman pembangunan, apakah engkau mengingat kami? Padahal kami ingin tahu kabar engkau, apakah engkau bahagia disana. Kalau engkau bahagia, tularkanlah kepada kami atau anak cucu kami dengan kesejahteraan. Caping gunung yang dulu sering engkau gunakan masih kami simpan.

Hiks…..menurutku dalam sekali pesan lagu ini. Pernah menyaksikan film “janur kuning”? film ini adalah film perjuangan mengenang peristiwa “serangan umum 1 Maret”. Salah-satu adegan dalam film tersebut menggambarkan aktor pemeran Pak Harto memakai caping gunung.

Pesan lagu ini bagi saya “evergreen” untuk semua yang merasa melupakan desa, baik sengaja maupun tidak. Melupakan karena sudah menjadi orang kota. Sekarang zamannya urbanisasi, hampir sebagian besar orang produktif di desa pindah ke kota besar. Sehingga desa kosong akan tenaga-tenaga produktif yang berakibat desa tak pernah sejahtera.

Oia, mengapa langgam caping gunung mengena perasaan saya sehingga membuat hati treyuh? ketika langgam itu berkumandang, memori saya selalu mengkaitkan isi pesan caping gunung tersebut dengan cerita tutur tinular ibu tentang almarhum kakek. Pada zaman perang kemerdekaan, rumah kakek di Desa Jemur Kebumen sering dijadikan tempat bersembunyi para pejuang. Sampai kakek meninggal tahun 90an, tidak ada semacam “balas jasa” dari para pejuang setelah zaman kemerdekaan. Saya kira, kondisi ini banyak juga dialami oleh “kakek-kakek” desa lainnya yang hidup di bawah garis kemiskinan.

berikut lirik langgam caping gunung

Dhek jaman berjuang Njuk kelingan anak lanang Biyen tak openi Ning saiki ana ngendi

Jarene wis menang Keturutan sing digadang Biyen ninggal janji Ning saiki apa lali

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline