Lihat ke Halaman Asli

Telisik Data

TERVERIFIKASI

write like nobody will rate you

Riset NIH: Jalur Pelarian Corona Terendus, Begini Cara Mencegatnya

Diperbarui: 29 Oktober 2020   09:25

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Nihal Altan Bonnet, Ph.D., ilmuwan NIH (National Institute of Health) yang meneliti disfungsi lisosom yang berkaitan dengan aktivitas virus corona (kanal LabTV/ youtube.com).

Virus corona jangan-jangan suka nonton Prison Break. Atau belajar dari Cai Changpan caranya kabur dari penjara dua kali.

Tetapi mana ada televisi di dalam sel; yang asli sel maksudnya. Kalau sel penjara beda lagi. Bang Napi di Sukamiskin misalnya, yang bisa bawa TV, kulkas, laptop, dan spring bed ke dalam. Dulu kabarnya begitu.

Ukuran sel itu sangat kecil, tetapi virus jauh lebih kecil lagi. Jika rata-rata sel tubuh berukuran 100 μm (1 μm = 1 mikrometer = 1/ 1.000.000 meter) maka corona seribu kali lebih kecil, yaitu sekitar 100 nm (nanometer).

Namun ada persamaan antara otak kriminal napi dengan virus corona; sama-sama punya kemampuan memanfaatkan "orang dalam".  Napi yang punya banyak duit bisa menyuap sipir atau bahkan pejabat kejaksaan. Virus corona juga punya taktik agar lolos dari eksekusi di dalam sel.

Dalam sel yang normal, virus yang menyelinap ke dalam sel dapat terciduk oleh beraneka macam aparat; salah satunya organel yang disebut lisosom. Kerjanya yaitu mengeluarkan zat atau benda ke luar sel melalui mekanisme eksositosis. Peran ini dikenal ilmuwan sebagai fungsi trash compactor.

Agar patogen bermasalah seperti virus bisa mati, lisosom yang masih lurus imannya punya SOP menurunkan pH dalam dirinya dengan bantuan enzim. Kondisinya cukup asam hingga mampu membunuh virus --seperti hepatitis atau influenza-- dengan kisaran pH sekitar 4,5 - 5. Sementara itu dalam cairan sel atau sitosol, pH normal umumnya sedikit basa yaitu 7,2.

Namun corona justru mampu membuat lisosom gagal bertugas. Ia bisa membuat suasana asam menjadi sedikit ringan sehingga tidak cukup mematikan. Dengan kondisi tersebut corona dapat keluar sel dengan aman setelah memperbanyak diri dahulu di dalamnya.

Perbedaan jalur fungsi normal lisosom dengan jalur pelarian keluar sel virus corona (nih.gov).

Corona --entah bagaimana caranya-- bisa memanipulasi lisosom sehingga lolos dari eksekusi meskipun lewat jalur maut asam di dalamnya. Melalui mekanisme lysosom de-acidification, corona justru memanfaatkan lisosom sebagai tempat berkumpul sebelum akhirnya keluar untuk menyerang sel yang lain.  

Jalur pelarian tersebut diduga telah berhasil mengantar corona meloloskan diri selama ini. Gangguan pada fungsi lisosom ini diduga pula berhubungan dengan badai sitokin yang menjadi penyebab kematian pada pasien Covid-19, demikian kata peneliti dalam jurnal Cell terbaru. 

Nihal Altan-Bonnet dan Sourish Ghosh dari NHLBI (NIH's National Heart, Lung, and Blood Institute) yang melakukan riset tersebut berharap temuan mereka dapat segera mengakhiri pandemi corona dan pandemi sejenisnya di masa yang akan datang (nih.gov, 28/10/2020).

Nihal Altan-Bonnet:

"These coronaviruses are very sneaky, they're using these lysosomes to get out, but they're also disrupting the lysosome so it can't do its job or function. We think this very fundamental cell biology finding could help explain some of the things people are seeing in the clinic regarding immune system abnormalities in COVID patients."

Pendekatan cara berpikir melalui pemahaman hasil temuan di atas bisa menjadi metode alternatif untuk mengatasi pandemi Covid-19. Selain melalui kombinasi obat, terapi, atau vaksin; dengan memanfaatkan rute pelarian keluar masuk sel diharapkan ruang gerak corona dapat dipersempit atau ditutup.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline