Lihat ke Halaman Asli

Agung Han

TERVERIFIKASI

Blogger Biasa

Menjadi Anak Kesayangan adalah Akibat dari Sebuah Sebab

Diperbarui: 26 Januari 2021   07:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokpri

Kompasianer yang generasi 80 ke bawah, biasanya memiliki saudara cukup banyak. Saya mengamini hal demikian, ketika melihat di medsos bertebaran foto keluarga besar di momen lebaran. Yang semula hanya dua orang (suami istri), menjelma sekian banyak sampai rumah tidak muat.

Keluarga besar dimanapun, saya yakin punya problem tidak jauh berbeda. Memiliki banyak anak, dengan tingkah laku dan pembawaan bermacam-macam. Ada anak yang manut ada yang keras kepala, ada yang pendiam ada yang banyak ngomong. Kemudian ada yang sibuk sendiri, ada yang perhatian, ada yang  penuh ide ada yang pasif dan seterusnya.

Memiliki anak dengan karakter berbeda-beda, sejatinya orangtua akan berusaha bersikap seadil mungkin. Mendidik, membesarkan, menafkahi, membekali pendidikan, mencurahkan perhatian dan kasih sayang dengan kadar sama. Apapun keadaan anak diterima dan mendapat perlakuan terbaik, meskipun tidak dipungkiri penerimaan kadang anak berbeda.

Keunikan sifat semasa kanak-kanak, lazimnya akan membekas dan dibawa sampai dewasa dan berumah tangga. Meskipun bisa saja sikap itu berubah, seiring perjalanan dilewati. Perbedaan karakter saat dewasa terlihat, salah satunya dari cara mengelola rumah tangga. Hal demikian terjadi , dipengaruhi pergaulan dan pengalaman hidup masing-masing .

Orang dengan sikap sabar dan nrimo, biasanya menuntun dirinya terbentuk menjadi pribadi lebih tangguh. Dari onak duri dan penyikapan liku-liku ujian, akan membiaskan soal urutan adik kakak.  Sangat mungkin saat dewasa,  adik jauh lebih bijaksana dibanding kakaknya. Atau saudara yang tidak dianggap, ternyata justru bisa menjadi kuda hitam.

Anak yang memiliki pemahaman , membuat orangtua yang mulai sepuh menaruh harapan. Berharap menjadi pengayom ayah dan ibu ketika fisik melemah, dijadikan jujugan ketika saudara lain tak lekas turun tangan. Tak heran kalau ayah dan atau ibu, akhirnya mengandalkan pada anak yang perhatian. Orangtua sudah sepuh, nyaman berlama-lama di rumah anak tersebut. 

Sehingga tak ayal, muncul persepsi tentang anak kesayangan.

Menjadi Anak Kesayangan adalah Akibat dari Sebuah Sebab

dokpri

"Kamu enak disayang ibu, apa- apa selalu didulukan" , "Kalau kamu yang pulang, ibu langsung masak-masak" ,  "Ibu lagi sakit, nanyain kamu terus, buruan pulang"

Tempaan hidup dan pertemanan, pengaruh lingkungan dan pengalaman, berperan membentuk kepribadian seseorang menjadi berbeda. Jangankan antar teman semasa kecil, bahkan antar saudara (semasa dewasa) bisa banyak perbedaan. Ada saudara dari sisi karir cemerlang, berdampak pada kepemilikan harta benda. Tetapi ada anak hidup sederhana, musti berhemat ketat dalam soal pengeluaran.

Tetapi rasa sayang orangtua tak berubah, setiap anak diberi jatah perhatian sesuai kadarnya. Ya, sesuai kadar. Kepada anak sedang merana diberi perhatian lebih, orangtua tak enggan mengulurkan tangan. Meskipun menurut hemat saya, hal demikian (keterlibatan orangtua) bisa diminimalisir.

Anak yang sudah berumah tangga, sebaiknya jangan terlalu mengumbar cerita sedih ke orangtua. Bahwa usia dewasa dan berani berumah tangga, seharusnya cukup menjadi alasan anak untuk mandiri. Maka seberat apapun ujian dihadapi, jangan melibatkan orangtua . Ayah ibu sudah sepuh, sudah bukan waktunya dibebani lagi pikirannya. Biarkan mereka menikmati masa tua dengan tenang, toh semasa muda sudah berjuang keras membesarkan anak-anaknya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline