Lihat ke Halaman Asli

Wafaul Ahdi

MAHASISWA

Keluh Kesahku Kutumpahkan di Secarik Kertas Lusuh

Diperbarui: 6 Desember 2020   08:10

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

iasgo.org

Tak perlu berfikir banyak, kertas lusuh yang sudah tak terpakai itu menjadi sasaran utamaku untuk meluapkan segala yang aku rasakan di hari ini.

Entah mengapa obat dari segala obat yang paling manjur ketika aku merasa suntuk seharian karena di terpa banyak tugas ataupun hal lainnya adalah secarik kertas dan sebatang pulpen yang tercecer di area kamar ku. Se-random itu aku memilih, tanpa memperhatikan apakah kertas tersebut masih rapih atau bahkan sudah lusuh akibat di remas sekalipun, yang terpenting ada media yang bisa menjadi bahan luapan apa yang aku rasakan hari ini.

Kata demi kata ku tulis dengan sepenuh hati sampai tak terasa kertas yang sudah ku dapat ternyata hampir habis. Karena terlalu asyik meluapkan segala sesuatu yang di rasakan pada hari ini. Kebetulan cuaca sedang dingin, hujan begitu deras mengguyuri daerah tempat tinggalku. Sebagai penghangat, di sela-sela aku menulis aku memutuskan untuk menyeduh secangkir kopi yang tidak terlalu manis. Menulis sambil menyeruput kopi hangat di tengah-tengah hujan begini nikmat sekali ternyata dan menghilangkan penat sejenak.

Hari ini aku capek sekali, karena aku terlalu banyak menghabiskan waktuku di depan laptop. Mengerjakan project ujian akhir semester yang sangat menumpuk. Padahal setiap hari aku sudah berusaha untuk mencicilnya, tetapi entah kenapa kok rasanya aku belum melihat puncak terselesaikannya semua tugas-tugasku ini. (Menghela nafas)

Apakah ada yang sama denganku, sangat bersahabat dengan kertas?

Banyak orang yang berpendapat bahwasannya untuk apa curhat dengan benda mati. Apakah benda tersebut dapat memberikan solusi?

Jawabku sangat sederhana, keluh kesahku adalah sumber solusi untuk diriku.

Mengapa demikian?

Setelah aku menuliskan segala apa yang aku rasakan di hari ini, aku membacanya kembali. Dari situlah aku menemukan solusi untuk diriku sendiri. Ya, benar. Tulisan yang sudah ditulis merupakan bahan evaluasi yang paling terbaik versi ku. Terkadang jika aku meluapkan segala apa yang aku rasakan kepada orang lain, solusi yang diberikan tidak cocok dan aku ragu untuk mengikuti solusinya.  Selain itu, aku juga merasa bahwasannya ketika aku lebih jujur dan lebih terbuka dengan diriku sendiri tidak akan ada orang lain yang berhak menghakimi, because I will judge my self. 

Alasan itulah yang menjadikan diriku lebih memilih secarik kertas dan sebatang pulpen itu untuk dijadikan sebagai tempat keluh kesah yang terbaik.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline