Lihat ke Halaman Asli

Tak Ada yang Sempurna di Bumi

Diperbarui: 18 Mei 2021   09:17

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumen Pribadi

Suasana di kelas itu tampak gaduh, beberapa anak mentertawakan Arif yang tak mahir membaca puisi di depan kelas. Bu Wati selaku wali kelas 4B langsung menenangkan murid-murid yang ramai. Sontak, semua murid di ruangan langsung diam mendengarkan perintahnya.

Adalah Arif seorang murid pidahan dari Bandung yang baru beberapa hari lalu bergabung di kelas ini. Belum banyak teman-teman yang mengenalnya, sehingga ia sering diremehkan oleh teman-teman. Beberapa hari sekolah, ia masih belum memiliki banyak teman. Maka wajar, jika banyak teman-teman yang belum mengenal sifatnya secara mendalam.

Setiap jam istirahat, Arif tak pernah bermain di luar kelas, ia asyik membaca buku di perpustakaan. Hanya hitungan hari, sepuluh buku bacaan telah habis dibacanya. Meski rajin membaca, ia agak sedikit pendiam, terutama untuk mengenal lingkungan yang baru. Selain itu, ia tak pandai membaca puisi, sehingga hasilnya tampak begitu buruk.

Tak lama membaca puisi, bu Wati menyuruh Arif kembali ke tempat duduk. Dengan wajah tertunduk, ia kembali ke tempat duduk. Teman-temjannya masih menyoraki dengan kalimat panjang:

            "Huuuuuuu!"

            Lagi-lagi bu Wati menenangkan murid-muridnya yang masih suka meremehkan orang lain karena tak mahir akan pelajaran tertentu.

*****

Keesokan hari suasana kelas 4B tak begitu riuh seperti kemarin, sebab kali ini pelajaran matematika yang membuat kening murid-murid berkerut. Bukan seperti pelajaran bahasa Indonesia yang banyak merangkai kata-kata sehingga membuat para siswa berbahagia.

            Bu Wati menjelaskan cara menghitung luas jajar genjang, lalu memberikan dua contoh soal yang harus dikerjakan oleh para siswa.

            "Silahkan kalian kerjakan semua  soal yang ibu tulis di papan tulis. Bagi yang telah selesai silahkan acungkan jari ya?"

            Dua menit berlalu, tanpa disangka Arif mengacungkan jarinya. Bu Wati kaget, lantas memberi kejutan kepadanya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline