Lihat ke Halaman Asli

Achmad Humaidy

Blogger -- Challenger -- Entertainer

Danur 2 Maddah, Kualitas Film Horor Indonesia yang Tidak Menakutkan

Diperbarui: 9 April 2018   22:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

sumber: kompas.com/andy muttia keteng

Sejak tanggal 28 Maret 2018, jaringan bioskop mulai dihantui oleh salah satu sekuel film horor Indonesia yang bertajuk Danur 2: Maddah. Kontroversi film Danur masih terus berlanjut karena tahun lalu film ini justru berada diperingkat 4 dari 10 besar peringkat film terlaris dengan 2.736.157 penonton.

Padahal banyak pembaca setia novel Danur yang menganggap cerita begitu melenceng antara buku dan film. Begitu juga dengan para penikmat horor yang sudah memiliki standar tinggi melalui Film Pengabdi Setan sebagai tolak ukur kesuksesan jump scare. Film Danur 2: Maddah pun terlihat akan bernasib sama seperti prekuelnya.

Risa Saraswati (Prilly Latuconsina) tinggal bersama adik yang bernama Riri (Sandrinna Michelle Skornicki) karena ibunya menemani bapaknya dinas ke luar negeri. Risa memiliki kemampuan melihat hantu atau yang dikenal dengan istilah indigo. Kebiasaan Risa yang bicara sendiri hingga histeris di tempat umum sering membuat Riri malu.

Riri tidak tahu bahwa Risa memiliki 3 sahabat bernama Peter (Gamaharitz), William (Alexander Bain), dan Jhansen (Kevin Bzezovski). Dalam sekuelnya, Risa juga bertemu dua hantu anak kecil lain yang ingin bermain dengannya bernama Hans (Justin Rossi) dan Hendrick (Matt White).

Untuk membunuh sepi, Risa dan Riri menginap di rumah Om Ahmad (Bucek Depp) dan Tante Tina (Sophia Latjuba). Om Ahmad bersama istri dan anaknya, Angki (Shawn Adrian) baru saja pindah ke Bandung. Tidak ada teror di rumah itu pada awalnya.

Ternyata, Om Ahmad tertaut hatinya pada makhluk halus yang berwujud nona Belanda bernama Elizabeth. Hubungan dengan istrinya pun terganggu. Anaknya juga menaruh kecurigaan ada sesuatu yang tidak beres di rumah mereka apalagi ayahnya mulai bertingkah tidak wajar termasuk menanam bunga sedap malam di pekarangan rumah.

Ketenangan Risa mulai terusik. Risa bisa merasakan hal itu, tapi aneh Ia tidak bisa melihat apapun. Justru dia hanya melihat Om Ahmad pergi bersama wanita lain. Siapa dia? Apa dia ada keterkaitan dengan semua keanehan yang terjadi di rumah? Benarkah Om Ahmad selingkuh dengan makhluk halus?

Demi mengetahui kebenaran dibalik peristiwa ini, Risa mulai mengorek informasi mengenai si wanita misterius tersebut. Akan tetapi, upaya untuk mendapat informasi senantiasa mengalami hambatan karena ada kekuatan jahat yang entah darimana berasal terus memancar kuat di rumah kerabatnya dan tidak segan melukai para penghuni rumah.

Sejak prekuel sampai sekuel, film Danur gagal menerjemahkan judul ke dalam bahasa audio visual. Danur yang berarti bau mayat tidak pernah terjelaskan secara rinci menghiasi adegan demi adegan sepanjang durasi. Hanya ada adegan yang menempel saat Risa nyasar di rumah sakit dan menemukan kamar jenazah. Seorang perias mayat berkata "Ini bau Danur, tapi sepertinya kamu sudah tidak asing lagi...". Adegan pun terlepas pada unsur cerita utama, penonton hanya dijelaskan sekilas tentang bau yang dikenal sebagai cairan yang keluar dari mayat membusuk. Seharusnya judul bisa representasi fokus cerita, namun aroma-aroma kekecewaan justru tercium dari para pencinta film Indonesia setelah menonton film ini.

Cerita dituding sebagai kisah nyata. Diangkat dari novel berjudul sama yang terbit di tahun 2012 dengan kisah pengalaman hidup seorang novelis bernama Risa Saraswati. Konon Maddah artinya "dibaca panjang" merupakan kata yang disadur dalam bahasa Arab. Karya novel pun tampak lebih bagus dibanding filmnya karena bahasa sinematik tak mampu membuat cerita semakin evokatif. Meski dalam sekuel ini, Risa sebagai penulis skenario dibantu oleh Lele Laila.

Maddah tidak memiliki konflik yang begitu terasa menakutkan. Saat konflik keluarga tampil, hanya Angki yang terlihat khawatir akan keutuhan keluarga. Padahal banyak peluang dari sisi naskah untuk lebih eksploitasi drama demi membangkitkan emosi penonton agar merasakan aura mistisnya. Di menit-menit pertama pun tempo terasa lambat sehingga pergantian waktu tidak terasa jelas hingga akhir cerita.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline