Lihat ke Halaman Asli

Abdurrofi

Penyuka Kopi dan Investasi

Refleksi Tionghoa Penjelajahan Cheng Ho Tak Pernah Berhenti di Akhir Zaman

Diperbarui: 22 Desember 2020   12:24

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dokumen Pribadi, keturunan yang baik adalah harta paling berharga etnis Tionghoa

Kamu tidak asing dengan Cheng Ho terutama bagi kamu yang beragama Islam ataupun etnis tionghoa. Cheng ho terkenal karena penjelajahan ke Indonesia. Selain nama Cheng Ho, ia dikenal sebagai Haji Mahmud Shams dari suku Hui. Penjelajahan keturunan Cheng Ho tak pernah berhenti menjelang akhir zaman dan akhir tahun.

Tahukah kamu bahwa suku Hui sendiri keturunan dari suku Han yang melakukan asimilisasi dengan bangsa Persia dan bangsa Arab sejak zaman Dinasti Tang pada abad ke-9. Kejayaan Dinasti Han tersebut, yang memerintah kekaisaran China selama 400 tahun lebih dengan koneksi kuat.

Haji Mahmud Shams atau Cheng Ho memiliki tugas untuk diplomasi antar kekaisaran dan kerajaan dari daratan China ke penjuru dunia, Ia juga menjadi orang kepercayaan dari Dinasti Ming. Orang-orang dari suku Hui memang memiliki koneksi dan hubungan baik dari politik dinasti berkembang di China pada abad ke-13.

Haji Mahmud Shams atau Cheng Ho memeluk agama Islam berpengaruh tersebar di hampir seluruh provinsi di China, tetapi terkonsentrasi di Ningxia, Hainan, Gansu, Yunnan dan Qinghai. Ningxia sendiri adalah daerah otonomi bagi suku muslim Hui. Suku Hui salah satu suku dari lima suku terbesar di China.

Pengorbanan yang telah saya lakukan, dan keberanian yang harus saya miliki untuk mencapai posisi mereka sekarang. Itulah beberapa dari atribut seorang penjelajahan dunia. Para penjelajah dunia berpikir besar. Mereka bekerja secara besar-besaran dan   fokus pada disiplin. Kalau dipikir-pikir, penjelajah berpikir seperti juara peradaban.

Kaisar yang memusuh suku Hui berarti mereka membangun konflik berkepanjangan dan menghasil stabilitas politik yang rendah. Kemungkinan kudeta sangat besar. Tidak sedikit stereotipe negatif itu tidak membesar dan berlanjut karena koneksi suku Hui sangat luas di penjuru dunia. Mereka mudah berteman termasuk orang Indonesia dan menghancurkan kekaisaran dengan mudah.

Ketika suku Hui ke Indonesia mereka mendapatkan stereotipe etnis Tionghoa untuk mengidentifikasikan dirinya dengan sesamanya padahal orang Tionghoa sendiri memiliki suku-suku tersendiri. Uniknya suku Hui mereka mematuhi standar syariat Islam sehingga mereka mudah diterima di Indonesia padahal belum ada Lembaga MUI pada era kerajaan-kerajaan nusantara.

Pantangan orang suku Hui sejak kecil tidak memakan daging babi, tetapi juga berbagai daging hewan yang proses penyembelihannya tidak sesuai dengan prosedur yang ditentukan agama Islam. Minum alkohol, bir, dan yang memabukan menjadi pantangan sehingga mereka hanya minum teh saja saat berlaut antar benua.

Kedatangan para pedagang China yang dipimpin laksamana Cheng Ho dari suku Hui membuktikan bahwa peristiwa mempengaruhi perbauran budaya China dan budaya Indonesia. Alasan fundamental suku Hui dekat suku Jawa adalah Indonesia adalah jalur perdagangan internasional sejak jaman dahulu kala dan orang Jawa memiliki pengaruh luas di Indonesia.

Suku Hui menikahi wanita Jawa setempat, ada pula mereka yang pulang ke China membawa istrinya untuk terus berdagang lintas pulau. Tidak heran, orang Tionghoa dikenal pandai berdagang lintas benua Amerika Serikat, Australia, Eropa dan Asia. Penjelajahan berdagang tidak akan pernah berhenti untuk menjaga pasokan dan kebutuhan antar warga dunia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline