Lihat ke Halaman Asli

Pudji Prasetiono

Perjalanan serta penjelajahan ruang dan waktu guna mencari ridho Illahi

Pelukan Jokowi-Prabowo Mengukuhkan Arti Sebuah Kebhinekaan

Diperbarui: 14 September 2018   23:35

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok. vidio

rAsian Games ke-18, Jakarta-Palembang memang sudah hampir dua minggu yang lalu usai. Namun cerita dibalik Asian Games yang sukses dan membanggakan tersebut belum mau usai.

Asian Games yang di gelar kali ke-2 di Indonesia dan Jakarta-Palembang sebagai venue penyelenggaraan memang bukan Asian Games yang biasa. Asian Games kali ini benar-benar sebuah ajang perhelatan olah raga yang tidak hanya dipersembahkan oleh Indonesia untuk pesta nya negara-negara Asia, melainkan Asian Games kali ini merupakan sebuah pesta olah raga yang sekaligus sebagai pemersatu bangsa Indonesia.

Jangan melihat Asian Games sebatas kemeriahan dan kemegahan pesta besar yang di helat dan dihadirkan sebagai ajang rutin empat tahunan, melainkan Asian Games merupakan sebuah bentuk media yang berbeda untuk membangun Indonesia, membangun Indonesia kembali yang besar dan jaya, sebesar kepulauan nusantara di ajang multi even yang akbar itu.

Semua dirancang bukan tanpa maksud. Mulai dari maskot, theme song dan alhamdulilah hasil dari Asian Games yang membanggakan hingga menghasilkan moment-moment yang tidak disangka-sangka. Atas rencana manusia dan terberkahi oleh sang maha kuasa.

Selain sesuatu yang membanggakan dari cabang Pencak Silat ada sesuatu yang menyejukkan yang dipertontonkan saat moment Hanifan Yudani Kusuma memeluk secara bersama-sama Bapak Presiden Joko Widodo dan ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Bapak Prabowo Subianto dalam balutan bendera merah putih.

Moment tersebut serasa menyejukkan dan ikut serta menurunkan tensi politik yang sedang memanas. Kita tahu kedua nya merupakan calon presiden (capres) untuk pemilihan umum presiden (pilpres) 2019. Dengan ada nya moment menyejukkan yang tercipta bahwa sanya kita selaku warga tidak perlu ikut masuk dalam "perseteruan" tersebut. Karena ranah politik biarlah menjadi urusan orang-orang yang berkecimpung dalam dunia politik saja.

Moment pelukan Bapak presiden Joko Widodo dan Bapak Prabowo Subianto bersama Hanifan Yudani Kusuma dalam balutan sang saka merah putih tidak lain dan tidak bukan atas dasar kuasa Allah. Moment ini merupakan moment reflek yang secara tidak langsung meneladani dan memberikan contoh atas kuasa Allah lewat tangan Hanifan Yudani Kusuma.

Rencana-rencana bangsa selaku tuan rumah Asian Games untuk kembali membesarkan negara ini dengan sebuah moment kebesaran dan kesejukan alhamdulillah terkabul. Karena kita semua tahu bahwa bawasan nya bangsa kita adalah bangsa yang besar dan cinta damai yang membutuhkan senantiasa dukungan dari warga dan masyarakat lewat elit-elit yang berkuasa.

Selaku warga negara senantiasa jadilah warga negara yang baik. Tidak perlu mengunggulkan pilihan masing-masing. Pegang pilihan masing-masing dan kesampaikan pada saat nya nanti di pilihan pesiden mendatang di bilik suara masing-masing.

Jika kita bukan elit politik ataupun tim sukses dari salah satu calon tidak perlu mengunggulkan salah satu calon ataupun melakukan kampanye seperti juru kampanye salah satu calon, terlebih itu belum saat nya.

Jadilah warga negara yang baik, junjung sportifitas dan pegang teguh nilai kebhinekaan yang dibawakan dan disimbolkan oleh ketiga maskot Asian Games kita. Bhim-bhim, Atung dan Kaka yang merepresentasikan dari semboyan dasar negara kita, Bhineka Tunggal Ika.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline