Lihat ke Halaman Asli

Khrisna Pabichara

TERVERIFIKASI

Penulis, Penyunting.

Dari "Ghosting" hingga Kaesang

Diperbarui: 8 Maret 2021   10:27

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kaesang Pangarep dan Felicia Tissue bersama Ibu Iriana dan Bapak Joko Widodo (Foto: Instagram/Felicia Tissue)

Kawan, jikalau kamu tipis kuping maka sebaiknya tinggalkan artikel ini. Serius. Saya khawatir nanti kamu kejang-kejang. Kemudian, uring-uringan dan misuh-misuh di dalam hati. Lalu, dendam kepada saya. Bahaya. Makan hati sendiri itu susah. Repot. Ribet.

Alinea pembuka di atas adalah penaifan alias disklaimer dari saya. Kalau nanti kamu membaca artikel ini hingga tuntas lantas kecele, kecewa, dan kesal, saya tidak bertanggung jawab. Serius. Hati keruh bisa mengancam keselamatan fisik, lo. Pelik. Ribet.

Kenapa pada judul artikel ini saya terakan kata “ghosting”? Tenang. Jangan kalut. Apalagi panik sampai menggerundel dan menggerunyam. Lalu, menyebut saya lelaki tidak konsisten, plinplan, atau plintat-plintut. Kemarin bilang jangan keminggris, sekarang pakai kata ghosting.

Kamu benar. Saya tengah dihajar gelombang plinplan. Gamang. Bukan apa-apa, saya cemas kalau-kalau artikel saya akan menyudutkan atau memojokkan segelintir orang. Kasihan. Dosa saya menumpuk. Terlalu buanyak. Bilangannya melebihi debu yang beterbangan tak kasatmata.

Jadi, begini. Kalau kamu putuskan ingin membaca artikel hingga rampung, persiapkan hatimu untuk bermain-main di taman kata. Ingat, bermain-main. Bukan berserius-serius. Riang hati saja, bukan berkerut kening. Begitu, dong. Masam-mesem saja kalau sukar tersenyum.

Kata ghosting tengah merajalela. Apalagi kemarin jagat mayantara sempat heboh gara-gara Kaesang. Tunggu dulu. Ada kata unik, Kawan. Mayantara. Apa artinya? Dalam bahasa Inggris bisa disebut cyberspace. Artinya, dunia yang bercirikan hubungan antara dua atau beberapa pihak tanpa pertemuan fisik.

Oke? Sip. Kita kembali pada ghosting dan Kaesang. Ah, kita bahas ghosting saja. Kaesang biar diurus oleh Ibu Iriana dan Bapak Joko Widodo. Sepakat, ya? Asyik. Terima kasih. Penggunaan kata ghosting belakangan kian marak. Bukan hanya di Kompasiana, melainkan di antero mayantara.

Sebagai hamba sahaya yang hidup di Nusantara, saya tentu ingin urun saran soal penggunaan kata ghosting. Memang hingga hari ini belum ada terjemahan kata yang baku atau padanan yang pas untuk kata ghosting dalam bahasa Indonesia, termasuk di KBBI.

Banyak usulan yang bisa kita agihkan. Mari kita mulai dari kata dasarnya dulu, ghost. Arti sederhananya hantu. Jiwa tanpa raga. Atma tanpa tubuh. Meriam-Webster menyebutnya: a disambodied soul. Ada jiwanya, tidak ada raganya. Kira-kira begitu.

Bagaimana dengan ghosting? Mari kita mulai dari makna formalnya. Meriam-Webster memakai definisi: a faint double image on a television screen or other display. Berarti, bayangan ganda yang tampak samar di layar televisi atau tampilan lainnya.

Secara formal, kata ghosting biasa digunakan di dunia desain. Hitungannya masuk dalam kategori istilah teknik. Ketika sebuah gambar terbentuk menjadi beberapa bagian yang berulang di layar monitor, itulah ghosting. Efeknya membuat gambar tampak berbayang.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline