Mohon tunggu...
Zulva Azhar
Zulva Azhar Mohon Tunggu... Peradaban Puan

Dunia dalam bayang Puan, Temboknya dibangun dengan kata-kata, Tiangnya ditegakkan oleh cinta.

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Rindu

22 November 2020   23:36 Diperbarui: 23 November 2020   00:27 37 6 0 Mohon Tunggu...

Dalam kening, terpatri kenang. 

Di larik kenang, kerinduan menggenang.

***

Pria tua itu membuka bungkus rokoknya, dilihatnya tinggal sebatang. Biasanya, ia tak pernah kehabisan rokok, walau sedikit ngomel, istrinya selalu sigap membelikan kala rokoknya mulai berkurang. Sekarang tidak ada lagi yang sepeduli itu, bahkan anak dan cucunya pun tidak mengerti.
Datuk menyalakan korek. Ia akan membakar ujung dari puntung rokok, namun ia teringat segala kenangan tentang nenek.  Biasanya nenek datang membawa segelas besar teh tubruk dengan gula batu. 

Sehabis makan, kurang nikmat rasanya kalau tidak menyesap rokok sembari ngeteh depan rumah. Ia menghela nafas dan mematikan api koreknya. Memasukkan kembali rokoknya ke dalam kotak. Ia pikir, sebaiknya ia berhenti merokok saja. Bayang-bayang nenek masih hadir di kepulan asap rokok yang membumbung di udara, di setiap pemantik api yang akan Datuk nyalakan, di setiap sudut rumah entah itu dapur, mesin cuci, ruang jahit, ruang tv tempat berkumpul.

Ruang tv, di depan televisi jadul itu ada kasur tanpa ranjang. Setelah mengerjakan pekerjaan rumah, nenek tidur tiduran sambil pegang kipas bambu dan remot. Kadang ia sampai manggut-manggut karena ngantuk tapi masih saja memaksakan nonton sinetron.
Nenek masih hadir di setiap sudut rumah, seminggu, sewindu, bahkan sampai kapanpun itu. Ia kekal dalam ingatan semua orang, bibirnya tak pernah lepas dari simpul senyuman dan gincu merah. Kadang aku berfikir, akankah ada orang yang merindukanku seperti datuk merindu nenek. Namun yang terjadi hanyalah manusia yang datang, menyisakan luka, lalu pergi begitu saja.

Jangan pergi dulu, setidaknya sampai aku bertemu dengan lelaki yang benar menjagaku seperti datuk menjaga nenek.

Nenek hidup dalam pikiran Datuk, Pria tua itu masih duduk di depan teras memandang ke jalan. Di bayangkan olehnya sesimpul senyuman nenek yang sedang menggendong bayinya,
"Tehnya Pa,"

Suara nenek mengalun dibawa udara.
***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x