Mohon tunggu...
Alex Zulfikar
Alex Zulfikar Mohon Tunggu... Travel writer

Menulis perjalanan, budaya, dan wisata Indonesia dan Asia.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

PSBB Setengah Hati, tapi Tak Ingin Herd Immunity

14 Mei 2020   10:41 Diperbarui: 14 Mei 2020   10:41 75 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
PSBB Setengah Hati, tapi Tak Ingin Herd Immunity
foto: AFP

Awal pekan ini kematian akibat Covid-19 di Indonesia menembus angka 1000, dengan jumlah terinfeksi mencapai lebih dari 15 ribu orang.

Ini adalah angka resmi dari pemerintah, sementara banyak pihak menduga angka kematian maupun jumlah positif Covid-19 jauh di atasnya, mengingat masih sedikitnya jumlah test yang dilakukan.

Angka-angka ini diperkirakan makin naik jelang Lebaran dan seiring penambahan tes Covid-19 yang dilakukan pemerintah. Jika tes masif ini berhasil, kurva puncak Covid-19 di Indonesia kemungkinan terjadi awal Juni dan setelah itu kurva bisa melandai ke bawah.

Tapi beberapa kebijakan dan kejadian dalam beberapa hari terakhir ibarat sebuah kontradiksi. Apa mungkin kurva bisa turun kalau elemen di dalamnya ignoran dan tak mau ikut aturan?

Lihat saja kebijakan pengoperasian kembali semua moda transportasi, dengan alasan birokrasi, ekonomi, dan lain-lain, tapi tetap tidak ingin diangggap membolehkan mudik.

Lalu kebijakan PSBB di sejumlah daerah yang kadang hanya tegas di atas kertas dan pemanis konten infografis. Ramai-ramai di McDonald Sarinah salah satu contohnya.

Beberapa hari sebelumnya, mispersepsi muncul dari pernyataan Presiden yang mengajak masyarakat "berdamai dengan Covid-19". Pernyataan ini kemudian diluruskan oleh staf kepresidenan.

Menurut staf Kepresidenan, Presiden ingin masyarakat tetap produktif meski virus corona masih mewabah, sebuah "hidup normal yang baru", a new normal. Hal ini menambah panjang daftar keambiguan kata, ada yang masih ingat bedanya mudik dan pulang kampung?

Saat banyak orang dipermainkan oleh istilah dan kata, pemerintah mengizinkan warga berusia 45 tahun ke bawah untuk kembali beraktivitas meski pandemi belum berakhir.

Hal ini dilakukan agar warga berusia produktif tidak kehilangan pekerjaan, tapi sebagian orang menilai keputusan ini sebagai "langkah awal" dari penerapan herd immunity.

WHO telah mengecam teori ini dan menyebutnya sebagai konsep berbahaya. "Ini adalah kalkukasi yang sangat berbahaya. Saya tidak yakin jika ada negara yang berani membuat keputusan ini,"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x