Zulfa Izdihar
Zulfa Izdihar

Suka nulis hal-hal yang menurut saya menarik.

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

Menyikapi Kawan yang Iri dengan Kesuksesan Kita

7 Desember 2018   00:07 Diperbarui: 7 Desember 2018   00:23 204 0 0
Menyikapi Kawan yang Iri dengan Kesuksesan Kita
Sumber Ilustrasi: https://brightside.me

Halo, kembali lagi bersama saya. Akhir-akhir ini saya sibuk untuk mengurus kelulusan saya. Oh ya, by the way nanti tanggal 27 Desember 2018 saya sudah resmi yudisium dan mendapatkan SKL (Surat Keterangan Lulus)! Yeay.. Oiya, sebelum kita to the point pada judul artikel di atas, saya mau share dulu awal mula inisiatif untuk menulis artikel ini.

Setelah resmi ujian kompre tanggal 30 Oktober 2018, saya banjir ucapan selamat dan doa dari keluarga, kerabat maupun teman-teman saya. Terima kasih semua, semoga doa yang baik-baik kembali kepada kalian. Amiiin.

Saya memang merasa sangat gembira karena salah satu beban kuliah saya (yaitu skripsi) sudah berhasil terlewati. Lalu saya segera menyelesaikan revisi dari dosen-dosen penguji. Kurang dari dua minggu lembar revisi saya sudah ditandatangani oleh dua dosen penguji dan satu dosen pembimbing saya. Puji syukur, ternyata jalan saya dimudahkan oleh Yang Diatas.

Begitu menyelesaikan revisi skripsi, saya mulai aktif mencari-cari lowongan pekerjaan di internet. Saya juga membuat akun di Jobstreet dan Linkedin untuk memudahkan dalam pencarian lowongan pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Namun hasilnya nihil dan ternyata setelah saya baca-baca review di Google, kemungkinan para fresh graduate untuk mencari pekerjaan di Jobstreet atau Linkedin diibaratkan 1 : 100 yang mana keciiiiil sekali. Apalagi jika belum ada pengalaman kerja minimal setahun. Sepertinya sih gak bakal dilirik perusahaan. 

Namun saya pantang menyerah. Saya mulai mencari-cari info Jobfair di kota tempat saya tinggal dan berhasil menemukan dua lokasi pada hari dan jam yang sama! Tanggalnya yaitu 15-16 November 2018 di tempat yang bersangkutan. Jadi, saya berniat untuk mendatangi salah satunya dan jika masih ada waktu, saya akan berpindah ke tempat lainnya.

Saya agak menyesal tidak mencari info Jobfair ini lebih awal. Karena tiga hari kemudian Jobfair itu akan diadakan. Jadi, saya mencari tutorial desain CV yang menarik di Youtube dan mencoba membuatnya dalam semalam. Modal saya bikin desain CV hanya Microsoft Word 2016 dan setelah jadi pun saya ragu apakah CV ini cukup menarik perhatian para recruiters / pihak HRD.

Selain CV, saya juga menyiapkan fotokopi KTP, sertifikat keahlian (tes IT, SAP dan TOEFL), sertifikat magang dan covering letter (surat pengantar). Saya belum sempat melampirkan SKCK dan surat kesehatan terbaru karena waktu yang cukup singkat. Ngurus SKCK di kantor polisi saja dua harian (itupun kalau tidak antri ya).  

Saya berpikir bahwa jika dokumen-dokumen itu dimasukkan dalam map coklat maka tidak akan kelihatan desain CV yang sudah susah payah saya buat. Jadi saya membeli dua lusin map bening di toko alat tulis dan saya masukkan berkas-berkas itu pada masing-masing map (saya sengaja cetak CV banyak jaga-jaga kalau tidak cukup).

Lokasi jobfair pertama yang saya prioritaskan berlokasi di salah satu PTN di Malang. Ada beberapa perusahaan besar yang saya incar di situ. Dan begitu saya masuk, saya agak terkejut karena ada 2-3 perusahaan besar yang bahkan tidak mau repot-repot mengirim perwakilannya ke sana dan di booth-nya hanya terpampang poster yang berisi lowongan yang dibutuhkan beserta kode QR untuk formulir online. Tidak salah sih, tapi apakah tidak sebaiknya ada perwakilan yang datang? Kalau begini bagaimana kami para jobseeker mau bertanya-tanya? Hmm perusahaan itu sudah kehilangan respect saya dan hasilnya saya jadi malas mendaftar melihat ketidakniatan perusahaan yang 'katanya' besar itu. Di lokasi Jobfair pertama ini, saya hanya mendaftar di dua perusahaan yang saya minati dan posisi yang dibutuhkan sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Jadi dari dua lusin map yang saya bawa ya hanya dua map yang terpakai di lokasi pertama ini.

Lalu saya berpindah ke lokasi kedua dan di sini lebih banyak perusahaan yang buka booth dan terlihat lebih niat. Di sini saya drop total delapan map! Tapi mengingat ada sekitar 70-an booth di sini saya yakin jumlah tersebut tidak berlebihan.

Kemudian saya pulang dan istirahat. Tidak sampai tiga jam, saya sudah mendapat panggilan pertama saya untuk tes dan interview. Saya mengekspresikan kegembiraan saya lewat snapstory di Instagram. Lalu panggilan kedua menyusul satu jam berikutnya. Jadi total ada dua panggilan. Panggilan pertama untuk posisi telemarketing, posisi kedua untuk Supervisor Development Program (SDP).

Penggilan pertama adalah tes dan interview untuk hari Kamis dan panggilan kedua adalah one day recruitment process (satu hari proses rekruitmen) untuk hari Jumat. Saya lega karena dua panggilan itu tidak di hari dan jam yang sama.

Pada hari Kamis dan Jumat saya mendokumentasikan proses dan tahapan rekruitmen di snapstory Instagram saya sebagai bahan pertimbangan untuk teman-teman saya yang mungkin juga akan melewati proses itu nantinya. Banyak yang DM-in saya bertanya-tanya soal tahapan-tahapan rekruitmen, namun ada juga yang menyatakan keheranannya karena mereka tahu saya belum yudisium dan belum mendapatkan SKL. Lantas bagaimana caranya melamar? Saya jawab aja kalau saya menggunakan transkrip sementara.

Hari-hari berikutnya saya terus mendapatkan panggilan hingga total ada 8 panggilan namun saya hanya datang 5 diantaranya (dikarenakan ada panggilan yang hari dan jamnya sama jadi saya prioritaskan perusahan yang saya inginkan).

Saya terus update selama kurang lebih seminggu perjalanan saya mengikuti tes dan interview dari perusahaan satu ke perusahaan lain lewat snapstory saya dengan asumsi bahwa mungkin dari postingan saya dapat memotivasi dan menginspirasi teman-teman untuk mencari kerja. Senang rasanya mendapat DM dari teman-teman yang bertanya-tanya dan meminta tips dari saya.

Tapi begitulah, diantara banyak orang yang bisa menyikapi postingan saya dengan positif, ada juga beberapa orang pengikut saya di Instagram saya yang melihatnya dengan cara negatif. Mereka menyindir saya lewat snapstory mereka bahwa saya pamer dan kurang bersyukur (LOL).

Rata-rata yang menyindir saya adalah oknum-oknum yang belum ujian kompre atau bahkan sudah dapat ijazah tapi sama sekali belum ada panggilan. Saya orangnya simple saja. kalau memang tidak suka melihat postingan saya bisa gunakan fitur 'senyapkan story'. Jadi Anda tidak usah repot-repot melihat postingan saya. Tapi ada saja yang sampai unfollow haha rasanya lucu juga (tentu saja saya unfoll balik, bye!). Oknum-oknum yang menyindir saya ini biasanya adalah orang-orang yang suka sekali pamer kegiatan mereka di Instagram. Entah itu pacaran, jalan-jalan dan bahkan yang gak penting pun ikut dimasukkan. Dan kalau posting sekali-kali gapapa sih. Nah ini hampir tiap hari mereka posting pacaran dan jalan-jalan terus yang tidak ada faedahnya. Dan ketika saya berbagi info positif seputar pekerjaan, mereka mengatai saya pamer? What the actual h**k? Memang ya, kalau pada saat-saat mencari kerja seperti ini kita bisa tahu perbedaan lawan dan kawan hahahaha. Salah sendiri, ngatain kok ga ngaca begitu sih? Kalau memang waktu mereka lebih banyak mending digunakan untuk kegiatan produktif yaitu mencari kerja! Bukannya sibuk berghibah sana-sini atau pacaran. Kasihan sekali, sudah megang ijazah tapi belum ada panggilan kerja. Apa merasa tersaingi sama saya yang belum juga megang SKL tapi sudah ada panggilan ya? Rasanya tidak. Itu kan karena mereka malas. Coba kalau mereka rajin pasti dari kemarin sudah ada panggilan.

Oke, cukup cerita saya. Sekarang saya akan berbagi tips untuk menghadapi teman yang iri dengan kesuksesan kita.

  • Jika mereka mencoba menjatuhkan Anda dengan kata-kata yang mematahkan semangat, buktikan dengan tindakan bahwa Anda jauh lebih baik dari mereka. Ibaratnya, mereka yang hanya modal mulut akan selalu kalah dibandingkan Anda yang sudah menunjukkan nyata dengan tindakan. Tampar mulut mereka dengan kesuksesan Anda maka mereka tidak akan berani mengusik Anda!
  • Mereka mencoba untuk menghasut lingkungan sosial Anda agar menjauhi Anda? Haha tenang, teman sejati tidak akan terhasut kata-kata murahan. Jika teman-teman Anda terhasut oleh kata-kata dari pembenci Anda, maka mereka tidak ada bedanya dengan si pembenci itu. Haters are always gonna hate. No matter what we do. Mau sebaik apa kita dengan mereka kalau merekanya sudah benci sama kita ya kita akan selalu salah.
  • Kill them with kindness. Bunuh sifat pembenci mereka dengan kebaikan Anda. Walaupun Anda tahu bahwa mereka membenci Anda, tetaplah menjadi orang baik. Menjadi orang baik tidak akan jadi pihak yang rugi. Jika Anda berbuat selayaknya mereka, maka Anda tidak ada bedanya dengan mereka. Balaslah perbuatan mereka dengan cara berkelas dan elegan. Berpura-puralah tersenyum dan bahagia jika itu perlu dan tunjukkan pada mereka seberapa tegak Anda dapat berdiri dan setinggi apa kesabaran Anda. Ingat, Anda adalah pemenang dan mereka hanyalah pecundang!

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya sampaikan untuk menguatkan Anda yang mungkin saat ini sedang berada di posisi sepeti saya. Saya hanya ingin Anda tahu, bahwa Anda tidak sendiri. Karena orang sukses akan selalu banyak cobaan, dan kuatkanlah diri Anda untuk selalu menjadi pribadi yang berharga bagi Anda dan orang lain.