Zulfa Izdihar
Zulfa Izdihar

Suka nulis hal-hal yang menurut saya menarik.

Selanjutnya

Tutup

Wanita Pilihan

Tingkah Pria yang Bikin Wanita Geleng-geleng Kepala

14 September 2017   17:38 Diperbarui: 14 September 2017   19:49 1591 3 0
Tingkah Pria yang Bikin Wanita Geleng-geleng Kepala
Sumber ilustrasi: https://videohive.net

Ketika pria jatuh cinta pada seorang wanita, ada saja hal yang bisa dilakukan agar bisa tetap dekat dengan pujaan hati. Dari hal yang romantis sampai hal konyol pasti sudah pernah dicoba agar dapat perhatian si dia. Berikut ini tingkah-tingkah konyol dan romantis pria yang bikin hati wanita meleleh dan malah bikin jengkel. Seperti apa sih?

Sengaja Mengulur Waktu - Joana

Kalau yang ini benar-benar bikin saya kesal ya. Jadi saat magang itu ada salah satu teman kampus (tapi beda jurusan) yang satu kantor sama saya. Memang saya merasa anak ini beda banget kalau lagi sama saya dibandingkan pas sama teman-teman yang lain. Perlakuannya ke saya terkesan lebih hati-hati dan selalu takut salah bicara. Padahal kalau sama teman saya yang sesama cewek saja dia ngomongnya lugas tanpa basa-basi.

Hari itu cowok ini kebetulan tidak bawa motor karena dia nebeng sama temannya. Nah kebetulan temannya itu ada keperluan mendadak di kampus dan dia pergi tapi tidak balik-balik sampai jam kerja selesai. Cowok ini kemudian menjelaskan hal itu ke saya dan minta tolong untuk saya agar memperbolehkannya ikut satu motor sama saya. Sebelumnya, cowok ini sudah bertanya di daerah mana rumah saya dan dia bilang daerah tersebut searah dengan kontrakannya.

Saya saat itu tidak berpikir macam-macam dan mengiyakan saja. Lagi pula, saya toh tidak punya perasaan khusus ke dia. Menurut saya tidak ada salahnya membantu teman. 

Jadilah dia mengemudi motor saya dan saya duduk di belakang. Hari sudah mulai gelap dan banyak orang sudah pulang bekerja sehingga jalanan biasanya menjadi agak macet. Jadi cowok ini bilang mau ambil rute lain supaya tidak macet. Saya iyakan saja.

Ternyata, rute yang dia ambil itu menurut saya lebih jauh dan macetnya lebih parah daripada dugaan saya. Jika mengambil jalan yang biasanya, macetnya tidak separah itu. Saya mengeluh dan terus bertanya, "kapan sampainya?". Tetapi dia selalu menjawab "sebentar lagi,". Di atas motor pun dia selalu berusaha mengajak saya berbicara tetapi saya tidak mau meladeninya lama-lama. Antara kesal, lelah dan pantat saya yang mulai panas karena duduk di atas jok motor terlalu lama. Bahkan kaki saya pun tiba-tiba terasa pegal karena duduk dengan posisi yang sama selama hampir satu setengah jam. Saat itu saya sangat menyesal bersedia mengantarnya pulang. Jika saja ia mau lewat jalan yang biasanya, pasti hanya butuh paling lama tiga puluh menit!

Saat sudah sampai kontrakannya, saya menolak untuk masuk dan ingin segera pulang karena jam sudah menunjukkan hampir jam setengah 7 malam. Biasanya ibu saya khawatir jika jam pulang saya selarut ini. karena saya tidak bilang ada acara apa pun hari ini, jadi seharusnya saya sudah sampai rumah jam 17.45. Lalu ia menawarkan untuk menunjukkan jalan pulang  sampai ke daerah rumah saya karena saya tidak ingat jalannya (cowok ini terlalu banyak lewat jalan tikus yang belokannya berbelit-belit dengan dalih jalan pintas).

Jadi kami menggunakan dua motor. Ia di depan, dan saya membuntutinya. Saat pulang itulah saya tahu kalau sebenarnya ada jalan yang lebih singkat untuk sampai ke rumah saya dari kontrakannya. Dan itu hanya butuh sepuluh menit!

Saya langsung misuh-misuh dalam hati dan berjanji tidak akan pernah mengantar cowok ini pulang lagi. Waktu dan tenaga saya habis di jalan karena dia. Saat saya sampai rumah, dia berusaha untuk menelepon saya tapi tidak saya gubris. Seminggu kemudian, waktu magang dia habis dan ia pergi dari kantor. Saya sangat lega tidak bertemu dengan dia lagi.

Berusaha Terlihat Buruk - Rani

Saya punya atasan yang galak sekali. Ia adalah kepala humas yang bertugas untuk mengatur komunikasi dengan klien dan tamu penting agar terjalin kerja sama yang baik dengan perusahaan. Sebelum cerita saya terlalu jauh, mungkin perlu saya tekankan bahwa ia adalah pria berumur hampir tiga puluh tahun dan belum menikah.

Saya adalah salah satu karyawan yang bekerja langsung di bawah perintahnya. Tugas saya adalah menelepon klien-klien yang pernah membeli produk di perusahaan ini dalam jumlah besar dan menawarkan agar membeli produk itu lagi. Bisa juga menawarkan produk yang baru saja dikeluarkan oleh perusahaan. 

Ada titik di mana saya sudah muak dengan sikap atasan saya. Entah mengapa hanya saya yang dijadikan sasarannya. Dibilang beginilah, begitulah. Dan belum  cukup sampai di situ, saya sering dibentak olehnya di depan karyawan yang lain. Padahal saya merasa sudah melakukan pekerjaan saya dengan baik dan berusaha mengevaluasi diri setiap hari. Tapi mengapa hal itu belum cukup?

Pernah terpikir untuk resign tetapi saya masih butuh uang untuk hidup sehari-hari. Gaji di perusahaan ini cukup besar bagi saya. Lagi pula, mencari kerja itu tidak mudah.

Saya berusaha menahan diri sampai akhirnya ada saat di mana saya benar-benar lelah. Akhirnya saya jatuh sakit akibat stresskarena selalu berusaha memaksimalkan kinerja di bawah tekanan. Apa lagi saya juga jarang makan teratur. Tiba-tiba kepala saya terasa berat dan telinga saya berdengung. Saya meraba kening saya dan merasa demam. Hari itu juga, saya izin pulang lebih cepat. Untungnya, atasan saya tidak membentak saya saat mengajukan izin. Karena jika ia melakukannya, saya pasti merasa semakin sakit. Bahkan mungkin ia terlihat sedikit khawatir. Tetapi saya tidak terlalu memedulikannya waktu itu dan yang saya inginkan hanyalah berbaring di kasur dengan selimut tebal.

Setelah beristirahat penuh, ternyata demam itu tidak turun-turun juga. Mungkin saya butuh istirahat lebih lama. Akhirnya saya mengajukan izin tidak masuk kerja selama seminggu. Saya mulai khawatir ketika demam ini tidak kunjung turun selama tiga hari.

Karena saya tinggal sendiri di kota ini tanpa kerabat, jadi saya berangkat ke rumah sakit menggunakan taksi sambil terus menggigil karena demam. Saat itu hampir tengah malam, dan saya tidak ingin merepotkan teman-teman saya. Saya bahkan lupa apakah saya mengunci pintu apartemen atau tidak. Pokoknya saya harus ke rumah sakit dan harus sembuh. Saat di rumah sakit itulah saya tahu bahwa saya terkena tifus.

Hari pertama di rumah sakit, teman-teman kantor menjenguk saya dan membawakan berbagai macam makanan. Mereka datang saat jam kerja selesai dan bahkan ada yang menawari untuk menginap menemani saya tetapi saya tolak. Saya bilang bahwa saya pasti sembuh jika minum obat dan makan secara teratur. Lagi pula, mau tidur di mana teman saya? Saya toh hanya mampu membayar ruang rawat inap bersama yang berisi sekitar lima pasien lainnya.

Hari kedua, saya berusaha menghibur diri sambil menyantap makanan yang dibawakan oleh teman-teman saya kemarin. Lalu ada suara seorang perawat yang berkata sambil mengintip lewat tirai di bed saya, "Ada tamu ini mbak..".

Saya yang sedang dalam kondisi seadanya dan belum bersiap-siap (mulut saya penuh dengan camilan) pun kaget. Siapa yang datang saat jam kerja begini?

Lalu tamu itu membuka tirai dan masuk. Saya langsung bengong karena ternyata tamu itu adalah atasan saya yang terkenal galaknya! Ia masih memakai pakaian kerja dan ditangannya penuh berbagai macam bawaan. Sesaat saya tidak tahu harus berkata apa.

Keadaan saat itu lumayan awkward. Saya langsung menarik selimut sebatas dada dan duduk. "Eh.. ternyata bapak ya.. saya kira siapa," lalu saya tersenyum kecut sambil membayangkan seperti apa rupa saya saat itu.

Bos saya langsung duduk di tepi ranjang sambil memberikan buah tangan yang dibawanya dan saya mengucapkan terima kasih. Lalu ia mulai berbasa-basi apakah keadaan saya sudah mulai baik atau belum. Saya pun hanya jawab sekenanya karena tidak nyaman berbicara dengan orang ketika saya dalam keadaan berantakan.

Akhirnya ia tahu mengapa saya sampai jatuh sakit. Di ujung percakapan ia bilang, "Maaf, sepertinya saya terlalu menekan kamu dalam bekerja. Sebenarnya itu hanya alasan saya agar kamu merasa beban kamu terlalu berat dan akhirnya kamu datang mengeluh pada saya sehingga saya punya waktu untuk bicara sama kamu,"

Apa?! Jadi selama ini dia sekasar itu pada saya hanya untuk bicara pada saya? Kenapa ia tidak melakukan hal yang normal saja, seperti mengajak minum kopi atau lunch bersama misalnya?

Ia melanjutkan tanpa rasa bersalah. "Tetapi pikiran saya keliru. Kamu ternyata wanita yang kuat. Kamu tidak merasa pekerjaan kamu terlalu berat dan menganggap hal itu bagian dari tugasmu. Ketika saya lebih memberatkanmu, jadinya malah begini. Maaf."

Oke, kata siapa saya tidak merasa pekerjaan saya terlalu berat? Justru saya sangat merasakannya. Hal itulah yang membuat saya jatuh sakit karena kurang makan dan istirahat. Dan itu semua hanya untuk mendapatkan perhatian saya. Cara yang aneh.

Tetapi sungguh Tuhan Maha Segalanya. Sejak hari itu, hubungan kami makin dekat. Dan cara dia untuk mendekati saya mungkin akan menjadi cerita turun-temurun yang akan saya ceritakan pada anak cucu saya kelak.

Pelanggan Misterius - Kayla

Saya adalah pengrajin boneka. Usaha ini saya rintis sejak masih kuliah. Ide itu muncul saat saya melihat bahwa antusiasme peminat boneka sangat tinggi. Terutama saat wisuda dan hari valentine. Pesanan boneka melimpah.

Saya juga memiliki beberapa inovasi usaha. Salah satunya adalah menjual boneka dengan snackatau coklat dan dikemas semenarik mungkin. Syukurlah peminat semakin banyak. Saya juga menyediakan fasilitas made by order dan made by budget. Usaha ini sudah berdiri kurang lebih tiga tahun dan saya punya empat orang pegawai. Saat ini, saya memiliki toko boneka di bangunan yang saya sewa dari tante saya.

Kisah kali ini adalah soal pelanggan misterius saya yang terbilang unik. Dia selalu memesan boneka dengan menggunakan material terbaik. Model dan warna harus persis sama.

Awalnya saya sama sekali tidak menyadari bahwa ia memesan boneka dengan jumlah yang sama secara berturut-turut. Karena itu adalah tugas pegawai saya untuk meladeni konsumen lewat aplikasi chat online. Di profilnya sama sekali tidak ada foto. Namanya hanya satu kata dan saya pikir itu pun fiktif (dicari lewat google malah muncul foto orang yang berbeda-beda). Dua kali pelanggan tersebut memesan dengan cara yang unik dan pegawai saya yang menceritakannya. Akhirnya saya pun penasaran dan mencoba untuk melayani sendiri pelanggan tersebut.

Menurut catatan pegawai saya, pelanggan ini selalu memesan setiap tanggal 24 dengan jumlah boneka sebanyak 24 pula selama dua bulan. Saya ingin membuktikan apakah di bulan ketiga pada tanggal 24 nanti dia akan memesannya. Dan akhirnya terbukti pesanan itu tidak pernah berubah hingga bulan ke delapan.

Bulan ke delapan saya memutuskan untuk mengantar sendiri pesanan pelanggan tersebut. Jarak kota saya dan dia sekitar 856 kilometer. Kebetulan di kota tersebut saya mendapat ajakan kerja sama dari pengusaha lain untuk mengembangkan usaha. Pengusaha itu bahkan membelikan saya tiket pesawat beserta reservasi hotel selama tiga hari. Saya pikir ini kesempatan bagus dan sekalian bertemu dengan pelanggan misterius tersebut.

Saat saya mendarat di kota tersebut, ada satu sopir taksi yang menuliskan nama lengkap saya besar-besar. Wah, padahal saya tidak minta dijemput. Saya hanya mengabari pengusaha tersebut bahwa saya sudah mendarat dan sedang menunggu bagasi. Tetapi pengusaha ini begitu baik mengirimkan sopir taksi pada saya. Awalnya saya takut untuk ikut sopir taksi tersebut karena rawan sekali penculikan. Jangan-jangan ajakan kerja sama ini tipuan belaka. Apalagi saya wanita yang berangkat seorang diri.

Tetapi saya berusaha membuang pikiran negatif dan akhirnya ikut sopir tersebut untuk masuk ke dalam taksi. Sopir tersebut langsung mengantarkan saya ke alamat yang dimaksud. Sesampainya di sana, saya malah ribet sendiri. Karena belum sempat taruh barang di hotel, jadi saya terpaksa membawa tas jinjing, koper dan dua kantong plastik besar berisi 24 boneka.

Lalu saya mengabari pengusaha tersebut bahwa saya sudah sampai. Dua orang wanita yang menggunakan kaus kuning persis sama (sepertinya seragam pegawai) menghampiri saya. Mereka bahkan membantu membawa barang-barang saya. Saya dibawa masuk ke dalam kantor. Dari jendela kantor, saya bisa melihat puluhan pegawai sedang sibuk. Sepertinya ini usaha suvenir besar. Mungkin produk saya mau dijadikan salah satu produk suvenir.

Dan akhirnya saya bertemu dengan Pak Trian. Tubuhnya tinggi agak berisi dengan kulit yang agak gelap namun tetap terlihat menarik. Dialah pemilik tunggal perusahaan itu. Agaknya umurnya sudah mencapai kepala tiga.

Ia tersenyum dan menjabat tangan saya. Kami membicarakan hal-hal seputar bisnis dan kelanjutan kerja sama. Saya memberinya sampel boneka buatan saya dan Pak Trian langsung setuju. Kami menandatangani kontrak dengan materai dan sepakat bekerja sama selama dua tahun.

Sebelum saya pamit, Pak Trian memberikan kartu namanya. Ia bilang, saya boleh meminta apa saja selama saya berada di kota tersebut. Pegawainya akan selalu siap membantu saya. Saya berterima kasih dan segera pergi ke hotel yang sudah di reservasi oleh Pak Trian atas nama saya.

Di hotel tersebut, saya berusaha mencari alamat pelanggan misterius saya karena besok tanggal 24. Alamat tersebut agaknya tidak jauh dari hotel ini setelah saya lihat di google maps. Lalu saya segera membuka koper untuk mengambil peralatan mandi. Kartu nama Pak Trian jatuh dari saku saya. Saat saya mengambilnya, saya sadar bahwa alamat di kartu nama tersebut sama dengan alamat pelanggan misterius saya.

Saya coba merangkai kejadian satu persatu serta sikap Pak Trian kepada saya. Akhirnya saya berani menyimpulkan bahwa Pak Trian adalah orang yang sama dengan pelanggan misterius saya. Tiba-tiba tumbuh rasa aneh dalam diri saya yang membuat saya tidak dapat tidur malam itu. Sosok Pak Trian membayangi pikiran saya.

Esoknya saya datang lagi ke kantor Pak Trian sambil membawa 24 boneka pesanannya dan ia terkejut melihat kedatangan saya yang tiba-tiba. Tetapi akhirnya ia mengerti saat saya menunjukkan alamat di kartu namanya dengan alamat pemesan boneka yang sama persis.

Ia sengaja memesan boneka setiap tanggal 24 karena istrinya meninggal di bulan Maret pada tanggal tersebut. Untuk memperingati kematian istrinya, ia membeli boneka beruang sebanyak 24 buah setiap tanggal 24 karena istrinya sangat menyukai boneka. Boneka-boneka itu kemudian diberikan ke beberapa panti asuhan perempuan beserta pakaian-pakaian yang layak.

Dari sanalah kami mulai dekat. Perbedaan usia kami yang lumayan jauh dan statusnya yang duda tidak membuat saya mundur. Bahkan saya sudah menjadi istrinya dan kami berjuang untuk mengembangkan bisnis bersama-sama.

Begitulah kisah menarik tingkah-tingkah pria yang membuat wanita geleng-geleng kepala. Tulisan ini diceritakan ulang oleh penulis yang berasal dari kisah nyata para wanita di luar sana. Jika merasa, berarti itu memang benar anda!