Mohon tunggu...
Zofrano Sultani
Zofrano Sultani Mohon Tunggu... Ilmuwan - Historian, Researcher, Research Consultant, and Social Observer

Follow my Instagram: zofranoims12. The researcher has an interest in the fields of East Asian History, South Asian History, and the History of International Relations. and International Political Economy. He is an alumnus Bachelor of Arts in History degree currently pursuing postgraduate in the field of socio-politics with a hobby of reading books, watching movies, listening to music, and foodies. Education level has taken: Private Kindergarten of Yasporbi II Jakarta (1998-1999), Private Elementary School of Yasporbi III Jakarta (2000-2006), Public Junior High School 41 Jakarta (2006-2009), Private Senior High School of Suluh Jakarta (2009-2012), and Department of History, Faculty of Social Sciences, State University of Malang (2012-2019). He has the full name Zofrano Ibrahimsyah Magribi Sultani.

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

"Raya and The Last Dragon" dan Relevansi Kebudayaan Asia Tenggara

28 Mei 2021   01:36 Diperbarui: 19 Juli 2021   13:46 599 8 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Raya and The Last Dragon" dan Relevansi Kebudayaan Asia Tenggara
Poster Film Raya and the Last Dragon. (Sumber: https://21cineplex.com/)

Raya and the Last Dragon merupakan film produksi Walt Disney Pictures yang rilis pada tanggal 3 Maret 2021 di Indonesia dan 5 Maret 2021 di Amerika Serikat. Film ini disutradarai Don Hall dan Carlos Lpez Estrada. Naskah film ini ditulis oleh Qui Nguyen dan Adele Lim. Film ini dibintangi oleh Kelly Marie Tran dan Awkwafina (Nora Lum). Awkwafina (Nora Lum) merupakan aktor yang pernah bermain di film Ocean 8 (2018). Film Raya and the Last Dragon awalnya dijadwalkan akan ditayangkan pada 25 November 2020 di Amerika Serikat (AS). Namun, dengan adanya pandemi COVID-19 dan banyaknya film yang dijadwalkan ulang pada akhir tahun 2020 maka Walt Disney Pictures menunda penayangannya hingga 12 Maret 2021 (Radulovic, 2021).

Film ini merupakan film yang diproduksi Walt Disney Pictures setelah Mulan (2020), Frozen II (2019), Ralph Breaks the Internet (2018), Moana (2016), dan Zootopia (2016) memperoleh pendapatan box office sebesar 91,8 juta dollar Amerika Serikat. Raya and the Last Dragon diproduksi oleh Walt Disney Pictures (WDP) berusaha menggambarkan kebudayaan dan masyarakat Asia Tenggara. Tapi, pertanyaan penulis adalah mungkinkah ini juga menghentikan identitas "Asia" sebagai sebuah kategorisasi budaya yang dominasi budaya Eropa-Amerika?.

Sebagai kata sifat yang berlaku untuk 60% populasi dunia, dari Palestina hingga India, Cina, dan Jepang, kata "Asia" tidak sesuai untuk tujuannya sebagai kebudayaan. Mengapa begitu? karena Asia identik sebagai unit geopolitik yang digambarkan oleh bangsa Barat sejak kolonialisme dan imperialisme sebagai bangsa minor. Pada film Raya dan the Last Dragon menggambarkan betapa tidak membantu deskripsi itu bisa menggambarkan kebudayaan Asia Tenggara secara utuh. Hal itu diatur dalam dunia fiksi Kumandra, yang sangat Asia Tenggara. Seniman Walt Disney meneliti budaya di seluruh wilayah Asia Tenggara seperti Vietnam, Laos, Kamboja, Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Karya itu berusaha menampilkan kebudayaan dan masyarakat Asia Tenggara yang tercermin dalam detail visual film yang sangat teliti yaitu arsitektur, lanskap, makanan, persenjataan, kostum, dan warna. Bagi orang non Asia, setidaknya, hal itu tampaknya dilakukan dengan rajin dan penuh hormat di dalam penggambaran kebudayaan Asia melalui film oleh Walt Disney Pictures yang selama ini film produksi mereka dominan mengangkat tema budaya Hispanik (Amerika Tengah-Selatan dan Spanyol), Eropa, Indian Amerika, dan Amerika. Baru pada bulan Desember 2016, Walt Disney Pictures mengangkat tema budaya Oseania/Pasifik melalui Moana (2016).

Film ini menampilkan pengisi suara yang penuh dengan selebriti Asia-Amerika seperti Awkwafina (Nora Lum), Sandra Oh, dan Gemma Chan. Ada yang perlu dikritisi dari film ini bahwa sebagian besar peran pembicara utama diberikan kepada pemeran yang berasal Asia Timur. Namun, yang luput dari perspektif orang non Eropa-Amerika terhadap film animasi Raya menunjukkan bahwa Kelly Marie Tran adalah salah satu dari sedikit aktor Asia Tenggara yang memerankan Raya dalam film animasi buatan Walt Disney Pictures (WDP). Dari masalah tersebut, jelas kebudayaan Asia tidak bisa digambarkan secara satu frame pada film ini, karena memang Asia itu beraneka ragam mulai dari Arabia, Turki-Levant, Indian, Mongolian, Persian, Sino-Tibetan, Melayu-Austronesian, hingga Papua-Austromelanesian.

Namun, orang luar Asia melihat Asia itu Asia Timur, Asia Barat, dan Asia Selatan dari segi geografi, ekonomi, politik, budaya, film, dan agama. Jadi, Asia Tenggara sangat kurang menonjol dalam membentuk perspektif orang luar Asia terhadap identitas ke-Asia-an Segi geografi, Asia Timur meliputi Mongolia, Korea Utara, Korea Selatan, RRC, dan Jepang sedangkan Asia Selatan meliputi India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Afghanistan, Nepal, dan Bhutan. Untuk Asia Barat mencakup Turki, Yordania, Israel, Palestina, Lebanon, Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), Oman, Yaman, Qatar, Irak, dan Iran  Dari segi agama, Asia Barat diwakilkan oleh masyarakat yang mayoritas beragama Islam, Asia Selatan didominasi oleh penduduk beragama Hindu, dan Asia Timur didominasi penduduk yang mayoritas beragama Konfusianisme (Konghucu) dan Buddha.

Sementara itu, dari sisi ekonomi, sejak 1990an hingga 2017, Asia Timur menyumbangkan pertumbuhan pendapatan perkapita global dari 3,54% (1990)-4,051% (2017) meliputi Republik Rakyat Cina, Hongkong, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan (World Bank, 2018). Dari sisi politik, Asia Timur lebih menonjol di dalam membangun kerja sama multilateral melalui IIAB (Infrastructure International Asian Bank) (Cina) dan ADB (Asian Development Bank) (Jepang). Dari segi budaya, pengaruh Indianisasi, Islamisasi, dan Cinanisasi di dalam kuliner Asia sangat menonjol seperti kari, nasi kebuli, mie, bakso, dan lain-lain. Di sisi film, produksi film lebih banyak dilakukan oleh Bollywood dari India, Cina melalui Meteor Garden, Korea Selatan melalui Korea Drama (K-Drama), Jepang melalui Anime dan Hentainya. Aktor Asia Tenggara juga sangat kurang di Hollywood, sehingga ini juga menjadi kekurangan Raya and the Last Dragon di dalam menonjolkan kebudayaan Asia Tenggara. Satu surat terbuka untuk Disney dari universitas di California (dalam Rose, 2021) menolak Raya sebagai bukan representasi nyata kebudayaan Asia Tenggara.


"... as you join us today from Indonesia, we have a small favour to ask to provide high-impact reporting that can counter misinformation and offer an authoritative, trustworthy source of news for everyone. With no shareholders or billionaire owner, we set our own agenda and provide truth-seeking journalism that's free from commercial and political influence...

We aim to offer readers a comprehensive, international perspective on critical events shaping our world from the Black Lives Matter movement, to the new American administration, Brexit, and the world's slow emergence from a global pandemic. We are committed to upholding our reputation for urgent, powerful reporting on the climate emergency, and made the decision to reject advertising from fossil fuel companies, divest from the oil and gas industries, and set a course to achieve net zero emissions by 2030 (Rose, 2021)".

Diego Luna, Oscar campaign manager (dalam Silva, 2021) mengomentari tentang film ini: "setiap negara di bawah Asia Tenggara sangat unik. Anda tidak bisa menghampiri kami dan mengatakan bahwa orang dari Thailand sama dengan orang dari Indonesia. Kami berbicara dalam bahasa yang berbeda dan memiliki kebiasaan yang berbeda". Berdasarkan perspektif antropologi, usaha Walt Disney Pictures melalui Raya and the Last Dragon sebagai budaya Asia Tenggara dinamakan monolithic Asian identity. Monolithic Asian identity adalah persepsi bahwa semua warga Asia sama saja dari budaya mana pun mereka berasal. Sementara Juliana Wijaya, ahli bahasa dari Center for Southeast Asian Studies University of California Los Angeles (UCLA) (dalam Dwiastono, Iman, & Wicaksana, 2021) mengatakan sebagian representasi talenta terwujud melalui kedua penulis scenario Raya and the Last Dragon, Qui Nguyen dan Adele Lim, yang sama-sama keturunan Asia Tenggara. Qui Nguyen dengan darah Vietnam, dan Adele Lim yang lahir dan besar di Malaysia.

Distorsi dan Wacana Kebudayaan pada Film Raya and the Last Dragon

Raya and the Last Dragon, merupakan persembahan terbaru Disney kepada penonton setianya untuk menghibur selama masa pandemi COVID-19. Film ini mengisahkan seorang gadis bernama Raya (Kelly Marie Tran) dari negeri Heart dalam upayanya untuk mengumpulkan permata naga yang retak akibat perebutan Talon, Sphine, Tail, dan Fang untuk menyelamatkan orang-orangnya dari Droon, si wabah yang benar-benar membuat penduduk negeri menjadi batu. Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Sisu (Awkwafina/Nora Lum), naga terakhir yang masih hidup melalui peribadatan dan penghormatan kepada arwah leluhur naga Kumandra di daerah Tail, yang menemaninya dalam perjalanannya.

Dengan makhluk seperti serangga pil raksasa bernama Tuktuk (Alan Tudyk), sebuah nama yang diambil dari transportasi di Thailand. Sebuah anggukan kepada becak otomatis eponim yang umum di Asia Tenggara, dan sahabat karib yang berbinar-binar  termasuk seorang penipu bayi bernama Little Noi (Thalia Mare Tran) dari wilayah Talon. Film ini beramai-ramai memanjakan mata mengenai kebudayaan dan sosial masyarakat Asia Tenggara melalui penamaan tokoh fiksi di film tersebut. Meskipun plotnya bergetar ke arah yang bisa diprediksi, pada akhirnya Raya and Last Dragon adalah kesenangan yang kaya akan budaya Asia Tenggara layak ditonton selama pandemi COVID-19.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x